Smelter PT Ifishdeco Gagal, DPRD Sultra Soroti Dugaan Akal-akalan Peroleh Kuota Ekspor
KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Wacana pembangunan smelter PT Ifishdeco di Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel), Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami kemunduran yang signifikan, sehingga proyek tersebut dinyatakan mangkrak.
Masalah ini menimbulkan berbagai pertanyaan mengenai kelanjutan proyek serta dampaknya terhadap ekonomi daerah dan masyarakat setempat.
Komisi III DPRD Sultra dalam kunjungan kerjanya beberapa waktu lalu, temukan kondisi pembangunan pabrik pemurnian nikel PT Ifishdeco dalam kondisi yang tak wajar.
Diketahui, PT Ifishdeco telah menggelontorkan dana hingga Rp350 miliar untuk pembangunan smelter, namun hingga kini proyeksi pembangunan tersebut belum memperlihatkan keseriusan perusahaan.
Alasan mangkraknya pembangunan smelter itu, kata Sulaeha, menurut pihak PT Ifishdeco karena peralatannya sudah ketinggalan zaman.
“Mereka sudah tidak bisa gunakan alat-alat itu karena ketinggalan zaman dan memerlukan biaya banyak. Setelah dihitung-hitung secara ekonomis mereka akan rugi jika masih gunakan alat itu,” kata Suleha Sanusi.
Lebih lanjut, pemasangan alat-alat dalam pembangunan smelter PT Ifishdeco itu dilakukan oleh tenaga kerja China dan Taiwan namun terhenti karena adanya demonstrasi penolakan warga negara asing saat pandemi Covid-19 beberapa waktu lalu.
Meski demikian oleh PT Ifishdeco mengaku sempat melakukan dua kali ekspor ore nikel dengan menggunakan regulasi smelter yang ada.
“Jangan sampai ini hanya pembohongan publik, jangan sampai ini pura-pura membangun smelter untuk mendapatkan kuota ekspor,” beber politis PDI Perjuangan ini.
“Namun oleh manajemen PT Ifishdeco itu dijawab katanya mereka membangun smelter sebelum ada undang-undang terkait larangan ekspor,” sambungnya.
Mengenai masalah ini, DPRD Sultra akan melakukan pendalaman terhadap mangkraknya pembangunan smelter PT Ifishdeco tersebut. Terlebih lagi perusahaan ini masih melakukan penjualan ore nikel dengan laba tercatat setiap bulannya hingga Rp100 miliar.
“Iya mereka masih menjual mereka, ini ada laba bersih sampai Rp100 miliar,” urainya.
Untuk diketahui kunjungan kerja dan monitoring Komisi III DPRD Sultra ke PT Ifishdeco sebagai tindak lanjut dari aspirasi yang disampaikan oleh aspirator beberapa waktu lalu. (cds)
Reporter: Sunarto
Editor: Biyan







