Opini

Cashless Society, Siapkah Pelaku UMKM di Morosi?

Dengarkan

Beberapa tahun belakangan ini, di Bandara Haluoleo, papan informasi tampak mencantumkan Bahasa Mandarin. Rombongan TKA China memang banyak melakukan penerbangan menuju Kendari. Tak heran, warga lokal tak jarang menumpang satu pesawat yang sama.

Namun, Kendari hanyalah titik persinggahan. Setibanya di sana, mereka segera melanjutkan perjalanan darat. TKA China berduyun-duyun menuju Morosi, sebuah kecamatan yang kini menjelma menjadi raksasa industri.

Fenomena ini kian lumrah. Sejak tahun 2018, Hilirisasi nikel di Kawasan Industri Morosi telah berlangsung, tepatnya di bawah naungan PT Virtu Dragon Nickel Industry (VDNI) dan PT Obsidian Stainless Steel (OSS).

Alhasil, rute Jakarta–Kendari–Morosi kini menjadi salah satu jalur mobilisasi utama bagi ribuan tenaga kerja asing (TKA) di Sulawesi Tenggara.

Sayangnya, selama ini, perbincangan warung kopi terpaku pada pembangunan smelter, investasi skala besar, ataupun ekspor feronikel.

Padahal, perhatian kita luput dari hal lain. Arus industrialisasi ini turut membawa serta budaya transaksi non-tunai atau dikenal cashless society. Pertanyaanya kemudian, siapkah pelaku UMKM di Morosi?

Gegap Budaya Digital

Di Negeri Tirai Bambu, dompet fisik sudah lama ditinggalkan. Ekosistem digital seperti Alipay dan WeChat Pay telah mendominasi, bahkan lebih dari 87 persen transaksi harian warganya (Worldpay, 2026). Mereka tercatat memindai kode QR sebanyak 10 hingga 15 kali sehari, mulai dari sekadar membeli secangkir kopi hingga membayar ongkos transportasi (ElectroIQ, 2026).

Tak dapat dipungkiri, ketika ribuan TKA ini berduyun-duyun menetap di Morosi, gegap budaya transaksi pun tak terhindarkan. Pada awalnya, mereka berbenturan dengan realitas lokal Morosi yang saat itu masih sangat bergantung pada uang tunai. Akibatnya, transaksi harian sempat tersendat karena adanya kesenjangan digital.

Situasi ini tak ubahnya pemandangan nyata yang pernah penulis jumpai di penyeberangan Sungai Sampara menuju Morosi: alih-alih melewati jembatan beton yang kokoh, pelintas hanya mengandalkan rakit pincara yang rapuh.

Menariknya, potensi ekonomi yang dibawa para pekerja asing ini terlalu besar untuk diabaikan. Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan dan imigrasi setempat, jumlah TKA China yang bekerja di kawasan industri Morosi diperkirakan mencapai 3.000 hingga 5.000 pekerja. Kehadiran mereka dengan daya beli yang tinggi tentu menjadi ladang berkah ekonomi.

Terobosan QRIS Antarnegara

Kehadiran megaindustri di Morosi langsung memicu ledakan ekonomi sekunder. Jumlah UMKM di lingkar industri (mencakup Desa Kapoiala, Morosi, dan Toli-Toli) melonjak tajam, tercatat dalam beberapa tahun terakhir. Warung makan, kos-kosan, toko kelontong, hingga jasa potong rambut tumbuh subur di sepanjang jalan utama Morosi.

Bahkan, tidak sedikit papan nama toko kelontong milik warga lokal yang kini ditulis dalam dua bahasa: Indonesia dan Mandarin.

Meski begitu, perbedaan bahasa sempat menjadi tembok besar dalam urusan jual beli. Transaksi sering kali diwarnai bahasa isyarat dan kalkulator yang disodorkan bolak-balik. Kendala ini bukan lagi sekadar masalah komunikasi, melainkan juga penghambat transaksi.

