PkM BIMA Universitas Muhammadiyah Kendari Sasar Guru SDN 1 Moramo

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Guru-guru SD Negeri 1 Moramo, Konawe Selatan, yang sehari-hari mengajar anak-anak dari keluarga petani, nelayan, dan sebagian dari keluarga penambang, akhirnya merasakan pelatihan pendidikan mutakhir setelah sekian lama jarang tersentuh program peningkatan kapasitas. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) BIMA Tahun 2025, dosen Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK) hadir memberikan pelatihan strategi deep learning untuk membantu guru menyusun modul ajar yang kontekstual dan menyenangkan.
Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Guru SD di Kawasan Pertambangan melalui Pelatihan Strategi Deep Learning untuk Pembelajaran yang Kontekstual dan Berkeadilan Epistemik” ini berlangsung selama empat hari, pada 2–3 September dan 9–10 September 2025. Program diketuai oleh Ririn Syahriani, S.Pd., M.Pd., bersama anggota tim Rahmawati dan Risnajayanti. Mitra kegiatan adalah SDN 1 Moramo, dipimpin oleh Kepala Sekolah Nursan, S.Pd., dengan peserta 9 guru ditambah kepala sekolah.
Sejak hari pertama, guru-guru menunjukkan antusiasme tinggi. Mereka belajar mengenal konsep deep learning yang disampaikan langsung oleh ketua tim, lalu mencoba mengaitkan strategi itu dengan kehidupan nyata siswa di Moramo.
Menurut Ririn Syahriani, motivasi tim menjalankan program ini lahir dari panggilan hati sebagai pendidik.
“Sebagai dosen, pengabdian adalah bagian dari catur dharma kami di UMK. Kami ingin memastikan bahwa ilmu yang kami miliki juga bermanfaat bagi guru dan siswa di pelosok. Kami sangat berterima kasih kepada Kementerian yang telah mendukung dan mendanai kegiatan ini,” ujarnya.
Antusiasme peserta menjadi catatan tersendiri bagi anggota tim. Rahmawati, salah satu dosen, menuturkan, sangat senang melihat semangat para guru. Meski dengan segala keterbatasan, mereka aktif bertanya, berdiskusi, bahkan langsung mencoba membuat modul ajar. Itu membuat kegiatan ini berjalan hangat dan menyenangkan.
Selama pelatihan, suasana kelas sederhana di SDN 1 Moramo terasa hidup. Guru-guru yang awalnya tampak ragu, perlahan berani mencoba membuat rancangan modul mereka sendiri. Keterbatasan sarana tak menyurutkan semangat mereka untuk berinovasi.
Strategi deep learning yang diperkenalkan bukan sekadar istilah teknologi, melainkan pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa berpikir kritis, memahami konsep secara mendalam, dan mampu mengaitkan pelajaran dengan pengalaman sehari-hari. Pendekatan ini diyakini dapat membuat anak-anak di Moramo lebih percaya diri menghadapi tantangan masa depan.
Mahasiswa juga dilibatkan dalam tim, terutama pada aspek teknis dan pendukung luaran program. Salah satunya, Hardianti, mengaku mendapat pengalaman berharga.
“Saya senang diberi kesempatan terlibat. Dari sini saya belajar langsung bagaimana dosen-dosen kami merancang dan menjalankan pengabdian masyarakat. Pengalaman ini berharga untuk bekal saya di masa depan,” tuturnya.
Namun, pelatihan ini juga menghadapi tantangan. Tidak adanya akses internet di sekolah membuat guru tidak bisa mengandalkan sumber belajar daring. Keterbatasan waktu pelatihan yang hanya empat hari juga membuat proses penyusunan modul ajar belum sepenuhnya rampung. Untuk mengatasi hal itu, tim dan guru sepakat membuat grup WhatsApp sebagai sarana pendampingan lanjutan.
Hingga kini, modul hasil pelatihan masih dalam tahap perbaikan. Guru-guru terus menyempurnakan perangkat ajar dengan bimbingan tim dosen. Luaran kegiatan ini juga diarahkan pada penulisan artikel jurnal ilmiah serta penerbitan modul ajar berbasis deep learning, yang saat ini masih dalam proses perampungan.
Kepala sekolah SDN 1 Moramo, Nursan, mengungkapkan rasa syukurnya.
“Sekolah kami jarang sekali mendapatkan kesempatan pelatihan. Kehadiran tim dosen membawa perubahan besar bagi kami. Harapan kami, pendampingan ini tidak berhenti di sini, tetapi bisa terus berlanjut,” ujarnya.
Para guru juga berharap kegiatan serupa bisa lebih sering dilakukan.
“Pelatihan ini membuat saya sadar betapa pentingnya mengajar dengan cara yang bermakna dan menyenangkan. Kami ingin kegiatan seperti ini rutin diadakan agar kami semakin percaya diri dalam mengajar,” kata Rum Tosepu, salah satu peserta.
Menutup kegiatan, Ririn Syahriani menegaskan kembali komitmen UMK.
“Kami berterima kasih kepada Kementerian yang sudah mempercayai kami melalui program ini. UMK akan terus mendukung program pemerintah, termasuk asta cita pendidikan, dengan cara yang paling dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kalau sekolah-sekolah di kota sudah banyak mendapat akses, tugas kami memastikan guru di kawasan seperti Moramo pun tidak tertinggal. Program ini sejalan dengan cita-cita kampus kami untuk hadir dan memberi manfaat nyata, terutama bagi sekolah-sekolah yang sering terlewatkan,” pungkasnya. (cds)
Reporter: Septi Syam
Editor: Wulan





