*Upaya Mereduplikasi Sosok Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto*
Tiyo Ardianto dalam beberapa hari terakhir menjadi sosok perhatian publik. Itu bermula ketika Ketua BEM UGM memplesetkan MBG (Makan Bergizi Gratis) menjadi Maling Berkedok Gizi. Respon publik pun terpecah menyikapi pernyataan mahasiswa fakultas filsafat UGM tersebut.
Pihak yang mendukung pernyataan Tiyo Ardianto berpendapat bahwa kebebasan berpendapat dijamin UUD 1945. Itu adalah kontrol dari elemen mahasiswa yang merespon kematian bunuh diri siswa SD di pedalaman Nusa Tenggara Timur karena ketidakmampuan membeli balpoin dan buku tulis. Tiyo Ardianto sampai bersurat ke Unicef mengeluhkan kejadian tersebut. Dukungan pun datang dari banyak pihak, termasuk dari sosok sekaliber Mahmud MD. Mantan Menko Polhukam dan mantan cawapres Pilpres 2024.
Pihak yang menolak aksi Tiyo Ardianto juga tidak kalah banyak. Dari internal elemen mahasiswa ada LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi) yang melontarkan kritik keras. Sekretaris Jenderal LMND menilai BEM UGM telah mempolitisasi tragedi kemanusiaan meninggalnya seorang siswa SD di Ngada yang diduga mengakhiri hidup akibat tekanan ekonomi keluarga untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi juga merespon kritikan Tiyo Ardianto. Menteri yang juga alumni UGM itu mengingatkan agar kritik kepada pemerintah disampaikan dengan bahasa yang baik dan sopan. Hindarilah menggunakan kata-kata yang tidak sopan atau kurang baik.
Sejak kritik Tiyo Ardianto tentang MBG dan menyebut Presiden Prabowo bodoh, dugaan teror mengarah pada Tiyo Ardianto dan jajaran pengurus BEM lainnya. Bahkan teror juga mengarah pada orang tua pengurus BEM UGM. Pembunuhan karakter juga terarah pada Tiyo Ardianto. Mulai dari dugaan penggelapan dana kampus, penganut LGBT, sampai masa lalu riwayat pendidikan menengah Tiyo ikut dikuliti. Hanya karena Tiyo Ardianto lulusan Paket C.
Padahal, PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) Omah Donggeng Marwah tempat Tiyo Ardianto belajar adalah PKBM berkelas. Didirikan mantan aktivis ’98 Hasan Aoni Aziz bersama aktivis sosial, lingkungan, jurnalis, guru, dan mahasiswa.
*Menyatukan Aliansi BEM*
Terlepas dari segala kontroversi pernyataan Tiyo Ardianto, kemunculannya di panggung pemberitaan nasional memunculkan secercah harapan tentang perlunya kehadiran sosok seperti Tiyo Ardianto di banyak tempat. Sosok anak muda yang berbobot secara intelektual, berani, dan tanpa ragu menyuarakan kepentingan publik. Walaupun dengan risiko menghadapi teror yang bisa mengancam keselamatan jiwanya. Tiyo Ardianto bisa menjadi role model Ketua BEM yang mumpuni secara intelektual dan retorika.
Jika dirunut ke belakang, sudah sejak lama lembaga intra kampus semisal, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) tidak melahirkan sosok intelektual yang berani menyuarakan kebenaran tentang permasalahan ekonomi, sosial, dan politik.
Hal tersebut disebabkan dua hal. Pertama, sikap apatis sebagian -besar- mahasiswa terhadap problem kebangsaan. Sikap individualisme di kalangan mahasiswa semakin menguat. Kebanyakan mahasiswa cenderung ingin cepat-cepat menyelesaikan mata kuliah, mendapatkan indeks prestasi (IP) terbaik, menjadi lulusan tercepat, dan berkarier di BUMN atau menjadi PNS.
Tentu, tidak ada yang salah dari rentetan keinginan tersebut. Tetapi jika mayoritas mahasiswa, terlebih mahasiswa yang duduk dijajaran pengurus BEM dan DPM mempunyai pola pikir apatis, masa bodoh dan tidak ambil pusing dengan permasalahan ekonomi, sosial, dan politik, musibah akan menerpa bangsa ini. Karena lembaga perwakilan resmi (DPR dan DPD) nyaris terkooptasi dengan kekuasaan, media mainstream dikendalikan, tidak terjadi check and balance terhadap pemerintahan. Disaat situasi seperti ini, buah pikiran dan aksi mahasiswa menyikapi permasalahan bangsa menjadi tumpuan rakyat.
Kedua, terpecahnya aliansi BEM. Aliansi BEM SI Kerakyatan terpecah. Ditandai dengan keluarnya 4 BEM saat Munas XVIII bulan Juli 2025 di Padang yang dinilai disusupi kepentingan politik. Keempat BEM tersebut adalah BEM Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Universitas Sultan agung Semarang, dan Universitas Tanjungpura.
Sebelumnya, BEM SI Kerakyatan merupakan pecahan dari BEM SI. Perbedaan pandangan yang menyebabkan perpecahan aliansi BEM yang merupakan wadah konsolidasi BEM perguruan tinggi se-Indonesia tentu berpengaruh pada soliditas gerakan. Saling intip agenda kubu seberang tentu merupakan upaya yang tidak produktif dan melemahkan aksi yang membutuhkan kekompakan dan massa dalam jumlah yang besar.
Dengan kondisi seperti itu, mereduplikasi sosok Tiyo Ardianto adalah suatu keharusan. Mencetak sebanyak mungkin sosok seperti Tiyo Ardianto harus lahir dari pengurus BEM di tempat lain. Pengurus BEM yang punya semangat belajar untuk meningkatkan kualitas intelektual, punya keberanian, dan tanpa ragu membela kebenaran.
Upaya itu tentu akan lebih mudah dilakukan jika pengurus BEM bisa duduk bersama untuk menyatukan kembali aliansi BEM dalam satu wadah. Apapun itu nama aliansi nantinya. Jika upaya itu berhasil pengurus BEM bisa fokus menempa intelektualitas dan berkonsolidasi untuk merespon permasalahan ekonomi, sosial, dan politik di tingkat regional dan nasional.
Jika aliansi BEM bisa bersatu kembali, itu juga akan mengikis jumlah mahasiswa yang berpola pikir apatis terhadap problem kebangsaan.
Ke depannya, sekali lagi, perlu muncul sosok-sosok seperti Tiyo Ardianto di BEM di kota-kota lain. Pengurus BEM yang mempunyai kepekaan terhadap problem kebangsaan. Negara ini tidak akan bergerak ke arah yang lebih baik jika mahasiswa apatis. Kontrol yang bersifat konstruktif harus terus disuarakan demi kebaikan bangsa. Tentu, kritik tetap disampaikan dengan bahasa yang santun. Hindari penggunaan kata sarkasme, semisal bodoh, totol, dan dungu.
*Oleh: Rifqi Aunur Rahman*
*Penulis adalah Mahasiswa* *S1 Program Studi Ilmu* *Hukum Fakultas Hukum*
*Universitas Haluoleo Kendari*






