Hasan M. Noer
*SUDAH TAPI BELUM*
Hasan M. Noer
Syahdan, dalam rapat terbatas “Pokja Pengajuan Gelar Pahlawan Masional Prof. Dr. Nurcholish Madjid,” saya dikejutkan oleh sebuah cerita bernuansa satire (sindiran). Cerita itu muncul di sela-sela ikhtiar kawan-kawan Majelis Nasional KAHMI merumuskan “Draf Pengajuan Gelar Pahlawan Nasional Prof. Dr. Nurcholish Madjid.”
Cerita Ironis itu disampaikan oleh Sekjen KAHMI, Syamsul Qomar, saat merespons paparan saya dalam draf yang saya ajukan untuk niat mulia itu. Konon, menurut sahibul hikayat, setelah tidak lagi menjabat sebagai pembantu presiden, Jenderal (purn) TNI M. Yusuf, Menhan-Pangab 1973-1983, jatuh sakit dan dirawat di sebuah rumah sakit Angkatan Darat.
Konon, ia mendapat kunjungan seorang panglima dengan pangkat mayor jenderal. Sang panglima meminta waktu untuk menjenguk, namun Jenderal Yusuf bertanya, “Siapa?” Seorang kerabat yang menjaganya menyebut nama sang panglima yang sedang naik daun saat itu.
Sejenak tokoh ini tertegun. Lalu memberi respons yang menghunjam: “Dia sudah komandan, tapi belum panglima,” ujar sang jenderal karismatik ini dengan nada tenang. Tentu saja ucapan itu mengejutkan orang-orang yang sedang menjaga dan merawatnya.
Begitulah! Ada kalanya sejarah tidak berbicara dengan suara yang lantang, melainkan berbisik pelan di antara jeda-jeda peristiwa. Ia tidak selalu hadir dalam pidato kenegaraan atau dokumen resmi, tetapi justru dalam kalimat singkat—seperti sebutir embun—yang menyimpan samudera makna.
Demikianlah kiranya kita memahami sebuah penilaian yang pernah dilontarkan oleh seorang Jenderal, mantan Menhan dan Pangab, tentang sosok seorang mayor jenderal yang disebutnya sebagai: “Sudah komandan, tapi belum panglima.” Padahal, faktanya dia adalah seorang panglima dengan pangkat Mayor jenderal. Ini jelas ironi kepemimpinan.
Kalimat itu diucapkan dalam bahasa “satire” (sindiran) yang indah. Melalui ungkapan satire itulah terkandung tiga makna yang ingin disampaikan oleh Jenderal M. Yusuf, yaitu: (1) Ironi, (2) sinisme, sekaligus (3) sarkisme.
“Ironi” adalah pernyataan yang bermakna sebaliknya dari fakta, tetapi membuat orang merasa tertampar, jika orang itu benar-benar memiliki kemampuan untuk menyadarinya. Ungkapan ironi lain, misalnya, “Bijaksana sekali putusan komandan kita, padahal dia sudah menjadi panglima.”
Artinya, putusan itu sama sekali tidak bijaksana, padahal posisi dia sudah menjadi panglima. Seorang panglima, seharusnya setiap putusannya, selalu objektif, akomodatif, empatik, antisipatif, dan strategis; bukan subjektif, otoriter, reaktif, emosional, dan pragmatis.
Seorang panglima, tidak boleh mengambil putusan sekan-akan selalu dalam posisi darurat: begitu terlintas di pikiran, lalu diucapkan di depan publik, langsung menjadi putusan. Karakter seperti ini hanya bisa terjadi pada mereka yang berposisi sebagai “komandan,” bukan mereka yang berposisi sebagai “panglima.”
Adapun “sinisme” adalah menolak ide atau pikiran seseorang dengan cara: angkat lalu banting. Ungkapan di atas mengandung makna ‘angkat lalu banting’ itu. Sinisme lainnya, seperti rombongan alumni HMI datang ke Cak Nur, lalu bilang: “Cak Nur inilah satu-satunya calon presiden yang ingin kita usung.”
Lantas apa tanggapan Cak Nur? Seperti biasa, Cak Nur selalu tampil elegan dalam membalas, “Ide itu sangat bagus, tapi jauh lebih bagus kalau disampaikan kepada Sri Bintang Pamungkas,” tuturnya tangkas. Ini namanya sinisme: angkat lalu banting. Super sekali!
Sedangkan “sarkisme” adalah sindiran tajam yang disampaikan dalam ungkapan pendek, tapi menghunjam, menusuk, bahkan menyakiti parasaan seseorang, kelompok, atau lembaga tertentu. Sebutlah misalnya, ungkapan: Sudah Tapi Belum; Negeri Konoha; Bangsa Wakanda; Kapal Badut; Prof GBHN; Doktor APBN; Anak Haram Konstitusi; Indonesia Gelap; Kabur Dulu; dll.
Semua ungkapan itu mengandung makna sarkisme: tajam, padat, dan menghunjam ke ulu hati. Membunuh tanpa harus meneteskan setetes darah pun di kaki langit peradaban.
