Opini

Menjaga Persatuan di Tengah Isu Perpecahan Anak Bangsa Sebuah catatan “Film Pesta Babi”

Dengarkan

 

Menjaga Persatuan di Tengah Isu Perpecahan Anak Bangsa
Sebuah catatan “Film Pesta Babi”:

Oleh : Amijaya Kamaluddin

Dari Judul Film Yang sangan antagonis di jadikan judul film,  bagi yang rendah IQ nya akan tergoncang apalagi pasca menonton filmnya rasanya kita baru berada di tengah dunia yang semakin suram!. Film “Pesta Babi” di giring untuk Nobar agar semua lapisan masyarakat dapat terjangkau pesan yang ingin di sampaikan, sampe sampe kegiatan  Nobar film “Pesta Babi” hampir diseluruh propinsi dan kabupaten kota mau disiarkan bagai ideologi baru.

Ada apa dengan Film ini sehingga belakangan ini, publik digegerkan dengan peristiwa pembubaran acara nonton bareng (nobar) film “Pesta Babi” oleh aparat keamanan. Isu yang berkembang tidak hanya sebatas kontroversi film, tetapi merambah ke dugaan adanya pihak asing di balik sponsor acara tersebut. Tujuannya diduga untuk mengadudomba masyarakat, khususnya dengan mengangkat narasi penjajahan atas hak pengelolaan tanah adat, dan membenturkannya dengan propaganda Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikaitkan dengan ketahanan pangan dan energi. Situasi ini tentu sangat sensitif dan berpotensi memicu disintegrasi bangsa, terutama jika dikaitkan dengan isu Papua. Lalu, bagaimana sebaiknya kita menyikapi hal ini dengan kepala dingin dan hati yang cinta tanah air?

Memahami Akar Masalah: Lebih dari Sekadar Film

Pertama, kita harus memahami bahwa persoalan ini tidak sederhana. Film “Pesta Babi” mungkin hanya pemantik. Yang lebih fundamental adalah isu-isu lama yang belum terselesaikan dengan baik: hak kelola masyarakat adat, kesenjangan ekonomi di wilayah timur Indonesia, dan kecurigaan terhadap proyek-proyek besar pemerintah yang sering dianggap tidak berpihak pada rakyat kecil.

Pihak asing yang disebut-sepuh mendanai acara ini, jika benar, tentu memiliki agenda. Mereka tahu persis bahwa isu tanah adat dan ketidakadilan adalah isu yang sangat emosional dan mudah memecah belah. Dengan menyusupkan dana untuk nobar film, mereka berharap bisa menyalakan api ketidakpuasan menjadi gerakan yang lebih besar. Ini adalah bentuk perang asimetris, di mana musuh tidak menggunakan senjata, tetapi menggunakan ide, uang, dan propaganda untuk merusak dari dalam.

Narasi yang mereka bangun adalah: “Orang Papua dijajah oleh Indonesia, tanah mereka dirampas untuk proyek PSN yang menguntungkan Jawa, sementara rakyat lokal kelaparan dan kehilangan hak adat.” Narasi ini sangat kuat karena menyentuh tiga sentimen utama: penjajahan (luka sejarah), ketidakadilan ekonomi, dan hilangnya identitas budaya.

Jangan Terjebak Emosi: Bedakan Fakta dan Provokasi

Sebagai masyarakat umum, hal pertama yang harus kita lakukan adalah tidak mudah terprovokasi. Ketika mendengar berita tentang pembubaran nobar atau tuduhan sponsor asing, kita cenderung langsung marah, baik kepada aparat, pemerintah, atau malah kepada pihak asing tersebut. Kemarahan yang tidak terkendali justru yang diinginkan oleh provokator.

Mari kita bedakan:

Sebagai Fakta yang terlihat: Ada nobar film “Pesta Babi”. Aparat membubarkannya dengan alasan keamanan dan ketertiban.

Yang Pertama bahwa Isu yang belum tentu kebenarannya sepenuhnya: Siapa sponsor asingnya? Berapa besar donasinya? Apakah benar tujuannya untuk mengadudomba? Apakah film itu secara eksplisit mengajak perlawanan terhadap PSN dan NKRI? Kita perlu menunggu hasil investigasi aparat yang transparan. Jangan langsung percaya dengan informasi simpang-siur di media sosial.

Yang kedua, jangan biarkan isu ini memecah kita menjadi dua kubu yang saling membenci: kubu yang membela aparat dan pemerintah secara membabi buta, serta kubu yang langsung mengkritik habis-habisan dengan narasi “Indonesia penjajah”. Kedua sikap ekstrem ini sama-sama berbahaya.

Menyikapi Isu Papua dengan Hati yang sejuk sebagai mana yang kita ketahui bahwa isu Papua adalah isu yang sangat sensitif. Sejarah kelam masa lalu, seperti peristiwa yang menimbulkan luka kolektif, memang tidak bisa dilupakan begitu saja. Namun, kita juga tidak bisa membiarkan luka itu terus dimanfaatkan oleh pihak asing untuk memisahkan diri.

