Isra’ Mi’raj dan Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam
Isra’ Mi’raj dan Pendidikan Karakter Dalam Perspektif Islam
(Tinjauan Tafsir dan Pendapat Ulama)
Peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang memiliki dimensi teologis, spiritual, dan edukatif. Dalam perspektif pendidikan Islam, Isra’ Mi’raj tidak hanya dipahami sebagai peristiwa sejarah, tetapi sebagai sumber nilai pembentukan karakter manusia. Hal ini dapat ditelusuri melalui dalil Al-Qur’an, hadits, tafsir para ulama, serta pandangan para cendekiawan Muslim.
1. Nilai Iman dan Keyakinan (Aqidah)
Allah SWT berfirman:
سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Terjemahnya: “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malamdari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa…” (QS. Al-Isra’: 1)
Menurut Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim, ayat ini menegaskan bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj adalah kejadian nyata yang terjadi dengan ruh dan jasad Rasulullah SAW sebagai bentuk kekuasaan Allah. Keimanan terhadap peristiwa ini menjadi ujian keimanan kaum Muslimin.
Sementara itu, Imam Al-Qurthubi menjelaskan bahwa penggunaan kata “Subhāna” di awal ayat ini menunjukkan bahwa keagungan Allah dan menegaskan pula bahwa peristiwa tersebut berada di luar batas kemampuan nalar manusia. Oleh karena itu, sikap beriman tanpa keraguan merupakan karakter utama yang harus ditanamkan melalui pendidikan Islam. Dalam konteks pendidikan, nilai iman ini penting untuk membentuk peserta didik yang memiliki keyakinan kuat, tidak mudah goyah oleh skeptisisme, dan mampu menempatkan wahyu sebagai sumber kebenaran.
2. Nilai Disiplin dan Tanggung Jawab melalui Shalat
Perintah shalat lima waktu ditetapkan secara langsung dalam peristiwa Isra’ Mi’raj. Sebagaima sabda Rasulullah SAW berikut:
الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ
Artinya:“Shalat adalah tiang agama…” (HR. Baihaqi)
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa shalat bukan hanya kewajiban ritual, tetapi sarana pendidikan jiwa (tarbiyah an-nafs). Shalat melatih kedisiplinan waktu, kekhusyukan, dan pengendalian diri, yang semuanya merupakan unsur penting dalam pendidikan karakter.
Senada dengan itu, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menyatakan bahwa shalat adalah “makanan ruh” yang menjaga stabilitas moral manusia. Pendidikan yang mengintegrasikan shalat akan menghasilkan pribadi yang bertanggung jawab, konsisten, dan berakhlak.
3. Nilai Kejujuran dan Keteladanan Akhlak
Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Terjemahnya: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.”
(QS. Al-Ahzab: 21)
Menurut Tafsir Ath-Thabari, ayat ini menegaskan bahwa seluruh perilaku Rasulullah SAW termasuk kejujurannya dalam menyampaikan peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan teladan utama bagi umat Islam. Meskipun menghadapi ejekan dan penolakan, Rasulullah SAW tetap menyampaikan kebenaran dengan penuh integritas.
Para ulama sepakat bahwa pendidikan Islam harus menjadikan akhlak Nabi sebagai pusat pembelajaran. KH. Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan Islam adalah tahdzibul akhlaq (pembentukan akhlak), bukan sekadar transfer ilmu.
4. Nilai Ketaatan dan Ketawadhuan
Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Terjemahnya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib menjelaskan bahwa ibadah merupakan puncak ketundukan manusia kepada Allah. Ketaatan Nabi Muhammad SAW dalam menerima perintah shalat menunjukkan ketawadhuan dan kepatuhan mutlak kepada Allah SWT.
Dalam pendidikan Islam, nilai ketaatan ini membentuk karakter rendah hati, patuh terhadap aturan, dan sadar akan tanggung jawab sebagai hamba Allah. Pendidikan tanpa landasan ketaatan, menurut para ulama, akan melahirkan kecerdasan yang kering dari nilai moral.
Berdasarkan tafsir Al-Qur’an dan pendapat para ulama dapat ditarik kesimpulan bahwa Isra’ Mi’raj mengandung nilai-nilai pendidikan karakter yang sangat komprehensif, meliputi iman, disiplin, kejujuran, tanggung jawab, ketaatan, dan akhlak mulia. Oleh karena itu, peristiwa Isra’ Mi’raj perlu diintegrasikan dalam pendidikan Islam sebagai sarana pembentukan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan moral.
Penulis: Aminudin, S. Ag.,MA (Dosen IAIN Kendari)






