Sekolah Rakyat Kendari Terapkan Sistem Boarding, Tampung 50 Siswa Baru
KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Sekolah Rakyat Kendari secara resmi memulai tahun ajaran baru pada 14 Juli 2025 dengan rangkaian program khusus yang berbeda dari sekolah reguler. Sekolah ini menerapkan sistem boarding school dan kini telah memiliki 50 siswa.
Kepala Sekolah Rakyat Kendari, Ferdinand Nicholas Boonde, menyampaikan bahwa seluruh siswa terlebih dahulu mengikuti pemeriksaan kesehatan gratis sebelum menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung hingga 27 Juli 2025.
Ia juga menjelaskan bahwa sekolah melaksanakan program matrikulasi mulai 28 Juli hingga akhir September 2025. Program ini dirancang selama dua hingga tiga bulan karena seluruh siswa tinggal di asrama dengan sistem boarding school.
“Kami ingin memastikan adanya ikatan yang kuat antara guru, wali kelas, wali asuh, wali asrama, dan siswa. Tujuannya agar anak-anak terbiasa dengan kehidupan di asrama,” ujar Ferdinand pada Selasa (26/08/2025).
Selain pembinaan karakter, program matrikulasi juga bertujuan menyetarakan kemampuan akademik siswa. Hal ini penting karena sebagian besar siswa yang masuk merupakan anak-anak putus sekolah, dan ada pula yang masih mengalami kesulitan dalam membaca maupun menulis.
“Kami ingin memastikan bahwa sebelum pembelajaran formal dimulai pada 1 Oktober, seluruh siswa sudah memiliki tingkat kognitif yang setara,” tambahnya.
Pada tahun ajaran ini, Sekolah Rakyat Kendari menerima 50 siswa yang terbagi ke dalam dua rombongan belajar, terdiri dari 30 siswa laki-laki dan 20 siswa perempuan. Seluruh siswa berasal dari dua desa yang termasuk dalam kategori miskin ekstrem dan telah ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota Kendari. Para siswa ini ditempatkan di lima asrama, masing-masing dihuni oleh 10 siswa dan didampingi oleh satu wali asuh serta satu wali asrama.
Dari sisi tenaga pendidik, sekolah telah menerima sembilan guru dari 13 formasi yang dialokasikan oleh pemerintah pusat. Enam guru berasal dari Kota Kendari, sementara sisanya berasal dari Kolaka Utara, Muna, dan Jawa Timur. Masih ada tiga guru lagi yang dijadwalkan segera bergabung, yakni dua guru IPS dari Blora (Jawa Timur) dan Kolaka, serta satu guru lainnya yang masih menunggu penempatan.
Ferdinand menegaskan bahwa Sekolah Rakyat Kendari menerapkan dua kurikulum: kurikulum formal untuk pembelajaran di kelas, dan kurikulum asrama untuk pembinaan karakter siswa. Seluruh kebutuhan siswa ditanggung oleh negara, mulai dari seragam, perlengkapan olahraga, hingga fasilitas belajar.
“Pengukuran seragam putih biru dan pramuka sudah dilakukan. Saat ini kami juga tengah menunggu kedatangan laptop dan smartboard untuk masing-masing kelas,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara dan Pemerintah Kota Kendari atas dukungan penuh yang diberikan, termasuk penyediaan lahan seluas 6,8 hektare untuk pembangunan gedung permanen.
“Di sekolah ini, siswa mendapatkan makan tiga kali sehari dan dua kali makanan ringan. Sekolah berlangsung dari Senin hingga Sabtu, sementara hari Minggu digunakan untuk kegiatan pengembangan diri,” jelas Ferdinand.
Ia menambahkan bahwa siswa tidak diperkenankan menggunakan telepon genggam. Jika ingin berkomunikasi dengan orang tua, mereka dapat melakukannya melalui wali asuh.
Sementara itu, dua siswi SRMP 25 Kendari, Cahaya dan Raisa, mengaku senang bersekolah di SRMP 25 Kendari karena sistem pembelajarannya yang bagus dan makanannya yang enak.
Keduanya berharap dapat meraih kesuksesan dan mewujudkan cita-cita mereka masing-masing, yakni menjadi polwan dan model. (bds)
Reporter: Septiana Syam
Editor: Biyan