Penting bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk memahami bahwa:

  1. Orang Papua adalah saudara kita. Mereka tidak ingin dijajah oleh siapa pun, baik oleh asing maupun oleh saudara mereka sendiri dari Jawa, Sumatera, atau Sulawesi. Yang mereka inginkan adalah keadilan, kesejahteraan, dan pengakuan atas martabat serta hak adat mereka.
  2. Pemerintah saat ini memiliki komitmen untuk membangun Papua. Banyak proyek infrastruktur, beasiswa pendidikan, dan program kesehatan yang digelontorkan. Sayangnya, seringkali informasi ini tidak sampai atau dianggap sebagai “pembangunan yang tidak berpihak”. Kita perlu mengakui bahwa ada celah komunikasi yang lebar antara pemerintah dan masyarakat akar rumput di Papua.
  3. PSN untuk ketahanan pangan dan energi bukanlah proyek jahat. Konsepnya adalah untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia, termasuk rakyat Papua. Namun, cara implementasinya di lapangan harus benar-benar adil. Masyarakat adat harus dilibatkan, hak-hak mereka diakomodir, dan kompensasi yang layak diberikan. Jika ada proyek PSN yang merugikan rakyat kecil, itu adalah kesalahan prosedur, bukan kesalahan konsep bangsa.

Mencegah Disintegrasi

Sejatinya kejadian seperti ini tidak berujung pada perpecahan, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan sebagai masyarakat sipil:

Pertama, kita selalu aktif menyuarakan keadilan untuk warga bangsa. Sebarkan informasi yang sudah terverifikasi. Jika ada yang menyebarkan narasi kebencian di grup Whats App atau media sosial, jangan hanya diam. Klarifikasi dengan santun, atau laporkan ke pihak berwenang. Lawan hoaks dengan fakta.

Kedua, diperlukan dorongan kearah  dialog untuk menyatukan anak bangsa, bukan membenturkan. Alih-alih membubarkan nobar dengan kekerasan (kecuali sudah terbukti menghasut pemberontakan), seharusnya ada ruang dialog. Mengapa film “Pesta Babi” harus ditonton? Apa keluhan sebenarnya di balik itu? Aparat dan tokoh masyarakat bisa mengunduh perwakilan penggiat nobar untuk berdialog. Dengan mendengarkan, kita bisa memisahkan mana aspirasi tulus masyarakat adat, mana yang sudah dibajak oleh agen asing.

Ketiga, perkuat literasi kebangsaan. Kita harus terus menanamkan kepada generasi muda bahwa NKRI adalah harga mati. Perbedaan pendapat dan kritik terhadap pemerintah itu wajar dalam demokrasi. Namun, kritik tidak boleh berubah menjadi hasutan untuk membenci bangsa sendiri. Kisah sukses para pemuda Papua yang berprestasi, atlet, akademisi, dan seniman harus terus digaungkan.

Keempat, tekan pemerintah untuk transparan dan adil. Masyarakat juga harus kritis. Jika benar ada sponsor asing yang nakal, mereka harus diusut dan diberi sanksi. Namun, jika aspirasi masyarakat adat tentang tanah dan PSN itu valid, pemerintah harus mendengarkan. Hukum harus ditegakkan secara adil. Jangan sampai aparat hanya membubarkan nobar, tetapi tidak menindak oknum pejabat yang mungkin telah merampas hak tanah adat.

Indonesia Kuat Karena Bersatu

Dengan kasus “Nobar Film Pesta Babi” adalah ujian bagi ketahanan nasional kita. Pihak asing ingin melihat kita terpecah. Mereka ingin rakyat Papua merasa dijajah, dan rakyat non-Papua merasa tidak dipercaya. Jika kita saling curiga dan saling serang, maka kita telah kalah sebelum berperang.

Sikap yang paling bijak adalah tetap tenang, berpegang pada fakta, mengutamakan dialog, dan memperkuat rasa persaudaraan. Ingatlah bahwa rakyat Papua juga ingin hidup damai dan sejahtera. Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa keinginan itu terwujud dalam bingkai NKRI, bukan dengan menjadi boneka asing yang hanya ingin menghancurkan Indonesia.

Akhir kata, jangan biarkan setetes air didonasikan asing, menguap menjadi kabut kebencian, lalu jatuh menjadi badai disintegrasi. Tetaplah bersatu, karena hanya dengan persatuan, Indonesia akan terus berdiri tegak sebagai bangsa yang besar. Kita tidak anti-kritik, tapi kita anti-perpecahan. Kita bukan anti-perubahan, tapi kita anti-penjajahan dalam bentuk apa pun. Jayalah Indonesiaku.

Facebook Komentar

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button