Kampus

KKN Tematik UHO 2023 Tangani Kawasan Kumuh di Purirano

Dengarkan

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Mahasiswa KKN Tematik Universitas Halu Oleo (UHO) tahun 2023 dari berbagai disiplin ilmu melakukan penanganan kawasan kumuh berbasis data geospasial di Kelurahan Purirano, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).

Ketua Tim Pembimbing KKN Tematik, Prof Weka Widayati mengatakan, Kelurahan Purirano termasuk salah satu lokasi yang dinyatakan dalam status kumuh ringan hingga kumuh sedang berdasarkan keputusan Wali Kota Kendari nomor 1017 tahun 2020 tentang penetapan lokasi perumahan dan permukiman kumuh.

“Melalui KKN Tematik UHO ini, mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan dan menerapkan ilmu mendalami permasalahan khususnya pemetaan wilayah permukiman kumuh dan ilmu pendukung lainnya di lapangan serta memperoleh solusi bersama masyarakat,” ungkapnya, Minggu (27/8/2023).

Wilayah Kelurahan Purirano merupakan jalur daerah kawasan pariwisata yang dikembangkan ke arah Pantai Toronipa sehingga kepadatan aktivitas masyarakat di wilayah tersebut cenderung tinggi.

Inilah alasan dipilihnya Kelurahan Purirano sebagai lokasi KKN Tematik 2023. Lokasi tersebut juga potensial sebagai spot pengembangan wisata pantai dengan pengembangan dan pemberdayaan potensi masyarakat dari aspek sosial, ekonomi dan lingkungan permukiman.

“Sehingga kita ingin menjadikan kawasan tersebut bersih, nyaman dan menarik wisatawan,” kata Weka.

Wakil Rektor II bidang Umum dan Keuangan UHO Kendari ini pun menuturkan, terkait kawasan kumuh di wilayah itu pihaknya telah melakukan penanganan dengan program New Site Development (NSD) Purirano. KKN Tematik ini berlangsung sejak 29 Juli hingga 29 Agustus 2023.

Menyukseskan program KKN Tematik 2023, mahasiswa yang mengikuti kegiatan itu telah melakukan survei lokasi kumuh dan sosialisasi Peta Geospasial.

Tindak lanjut dari survei dan sosialisasi peta kawasan permukiman kumuh di Purirano adalah program prototype lokasi penanganan kekumuhan yang menjadi percontohan adalah di RT 2 dengan pembenahan TPS, pembersihan drainase dan lingkungan lainnya untuk menjadi percontohan.

Weka mengatakan, waktu satu bulan tentunya tidak akan mampu menyelesaikan semua masalah di lapangan, akan tetapi dapat menjadi entry point untuk memotivasi dan mengawali memberikan solusi permukiman kumuh dapat ditata dengan baik, menarik, bersih dan nyaman bagi masyarakat sekaligus mempunyai daya tarik bagi wisatawan kedepannya.

“Bagi dosen pembimbing, kegiatan ini juga sekaligus tugas pengabdian kepada masyarakat yang menjadi salah satu bagian Tri Dharma perguruan tinggi,” pungkas dia. (bds)

Reporter: Septiana Syam
Editor: Biyan

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button