Opini

Rumus Kebenaran Baru DI’WAY

Dengarkan

Ketika saya menyaksikan video yang di share secara japri di WA saya dan menyimak berulangkali tentang orasi Pak Dahlan Iskan (D I) di suatu kesempatan dalam acara wisuda di salahsatu perguruan tinggi, dalam orasinya tersebut terkait ‘kebenaran baru’ menurut yang saya bisa tangkap adalah suatu informasi atau “pendapat tertentu” yang ingin diyakinkan kebenarannya kepada publik (bukan fakta), kemudian di share melalui media social yang selanjutnya di lakukan pengulangan (amplifikasi) atau penyebaran informasi menurut keinginan terus menerus secara luas.

Namun, masalah timbul kemudian ketika informasi yang diamplifikasi tersebut tidak berdasar pada fakta yang valid , oleh pak DI menalai kebenaran baru di era digital. Dalam ulasan ini, saya akan membahas dampak dari “diamplifikasi yang tidak berdasar pada fakta dan bagaimana hal ini dapat menghasilkan kebenaran baru”  yang salah menjadi benar. Diamplifikasi secara terus menerus adalah fenomena yang terjadi ketika suatu informasi atau pendapat yang tidak berdasar pada fakta terus-menerus diulang dan disebarkan secara luas.

Dalam era media sosial dan internet, informasi dapat dengan mudah dan cepat menyebar ke berbagai platform dan mencapai jutaan orang dalam waktu singkat. Hal ini memungkinkan suatu informasi yang tidak berdasar pada fakta untuk menjadi viral dan dianggap sebagai kebenaran yang mutlak oleh banyak orang.

Fenomena kebenaran baru yang tidak berdasar pada fakta, yang dikenal sebagai kebenaran baru“kebanyakan yang diamplifikasi secara terus menerus”, telah menjadi semakin umum dalam era informasi digital saat ini. Dalam ulasan ini, kita akan mengeksplorasi fenomena ini dalam konteks sosial, politik, dan media, serta dampaknya terhadap masyarakat dan cara menghadapinya.

Salah satu dampak dari diamplifikasi yang tidak berdasar pada fakta adalah terbentuknya kebenaran baru yang salah. Ketika suatu informasi yang tidak berdasar pada fakta terus-menerus diulang dan disebarkan secara luas, orang-orang cenderung mempercayainya tanpa melakukan verifikasi atau penelitian lebih lanjut.

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi kebenaran baru adalah algoritma media sosial. Algoritma ini dirancang untuk memberikan konten yang paling relevan dan menarik bagi pengguna, namun juga cenderung memperkuat pandangan yang sudah ada dan mengabaikan sudut pandang yang berbeda.

Hal ini menciptakan gelembung informasi di mana pengguna hanya terpapar pada sudut pandang yang sama, tanpa melihat perspektif yang berbeda atau fakta yang mungkin bertentangan dengan pandangan mereka.  Akibatnya, kebenaran yang sebenarnya dapat terabaikan dan digantikan oleh kebenaran baru yang salah. Misalnya, dalam konteks politik, suatu narasi yang tidak berdasar pada fakta dapat dengan mudah mempengaruhi pandangan dan keputusan politik masyarakat.

Sebagai pandangan sementara,  fenomena saat ini menjadi kebanyakan yang diamplifikasi secara terus menerus merupakan tantangan serius dalam era informasi digital saat ini. Hal ini mempengaruhi cara kita memahami dunia dan berinteraksi dengan orang lain. Namun, dengan pendidikan media yang tepat, tanggung jawab perusahaan teknologi, dan integritas media, kita dapat mengatasi dampak negatif dari fenomena ini dan membangun masyarakat yang lebih cerdas dan terinformasi.

Sebagai Insan yang telah berada di tengah suasana disrupsi informasi dalam menghadapi fenomena diamplifikasi yang tidak berdasar pada fakta, maka penting bagi masyarakat untuk menjadi lebih kritis dalam menyaring informasi yang diterima. Ada dua hal yang perlu diri kita perkuat antaralain;

Pertama, kita perlu melatih diri untuk selalu memverifikasi informasi sebelum mempercayainya atau menyebarkannya. Ini dapat dilakukan dengan mencari sumber informasi yang dapat dipercaya, membandingkan berbagai sumber, dan memeriksa kebenaran informasi melalui fakta-fakta yang valid.

Kedua, kita perlu mengembangkan kemampuan kritis dalam menganalisis informasi yang kita terima. Ini melibatkan kemampuan untuk mengidentifikasi bias dalam informasi, memahami konteks informasi, dan melihat dari berbagai sudut pandang sebelum membuat kesimpulan.

Dengan demikian kita dapat lebih mampu membedakan antara informasi yang valid dan yang tidak valid. Hal ini dapat memperkuat keyakinan kita  agar tidak semakin terpolarisasi dengan orang-orang yang memiliki pandangan berbeda. Sebagai konsekwensinya, dialog yang sehat dan konstruktif sehingga dapat menghambat, dan masyarakat menjadi tidak terpecah-belah.

Oleh : DRLAKAI

 

 

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button