HeadlineOpini

Polemik Statemen Gubernur Sultra Vs Jurnalis Ditengah Pandemi Global

PLAY

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Menelik perkembangan sosial media beberapa hari terakhir ditengah Covid -19 yang menimbulkan banyaknya selisih paham antara pemerintah daerah dengan pihak jurnalis.

Dalam pemerintahan seharusnya pemimpin memberikan statement yang menyejukkan dan menyampaikan sesuatu dengan cara yang edukatif dan elegan, karena pemimpin itu pengayom dan pelindung masyarakat tanpa ada kesan memojokkan. Apalagi menimbulkan multitafsir ditengah masyarakat.

Seharusnya gubernur menyampaikan statement agar publik dapat memahami apa yang dibahasakan, karena esensi dari pemegang amanah sebagai pemegang kepercayaan, melalui kepercayaan harusnya memberikan kesejukan kepada masyarakat.
Sedangkan wartawan apa yang dia dapat, itu juga yang dia muat sesuai realitas dilapangan.

Disini seharusnya bapak gubernur memberikan statement yang menyejukkan tanpa menyudutkan salah satu pihak. Agar masyarakat tahu bahwa pemimpin kita itu arif dan bijaksana, bukan pemimpin yang emosional karena akan berdampak pada penilaian bahwa pemimpin daerah kita tidak sanggup memberikan iklim yang kondusif, melalui kondusifitas pasti masyarakat memperoleh kedamaian dan kenyamanan.

Dengan demikian, pemerintah juga agar lebih fokus dalam merealisasikan program kepemimpinannya itulah esensinya.

Sekarang bagaimana pemerintahan kita dapat menciptakan good governance kalau pemerintah kita memberikan statement yang tidak mendidik, karena wartawan juga sudah melakukan tugasnya yaitu meliput pemberitaan dengan realitas yang ada.

Demokrasi kita pasti ada kritikan, tentunya dengan kepemimpinan yang demokratis harusnya pak gubernur tidak alergi dengan penyampaian pemberitaan, bahkan seharusnya bapak gubernur lebih mawas diri dan evaluasi diri agar lebih tahu diri bahwa saya ini adalah pemegang amanah dan harus menjaga kondusifitas di jazirah sulawesi tenggara.

Kritikan yang konstruktif justru mengantarkan kita kearah yang lebih baik, bapak gubernur tidak boleh tabu menanggapi demokrasi kita. Berarti disini ada kekeliruan dari kekeliruan itu harusnya melahirkan instropeksi yang menyejukkan.

Jabatan itu tempatnya kritikan, alam demokrasi kita adalah menerima kritikan dengan menganggap kritikan itu sebagai sharing dan harapan lebih baik lagi kedepannya.

Penulis: Arsan Arsyad, Eks BEM Unsultra/Wakil ketua bidang OKK Pekat IB.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button