Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran saat memberi sambutan di rapat koordinasi pangan. Foto: Septiana Syam/Detiksultra.com
KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tenggara bersama Pemerintah Kota Kendari menggelar rapat koordinasi pangan, sebagai upaya menahan laju inflasi di Kota Kendari agar terkendali. Langkah ini jadi sinyal kuat bahwa stabilitas pangan bukan sekadar urusan dapur, tapi fondasi utama menjaga ekonomi tetap bergerak.
Melalui rakor yang bertajuk “Pangan Sejahtera, Inflasi Terkendali”, Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, menegaskan bahwa di tengah ketidakpastian global, kebutuhan dasar masyarakat tidak boleh terganggu.
“Kalau pangan tidak stabil, pertumbuhan ekonomi tidak ada artinya. Yang utama itu pasokan aman dan harga tetap terjangkau,” tegasnya saat Rakor yang digelar di Aula Wakatobi Kantor Perwakilan BI Sultra, Rabu (15/4/2026).
Untuk itu, Pemkot Kendari langsung tancap gas lewat tiga strategi utama. Pertama, program Ketahanan Keluarga berbasis PKK yang mendorong warga memanfaatkan pekarangan rumah untuk pangan bergizi. Kedua, program Sekolah Hebat yang mengubah sekolah menjadi “laboratorium hijau” bagi siswa. Ketiga, memperkuat kerja sama antar daerah guna memangkas rantai distribusi.
Distribusi pendek ini dinilai krusial agar harga tidak melonjak akibat perantara yang berlapis. Sejumlah daerah seperti Konawe, Konawe Selatan, hingga Kolaka Timur pun telah digandeng sebagai mitra pemasok.
Hasilnya mulai terasa. Inflasi Kendari pada Maret tercatat sekitar 2,95 persen, masih dalam kategori aman. Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga terus memantau harga di pasar secara rutin.
Tak berhenti di situ, Pemkot Kendari juga mulai mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah. Salah satunya lewat pengembangan kawasan pertanian lokal di Anduonohu yang dijadwalkan panen perdana awal Mei.
Menariknya, upaya ini akan dipadukan dengan momentum internasional. Kendari bakal menjadi tuan rumah ajang United Cities and Local Governments Asia Pacific (UCLG ASPAC). Event ini akan dimanfaatkan untuk mendorong UMKM lokal naik kelas lewat pameran, pangan murah, hingga promosi budaya.
“Kita ingin produk lokal tidak hanya kuat di dalam, tapi juga bisa tembus pasar ekspor,” ujar Siska.
Sementara itu, Kepala BI Sultra, Edwin Permadi, mengingatkan bahwa inflasi rawan meningkat saat momen tertentu seperti Ramadan dan Idulfitri akibat lonjakan permintaan yang tidak diimbangi pasokan.
“Permintaan naik, pasokan terganggu, harga pasti ikut terdorong,” jelasnya.
Ia juga menyoroti ancaman eksternal seperti perubahan iklim hingga potensi El Nino yang bisa menekan produksi pangan. Karena itu, BI mendorong optimalisasi lahan tidur dan penguatan sektor hilir, termasuk pengolahan hasil perikanan.
“Kita butuh teknologi penyimpanan agar hasil nelayan lebih tahan lama dan bernilai tambah,” tambahnya.
BI juga membuka peluang dukungan bagi kelompok tani, termasuk inovasi pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik.
Dengan strategi yang makin terarah, kolaborasi BI dan Pemkot Kendari diharapkan mampu menjaga harga tetap stabil, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus melindungi daya beli masyarakat.
“Kuncinya kolaborasi. Kalau semua bergerak bersama, Kendari bisa tangguh menghadapi tekanan inflasi,” pungkas Edwin. (cds)
Reporter: Septiana Syam
Editor: Wulan
This website uses cookies.