Sultra Raya

Pengamat Sebut AJP, Siska, dan Razak Penantang Petahana pada Pilwali 2022

Dengarkan

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Jelang Pemilihan Wali Kota (Pilwali) 2022 mendatang, calon kandidat mulai muncul kepermukaan publik.

Mulai dari petahana, Sulkarnian Kadir, mantan calon Wali Kota Kendari, Abdul Razak, hingga nama baru seperti Anggota DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra), Aksan Jaya Putra (AJP).

Anggota DPRD Kota Kendari, Andi Silolipu, Nekwan, La Ode Inarto, kemudian Istri Mantan Wali Kota Kendari juga selaku wakil Wali Kota Kendari periode 2017-2022, Siska Kirana Imran, dan Radhan Algino Nur Alam.

Dari deretan calon kandidat tersebut, Pengamat politik Sultra, Najib Husain semuanya sama-sama memiliki kans atau peluang untuk maju pada Pilwali Kendari 2022 mendatang. Tinggal bagaimana menaikan popularitas dan elektabilitas masing-masing.

Namun jika di liat secara politis, kata Najib yang memiliki peluang besar menantang petahana, mereka adalah AJP, Siska Kirana Imran, dan Abdul Abdul Razak. Sementara Radhan Algino Nur Alam dan Andi Silolipu, bargeningnya hanya sebatas wakil atau 02.

Pandangan politiknya itu, bukan tanpa alasan. Katanya, Abdul Razak adalah pemenang kedua Pilwali 2017 lalu, dan tentunya masih punya pendukung dan simpatisan fanatik.

Kemudian Siska Kirana Imran adalah kelanjutan dari trend kekuasaan kedua mantan Wali Kota Kendari, Asrun dan Adriatma Dwi Putra (ADP).

Sementara AJP, figur yang akan mewakili kubu pendatang baru di kanca Pilwali 2022 mendatang, yang juga memiliki basis besar melihat dari hasil Pilcaleg 2019 lalu, dengan capaian suara terbanyak di Dapil 1 Kota Kendari.

“Perpaduan tetap konfigurasi etnis Tolaki… Muna, dan Bugis. Jika hal itu terjadi maka, pertarungan Golkar dan NasDem akan terjadi di Pilwali 2022,” ujar dia, Senin (9/11/2020).

Selain itu, sisi menariknya di Pilwali nanti, kata Najib PAN dan PKS yang sudah menjalin koalisi selama tiga periode dipastikan sulit untuk bersatu.

“Duet PKS dan PAN sepertinya sulit untuk bersatu dan pergerakan partai untuk menawarkan figur sudah saatnya dilakukan,” bebernya.

Menyinggung soal elektabilitas petahana pasca konflik Pilwawali, tambah Dosen Fakultas Sosial dan Politik (Fisip) UHO Kendari ini, Sulkarnain sudah memiliki modal 15 persen, dibanding dengan kompetitor lainnya.

Namun dengan catatan, selama menjabat Sulkarnain harus mampu menghadirkan kebijakan yang sesuai kebutuhan masyarakat, sehingga akan berjalan dengan dinamis antara popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas.

“Itu hanya sifat kasuistik dan tidak berdampak berkelanjutan. Apalgi setelah pelantikan tidak ada lagi gesekan,” tukasnya.

Reporter: Sunarto
Editor: Via

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button