Opini

Berebut Pangan Untuk Isi Perut atau Isi Tangki

Dengarkan

Hari pangan sedunia dijadwalkan Oktober 2019 nanti di kota Kendari. Presiden RI diagendakan hadir, begitu juga beberapa undangan terhormat dari perwakilan sejumlah negara.

Semoga tidak cuma media massa saja yang ikut-ikutan heboh, karena yang terpenting bagaimana dengan ketersediaan pangan dimasa depan dan nasib para petani/pekebun dengan momentum ini.

Masalah pangan itu, mirip dengan musim kemarau belakangan ini. Selalu panas perdebatannya, Daerah kita inikan bagian dari negeri paradoks. Negeri kaya yang berjalan babi buta tanpa rencana ke masa depan. Merebut “tiket” menuju kedaulatan ekonomi seakan-akan mustahil.

[artikel number=3 tag=”hps,kendari”]

Kali ini penulis mengambil perebutan pangan dari pengaruh perkebunan sawit yang membuat petani kehilangan hak atas tanah dan sumber daya alam, berdampak juga pada krisis pangan dimasa datang. Padahal masa depan pertanian rakyat itu bergantung pada siapa yang akan bertani (White 2011,2012).

Rata-rata umur petani kita di Konsel, Konut, Raha, Kolaka, Bombana, Buton sudah tua. Sementara generasi muda, sudah tidak ada lagi yang mau jadi petani. Sejarawan terkenal Eric Hosbsbawm dalam karyanya, Age of Exteremes mengatakan, “Perubahan paling dramatis dalam paruh kedua abad (saat) ini, yang untuk selamanya memisahkan kita dari dunia masa lalu, adalah kematian petani”.

Tandan sawit, mulai dari tempurung, daging buah sampai inti buah (kernel) semua memiliki nilai ekonomis. Minyak sawit memang ajaib dan serba guna. Makanya semua raksasa global seperti Unilever, Kraft, Nestle, Johnson & Johnson membutuhkan pasokan minyak sawit, termasuk dari Indonesia. Namun kelapa sawit bukan sekedar kakao, karet, atau kopi?

Daya magnet sawit lebih kuat. Permintaan terhadap minyak sawit terus melonjak, berlipat secepat deret-ukur. Data Oil World menunjukan, bahwa di tahun 2050 kelak, tingkat konsumsi dunia diperkirakan mencapai 90-250 juta ton minyak sawit, tergantung apakah manusia menemukan sumber minyak nabati yang lebih murah atau tidak (Trend in Agricultural Economics Vol-3,2010).

Hasilnya semua pengusaha dan petani berbondong-bondong melirik si Elais sp. Seluruh areal perkebunan sawit diperluas sejauh mata memandang. Deretan pokok-pokok sawit terlihat dari Konawe, Konsel, Konawe Utara. Bahkan bisa jadi dibelakang rumah kita sendiri.

Permintaan yang beragam ini, bukan karena minyak sawit hanya bisa digunakan untuk bahan baku industri pangan dan produk perawatan tubuh. Tapi minyak sawit juga di incar sebagai bahan bakar biologi yang “ramah” lingkungan.

Beroperasinya pabrik biodiesel Nestle, raksasa energi Finlandia, dengan kapasitas 1 juta ton per tahun di Singapura tahun 2009 silam, menandakan dimulainya era kelapa sawit sebagai sumber energi masa depan. Selama ini, bahan bakar biologi yang kita kenal yakni : bioethanol sebagai pengganti bensin, dan biodiesel untuk menggantikan minyak solar.

bioethanol terbuat dari produk pertanian seperti tebu dan singkong. Sedangkan biodiesel dari minyak nabati seperti sawit, kedelai, jarak, biji matahari atau kanola. Dari bahan baku ini potensial sawit lebih memungkinkan. Mengapa?

