Aktivis Kampus: Antara Prestasi Akademik dan Peran Sosial

Tak terasa, mahasiswa baru (maba) sudah lima bulan menjalani masa kuliah. Selama ini pula maba dihadapkan dua pilihan. Pilihan pertama, konsentrasi total menyelesaikan kuliah tepat waktu. Dengan mengabaikan segala bentuk tawaran untuk aktif di organisasi intra dan ekstra kampus. Mahasiswa tipe pertama tersebut dikategorikan mahasiswa “golongan putih”. Mahasiswa yang tidak memasuki organisasi intra dan ekstra kampus.
Pilihan kedua, serius kuliah dengan tetap memilih untuk aktif di organisasi intra dan ekstra kampus. Argumen yang dipakai, kampus adalah “kawah candradimuka”. Kampus adalah tempat mahasiswa untuk menempa diri, baik dari sisi akademis maupun pematangan kualitas personal. Kualitas personal yang memiliki kepekaan terhadap problem sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi di lingkungan sekitar dan bangsa. Sejarah membuktikan, mahasiswa yang memiliki kepekaan terhadap problem bangsa hanya dimiliki mahasiswa yang serius kuliah dan aktif di organisasi intra dan ekstra kampus.
Coba simak setiap perubahan yang terjadi di Indonesia, selalu diinisiasi dan digerakkan oleh mahasiswa aktivis. Motor penggerak kemerdekaan Indonesia 1945, digerakkan oleh mahasiswa bernama Soekarno. Soekarno muda tidak hanya berkutat pada buku-buku eksak di Technische Hoogeschool te Bandung (TH), yang sekarang lebih dikenal dengan nama Institut Teknologi Bandung. Tapi Soekarno muda juga aktif berguru pada tokoh-tokoh pergerakan dan aktif berdialog sesama aktivis mahasiswa.
Angkatan ’66, juga dipelopori oleh aktivis mahasiswa. Sosok seperti Soe Hok Gie, Arif Budiman, Sulastomo, Cosmas Batubara, dan lain-lain. Penggerak perubahan politik dan sosial tahun 1978 juga digerakkan oleh sosok seperti Hariman Siregar, Heri Akhmadi, Rizal Ramli, dan lain-lain.
Gerakan mahasiswa yang paling fenomenal terjadi pada 1998. Saat itu, rezim otoritarian Presiden Soeharto dipaksa mengundurkan diri karena tekanan demonstrasi yang menggema di seantero negeri. Tokoh mahasiswa seperti Budiman Sudjatmiko, Fahri Hamzah, Adian Napitupulu, dan lain-lain sukses menumbangkan Soeharto. Kini mereka ikut mewarnai perpolitikan nasional, dengan memasuki dunia politik praktis. Di sisi lain, ada aktivis 1998 yang tetap berada diluar pemerintahan seperti Faizal Assegaf, Ubedilah Badrun, dan lain-lain yang memilih di luar pemerintahan untuk menjaga “check and balance”.
Plus Minus Menjadi Aktivis
Apapun kegiatan dan perbuatan seseorang pasti berdampak plus minus, termasuk mahasiswa yang memilih jalur aktivis sebagai jalan hidupnya. Ada dua sisi positif (plus) jika mahasiswa tekun belajar sambil menjadi aktivis.
Pertama, berlatih memanajemen waktu. Dengan menjadi aktivis, mahasiswa dilatih untuk membagi waktu untuk mengembangkan diri saat kuliah. Belajar sungguh-sungguh semaksimal mungkin untuk mendapat nilai (indeks prestasi) terbaik. Di sisi lain, juga aktif di organisasi intra dan ekstra kampus untuk melatih kepekaan sosial terhadap problem yang dialami masyarakat.
Kedua, bisa mengaktualisasi kemampuan yang dimiliki. Dengan menjadi aktivis, baik itu di organisasi intra maupun di ekstra kampus. Jika memilih aktif di organisasi intra kampus, semisal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sebagai lembaga eksekutif, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) sebagai badan legislatif, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) untuk jurusan atau program studi. Juga bisa aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), semisal penerbitan media kampus, pecinta alam, seni, dan lain-lain.
Dengan aktif di lembaga-lembaga tersebut, mahasiswa akan lebih terasah kemampuan retorika, mengorganisasi, memecahkan masalah, dan memperdalam minat dan bakat yang dimiliki. Di kemudian hari nanti, jika mahasiswa tersebut sudah lulus dan berkiprah di masyarakat akan lebih mudah beradaptasi dengan kehidupan. Tidak gagap, menjadi responsif dan lihai memecahkan masalah.
Jika memilih aktif di organisasi ekstra kampus ada banyak pilihan. Mahasiswa baru bisa memilih Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pergerakan Mahasiswa Islam (PMII), dan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI). Pilihan lain, juga bisa memasuki Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dan masih banyak lagi organisasi ekstra kampus lainnya.
Jika kita menyimak latar belakang tokoh di negeri ini, nyaris tidak ada yang tidak menjadi alumni dari organisasi ekstra kampus. Bahkan, sebagian besar yang menduduki kursi ketua BEM, DPM, HMJ, dan lain-lain adalah kader organisasi ekstra kampus. Makanya ada adagium “Jika tidak aktif di organisasi ekstra kampus, bukan bisa dipakai di mana-mana, tapi justru tidak bisa dipakai di mana-mana”.
Sisi minus menjadi aktivis nyaris tidak ada. Kalaupun ada aktivis kampus yang kuliahnya lama dan nyaris di-drop out (DO), itu bukan karena dia menjadi aktivis kampus. Tapi karena aktivis tersebut tidak bisa memanajemen waktu dengan baik. Tidak bisa membagi waktu kapan harus belajar dan kapan kumpul sesama aktivis untuk membuat suatu kegiatan dan aksi.
Jadi, jangan ragu menjadi aktivis. Negara membutuhkan mahasiswa yang pandai secara akademik dan memiliki kepekaan terhadap problem yang dihadapi masyarakat dan bangsanya. (*)
Ditulis oleh: Rifqi Aunur Rahman
(Mahasiswa S1 Program Studi Ilmu Hukum UHO)







Memang benar apa yang sudah d tuliskan itu…semua tergantung kepada yang menjalankan ..karena sesuatu yang kita kerjakan ada nilai plus dan minus,namun sebelum memutuskan harus ada pertimbangan yang matang dan mantap karena kita tidak hidup sendiri ada” Hati” yang harus di ingat agar tidak terluka terhadap apa yang kita putuskan,karena harapan mereka kuliah adalah untuk melihat anaknya sukses dan mendapatkan kehidupan yang terbaik fersi mereka .pada umumnya stigma bahwa kuliah untuk mendapatkan pekerjaan.harapan mereka kuliah selesai dengan tepat waktu membuat mereka Bahagia.
Kuliah yang rajin untuk mendapatkan nilai akademik terbaik dan aktif berorganisasi adalah dua hal yang seharusnya berjalan beriringan dan saling melengkapi. Rajin kuliah saja akan melemahkan membangun jaringan dan koneksi. Fokus berorganisasi saja beresiko mendapat nilai jelek bahkan bisa di DO.
Terima kasih sarannya…🙏
Kuliah yang rajin untuk mendapatkan nilai akademik terbaik dan aktif berorganisasi adalah dua hal yang seharusnya berjalan beriringan dan saling melengkapi. Rajin kuliah saja akan melemahkan membangun jaringan dan koneksi. Fokus berorganisasi saja beresiko mendapat nilai jelek bahkan bisa di DO.
Terima kasih sarannya…🙏