Produktivitas dan Kualitas Jadi Masalah dalam Pengembangan Kopi Robusta di Sultra

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Produktivitas hingga kualitas pascapanen menjadi permasalahan dalam pengembangan kopi Robusta di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Permasalahan ini berdasarkan data tantangan dan peluang pengembangan komoditi perkebunan dari Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra.
Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sultra, La Ode Muhammad Rusdin Jaya mengatakan, terdapat sejumlah permasalahan tanaman kopi di Sultra.
Permasalahan tersebut diantaranya terkait dengan produktivitas rendah baru mencapai 471 kilogram per hektare, ini sangat kecil dibanding rata-rata nasional sebesar 832 kilogram per hektare.
Petani juga belum mampu menerapkan Good Good Agricultural Practices (GAP) dengan baik untuk pelaksanaannya mulai dari benih unggul, pengolahan, pupuk sampai hama dan penyakit.
“Selanjutnya, terkait serangan Organisme Penggangu Tumbuhan (OPT), terutama karat daun, kutu putih dan penggerek buah kopi. Perubahan iklim (elnino, lanina). Penanganan pasca panen belum dilaksanakan dengan baik sehingga kualitas produk rendah,” katanya, Kamis (31//7/2025).
Lebih lanjut, masalah lainnya yakni terkait dengan kelembagaan dan kemitraan petani yang belum optimal. Pekebun kopi belum memiliki Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan untuk Budidaya (STD-B).
Keterbatasan pengetahuan petani akan akses pasar, serta kurangnya promosi serta peluang akses pasar dari petani langsung ke konsumen.
Baca Juga : Dorong Ekspor Kopi Tolaki, BI Sultra Jalin Kerja Sama dengan Pemkab Konsel dan LPEI
“Masalah ini juga terkait terdistori oleh ketiadaan jaminan mutu di mana produk-produk yang dijual kerap mendompleng nama kopi-kopi yang terkenal kualitas dan kenikmatannya,” ungkapnya.
Rusdin menyampaikan dari masalah tersebut, produktivitas ini perlu ditingkatkan melalui teknologi pertanian dan peremajaan tanaman.
Perlunya peningkatan infrastruktur mulai dari jalan, irigasi dan fasilitas lainnya. Sedangkan bagi para petani membutuhkan pelatihan budidaya modern.
Pemerintah provinsi nantinya akan mendorong peremajaan tanaman kopi dan penyediaan bibit unggul. Pentingnya juga pelatihan petani dalam teknik budidaya dan pengolahan pascapanen. Penguatan koperasi dan akses pembiayaan untuk mendukung rantai nilai kopi.
“Kami juga akan mendorong promosi kopi lokal melalui festival, branding geografis (misalnya “Kopi Konawe Selatan”), dan kemitraan dengan pelaku industri kopi nasional,” pungkasnya. (bds)
Reporter: Muh Ridwan Kadir
Editor: Wulan