Dan kini, secercah harapan akhirnya bersemi. Tepatnya pada 30 April 2026, Bank Indonesia bersama People’s Bank of China melakukan soft launching konektivitas pembayaran lintas negara (QRIS Cross-Border Indonesia-China). Kebijakan ini menghadirkan bahasa universal, tidak lain sebagai jembatan transaksi keuangan di Morosi.

Lewat teknologi pembayaran ini, pembayaran terasa nyaman dalam genggaman tangan. Praktisnya, aplikasi Alipay atau WeChat Pay di gawai pintar para TKA, cukup memindai barcode QRIS. transaksi pembayaran di warung-warung milik warga Morosi pun tuntas seketika.

Kemudahan ini didukung oleh perkembangan trwen pembayaran non-tunai. BI mencatatkan lebih dari 39 juta merchant QRIS nasional, utamanya 90 persen di antaranya adalah UMKM. Di kawasan Morosi sendiri, ratusan pedagang lokal kini mulai akrab memajang stiker QRIS di meja dagangan mereka. Realita ini tecermin dari pertumbuhan nilai transaksi digital di Sulawesi Tenggara yang melonjak hingga 101 persen secara tahunan.

Transaksi Masa Depan

Saat ini, alurnya jauh lebih sederhana. Misalnya saja, Seorang TKA China baru keluar dari gerbang pabrik. Ia ingin membeli makanan di warung lokal.

Langkahnya mudah. Cukup buka ponsel. Pindai barcode QRIS pedagang. Seketika, saldo Yuan di akun Alipay terpotong. Dana langsung masuk ke rekening bank pedagang. Berubah menjadi Rupiah secara real-time.

Prosesnya instan. Tidak perlu lagi menukar uang tunai di perkotaan.

Namun, tak ada gading yang tak retak. Ekosistem cashless society di lingkar industri Morosi harus dipastikan berkelanjutan. Keuntungannya wajib dinikmati oleh masyarakat lokal. Untuk itu, Penulis mencermati tiga tantangan yang harus dijawab.

Pertama, akselerasi literasi keuangan digital pedagang lokal. Pemerintah Kabupaten Konawe bersama perbankan daerah harus gencar mengedukasi para pedagang di sekitar Morosi. Edukasi tidak boleh sebatas cara mendaftar QRIS, melainkan harus menyentuh aspek manajemen keuangan digital, pembukuan mandiri, hingga kewaspadaan terhadap modus penipuan digital.

Kedua, penguatan infrastruktur jaringan di Jalur Sampara-Morosi. Kawasan Morosi kerap menghadapi kendala jaringan telekomunikasi yang tidak stabil, imbas tingginya trafik data di area industri. Kolaborasi dengan provider telekomunikasi mutlak diperlukan. Tanpa sinyal yang mumpuni, teknologi pembayaran secanggih apa pun akan kehilangan fungsi.

Ketiga, standarisasi dan pendampingan Pemerintah Daerah. Dinas Koperasi dan UMKM Konawe perlu memberikan pendampingan teknis yang intensif agar pelaku usaha mikro di desa-desa sekitar smelter memiliki kapasitas operasional yang setara. Hal ini penting agar kue ekonomi digital tidak hanya dinikmati oleh jaringan ritel modern.

Pada gilirannya, hilirisasi nikel telah mengubah wajah Morosi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Kini, lewat interkoneksi QRIS lintas batas, sekat digital yang sempat memisahkan para pelaku ekonomi perlahan mulai runtuh.

Ketika interaksi ekonomi antara TKA China dan pelaku UMKM Morosi berjalan semakin erat, kesejahteraan masyarakat semakin dekat.

 

Nama : Rabiul Misa
Penulisan Merupakan Analis Yunior di Bank Indonesia

Facebook Komentar
Redaksi

This website uses cookies.