Karena dalam 1 hektar perkebunan sawit bisa menghasilkan 4-6 ton CPO per tahun – bahkan bisa sampai 10 ton dengan perawatan khusus – sedangkan kebun kedelai hanya mampu memproduksi 500 kg per hektar per tahun. Artinya, keberadaan minyak sawit menegaskan bahwa, kedelai, jarak, jagung, tebu dan singkong hanya bisa dijadikan makanan sehari-hari, tidak lebih dari itu.

Lebih satu setengah abad lalu ancaman krisis pangan kita atasi dengan “revolusi hijau” (tekhnologi bibit unggul, pupuk, irigasi, pemberantasan hama). Kini harapan kita hanya bisa bergantung pada tekhnologi rekayasa genetika (genetically modified organism – GMO), komposisi pupuk cerdas, sistem pertanian vertikal, atau bahkan pertanian tanpa tanah.

Ketika teknologi produksi pertanian terus ditemukan, saat yang sama kebutuhan pangan dimasa datang juga sulit terkejar, karena populasi semakin meningkat. Selain butuh makan, populasi juga butuh energi. Kelak ketika sumber energi fosil semakin terbatas dan mahal, dunia harus mencari energi alternatif yang terbarukan.

Air, angin, geotermal dan sinar matahari sangat memugkinkan menjadi sumber energi alternatif, masalahnya anda tentu tidak bisa meng-ekspor angin, matahari ke tempat yang dibutuhkan (transferrable).

Jawaban satu-satunya hanya pada biodiesel karena relatif mudah dan investasinya rendah. Dan itu hanya ada di kelapa sawit. Dan Indonesia adalah rumah ideal bagi kelapa sawit.

Ketika hal ini terjadi, perebutan pasokan perut manusia dan tangki mesinpun tak dapat terelakkan.

Menurut catatan “Raja Limbung” hasil kerja sama Sawit Watch dan Tempo institut (2012), berdasarkan perhitungan OECD (Organization for economic Coperation and Development) dan FAO, produksi biofuels dunia akan meningkat hampir dua kali lipat, sejak 100 miliar liter tahun 2009, menjadi 192 miliar liter (tahun 2018-2019)

Kelangkaan dan kekhawatiran dunia akan bahaya emisi karbon dari bahan bakar fosil turut mempercepat permintaan minyak kelapa sawit sebagai sumber energi alternatif.

Seluruh dunia sedang mengganti bahan bakar fosil ke biofuel.saat ini, daratan Eropa membutuhkan lebih 50 juta ton biofuel tiap tahun – membutuhkan sekitar 10 juta hektar kebun kelapa sawit – ini belum termasuk permintaan Amerika Serikat yang diperkirakan mencapai 35 miliar galon biofuel di tahun 2022 nanti.

Tak ada yang salah dengan kelapa sawit, yang mungkin salah adalah cara kita mengelolanya.

Mungkin pantas kita renungkan, teori Thomas Robert Malthus atau kalangan aliran malthuisme yang menyatakan, pertumbuhan populasi manusia bersifat eksponensial layaknya bunga yang berkembang dengan pucuk baru lalu pucuk baru seterusnya. Berbeda dengan produktifitas pangan yang sifatnya horizontal (aritmatis).

Dengan kata lain, ia mengatakan sebenarnya tak pernah ada itu yang namanya “ekstensifikasi-intensifikasi” produktifitas ekonomi, pangan dan pertanian. Karena kesemuanya itu hanya untuk memenuhi kebutuhan populasi yang semakin bertambah.

Peradaban tidak akan pernah pulih membaik selama peningkatan produksi tidak dibarengi dengan penekanan populasi. Dengan demikian kita harus memilih, penekanan populasi secara sukarela (KB, aborsi, dsb) atau melalui pemusnahan masal, perang & genocide. (Collapse oleh Jared Diamond)

Penulis : Kia
Email : [email protected]
Aktivitas : Pegiat Media – Pecinta Alam

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button