Metro Kendari

Sektor Tambang Penyebab Utama Pencemaran Kualitas Air Laut di Sultra

Dengarkan

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Sektor pertambangan sampai saat ini tetap menjadi faktor utama pencemaran kualitas air laut di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Catatan ini berdasarkan data dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra sesuai dengan profil Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) dari kementerian di tahun 2024.

Kualitas air laut ini tentu akan berdampak negatif pada ekosistem, habitat hingga penurunan kualitas lingkungan pesisir, jika tidak ditangani dengan tepat.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Andi Makkawaru mengatakan secara umum indeks kualitas lingkungan hidup di wilayah Sultra dapat dikategorikan baik.

“Provinsi Sultra masuk 10 besar nasional dengan indeks IKLH kategori baik, kita ada di posisi 6 provinsi dari 38 provinsi di Indonesia,” katanya di Kantor Gubernur Sultra, Senin (11/8/2025).

Lebih lanjut, secara umum IKLH terdiri dari empat yakni udara, air, laut dan lahan, sedangkan terdapat tiga unsur pemantauannya yaitu titik pantau, data masuk dan data terverifikasi.

Adapun untuk data pemantauan udara di Sultra yakni sebanyak 86 titik pantau, 148 data masuk, dan 137 terverifikasi. Air sebanyak 216 titik pantau, 328 data masuk, dan 316 terverifikasi.

Selanjutnya data pemantauan laut sebanyak 61 titik pantau, 77 data masuk dan 33 terverifikasi, sedangkan lahan tidak ada terdapat titik pantau namun ada 17 data masuk, dan 17 terverifikasi.

“Jadi totol 363 titik pantau, 570 data masuk dan 503 terverifikasi. Titik pantau ini adalah titik yang diberikan dari kementerian, sedangkan data masuk berasal dari kita, dan data terverifikasi merupakan hasil dari kementerian,” terangnya.

Andi mengatakan, kualitas air laut tidak baik karena kurangnya data pendukungnya atau fasilitas yang belum dimiliki DLH Sultra seperti Biological Oxygen Demand atau BOD.

Salah satu air laut yang tercemar yakni di Kabaena Selatan yang berada di lingkungan pertambangan, selain itu di Kabupaten Konawe Utara (Konut).

Kendati demikian, jika dirasiokan tentu perbandingannya masih banyak air laut yang tidak terkontaminasi dibandingkan yang tercemar.

“Biasanya yang paling merasakan ini adalah masyarakat pesisir karena mereka masih menggunakan alat konvensional dalam menangkap ikan,” tutupnya. (bds)

 

Reporter: Muh Ridwan Kadir
Editor: Wulan

Facebook Komentar
Redaksi

This website uses cookies.