Waspada Lonjakan Campak, IDAI Serukan Kejar Imunisasi Anak

JAKARTA, DETIKSULTRA.COM – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengeluarkan peringatan serius terkait meningkatnya kasus campak di Indonesia. Organisasi profesi dokter anak tersebut meminta pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat segera mempercepat imunisasi guna mencegah penyebaran penyakit yang berpotensi memicu Kejadian Luar Biasa (KLB).
Berdasarkan data yang dirilis IDAI, sepanjang 2025 tercatat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi dan 69 kematian. Sementara hingga pekan ke-7 tahun 2026, telah ditemukan 8.224 kasus suspek, 572 kasus terkonfirmasi, serta 4 kematian.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, menegaskan situasi ini harus ditangani secara serius dan cepat demi melindungi anak-anak Indonesia.
“Imunisasi adalah hak dasar anak. Kita harus bergerak cepat agar setiap anak mendapat perlindungan dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah,” ujarnya dalam keterangan pers, Selasa (10/3/2026).
Secara global, Indonesia bahkan tercatat sebagai negara dengan kasus campak tertinggi kedua di dunia, dengan 10.744 kasus, berada di bawah Yaman dan di atas India berdasarkan data WHO yang dirilis CDC pada Februari 2026.
IDAI menilai salah satu penyebab meningkatnya risiko penularan adalah cakupan imunisasi yang belum mencapai target. Data tahun 2024 menunjukkan cakupan imunisasi campak-rubella dosis kedua (MR2) baru mencapai 82,3 persen, masih jauh dari target nasional sebesar 95 persen untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity.
Ketua Satgas Imunisasi IDAI, Prof. Hartono Gunardi, menyebut pandemi Covid-19 turut menyebabkan banyak anak melewatkan jadwal imunisasi rutin.
“Disrupsi layanan imunisasi saat pandemi membuat banyak anak belum mendapat vaksin lengkap. Hal ini menciptakan kantong-kantong kerentanan di berbagai daerah,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa vaksin campak-rubella aman dan telah melalui proses evaluasi ketat serta mendapatkan izin edar dari BPOM.
Untuk menekan penyebaran campak, IDAI merekomendasikan enam langkah strategis, di antaranya, kejar imunisasi campak-rubella bagi anak usia 9 bulan hingga kurang dari 15 tahun yang belum mendapatkan vaksin. Memperkuat kapasitas laboratorium untuk diagnosis campak dan rubella. Meningkatkan tatalaksana kasus campak, termasuk pemberian vitamin A untuk menurunkan risiko kematian.
Melakukan isolasi dan pengendalian infeksi pada pasien campak di fasilitas kesehatan. Memperkuat surveilans penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) melalui pelaporan kasus ke dinas kesehatan. Hingga, meningkatkan edukasi masyarakat mengenai bahaya campak dan pentingnya imunisasi.
Ketua Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI, Prof. Edi Hartoyo, menjelaskan bahwa hingga saat ini belum ada antivirus khusus untuk campak. Penanganan yang diberikan bersifat suportif, termasuk pemberian vitamin A yang terbukti dapat menurunkan angka kematian hingga 50 persen.
“Selain pengobatan, isolasi pasien sangat penting karena virus campak dapat menular sejak empat hari sebelum hingga empat hari setelah ruam muncul,” jelasnya.
Orangtua Diminta Tidak Menunda Imunisasi IDAI menegaskan bahwa campak bukan penyakit ringan. Infeksi ini dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, radang otak (ensefalitis), hingga kematian.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menunda imunisasi serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika muncul gejala seperti demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan ruam pada kulit.
“Kematian akibat campak seharusnya tidak terjadi. Vaksin tersedia gratis dan tenaga kesehatan siap melayani. Yang dibutuhkan sekarang adalah kesadaran bersama untuk melindungi anak-anak Indonesia,” tutup dr Piprim. (cds)
Reporter: Septiana Syam
Editor: Wulan