Ucapan Jenderal M Yusuf itu, menari-nari kembali di kepala tokoh yang ikut merawat Jenderal M. Yusuf saat itu, setelah ia menyimak dengan teliti kenyataan politik hari ini. Tokoh itu pun bergumam, “Oh, kalau begitu apa yang dikatakan Jenderal M. Yusuf dulu itu, kini menjadi kenyataan.”
Jika direnungkan, ucapan itu seperti sebilah cermin yang memantulkan dua wajah sekaligus: pujian dan batasan. Di satu sisi, ia mengakui keberanian, ketegasan, dan naluri tempur seorang komandan. Namun di sisi lain, ia menandaskan bahwa ada langit yang lebih tinggi—sebuah cakrawala kepemimpinan yang menuntut lebih dari sekadar keberanian di medan laga.
Komandan adalah api. Ia menyala di garis depan, menghangatkan sekaligus membakar. Ia dekat dengan debu, peluh, dan darah. Keputusannya lahir dari detak jantung yang cepat, dari intuisi yang tajam, dari situasi yang mendesak.
Dalam dirinya, keberanian adalah bahasa pertama. Ia tidak banyak bertanya, sebab waktu tidak memberinya ruang untuk ragu. Dunia komandan adalah dunia yang sempit namun intens: satu misi, satu target, satu kemenangan.
Namun panglima adalah air. Ia tidak hanya melihat api, tetapi juga menjaga arah angin yang meniupnya. Ia berdiri lebih jauh dari medan, bukan karena ia menjauh, melainkan karena ia harus melihat keseluruhan.
Dalam dirinya, keberanian telah ditempa menjadi kebijaksanaan. Ia tidak sekadar memimpin pasukan, tetapi juga menakar dampak dari setiap langkah: politik, sosial, bahkan sejarah. Panglima bukan hanya penakluk ruang, tetapi juga penjaga waktu.
Dalam bingkai ini, pernyataan Jenderal M. Yusuf menjadi seperti sebuah tafsir diam atas perjalanan seorang manusia. Ia bukan sekadar penilaian personal, melainkan refleksi tentang tahap-tahap kepemimpinan itu sendiri.
Ada orang yang dilahirkan sebagai komandan—dengan keberanian yang mengalir seperti darah muda. Tetapi menjadi panglima adalah perjalanan panjang: ia membutuhkan jarak, kesabaran, dan kemampuan untuk menahan diri dari godaan untuk selalu berada di garis depan.
Napoleon Bonaparte pernah berkata: “Seorang pemimpin adalah penyalur harapan.” Namun dalam praktik militernya, Napoleon juga menunjukkan bahwa seorang komandan adalah sosok yang hidup dalam kecepatan keputusan.
Ia pernah menegaskan: “Luangkan waktu untuk mempertimbangkannya, tetapi ketika waktu untuk bertindak tiba, berhentilah berpikir dan lakukanlah.” Dan praktik inilah yang dilakukan Prabowo selaku Presiden RI hari ini. Dia tidak mendengar siapa pun kecuali dirinya sendiri.
Sejarah militer, bahkan sejarah peradaban, penuh dengan tokoh-tokoh yang gagal melintasi batas ini. Mereka besar di medan perang, tetapi gamang di medan kekuasaan. Sebab menjadi panglima berarti menerima bahwa kemenangan tidak selalu diraih dengan serangan, tetapi kadang dengan penundaan; tidak selalu dengan kekuatan, tetapi dengan pengendalian.
Jika kita membaca pernyataan itu dalam suasana batin yang lebih dalam, ia seperti nasihat yang disampaikan tanpa suara keras. Seolah-olah Jenderal M. Yusuf sedang berkata: keberanian saja tidak cukup untuk memikul sejarah. Ada titik di mana seorang pemimpin harus belajar berdialog dengan waktu, bukan hanya menaklukkannya.
Dan di sinilah letak keindahan sekaligus ketegangan dalam memahami sosok Prabowo Subianto. Ia tumbuh dari tradisi komando: tegas, cepat, dan penuh energi. Namun, ia seakan ditegur oleh Sun Tzu dalam The Art of War, “Seni perang tertinggi adalah menaklukkan musuh tanpa berperang.”
Tetapi sejarah kemudian menyeretnya ke panggung yang lebih luas—panggung politik, panggung bangsa, panggung peradaban. Di sana, ukuran keberanian berubah. Yang dibutuhkan bukan lagi sekadar keberanian untuk maju, tetapi juga keberanian untuk menahan, mendengar, dan merangkul.
Kalasastra mengajarkan bahwa setiap manusia adalah teks yang terus ditulis ulang oleh waktu. Barangkali, kalimat “Dia sudah komandan, belum panglima” bukanlah akhir dari sebuah penilaian, melainkan awal dari sebuah perjalanan. Ia adalah garis awal yang menantang: apakah seseorang akan tetap menjadi api, ataukah ia akan menjelma menjadi air, bahkan langit?
Walakin, dalam perjalanan hidup, tidak ada takdir yang sepenuhnya beku. Komandan dapat belajar menjadi panglima, sebagaimana api dapat belajar memahami arah angin. Tetapi itu hanya mungkin jika ia bersedia keluar dari dirinya sendiri—melampaui naluri, melampaui ego, dan memasuki ruang sunyi tempat kebijaksanaan dilahirkan.
Wallahu a’lam.[]
This website uses cookies.