Perkuat Ketahanan Pangan Berbasis Agromaritim, Gubernur ASR Genjot Sektor Pertanian Sultra
KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) terus memperkuat sektor pertanian sebagai salah satu pilar ketahanan pangan daerah. Di bawah kepemimpinan Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka (ASR), berbagai dukungan diberikan kepada petani, mulai dari pembangunan jalan usaha tani, irigasi tersier, sumur bor, bantuan benih, hingga alat dan mesin pertanian (alsintan).
Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat. Dukungan tidak hanya menyasar proses produksi, tetapi juga kebutuhan petani dari tahap prapanen hingga pascapanen.
Salah satu perhatian Pemprov Sultra adalah pembangunan dan peningkatan jalan usaha tani. Infrastruktur ini dinilai penting untuk mempermudah akses menuju lahan pertanian serta memperlancar pengangkutan sarana produksi dan hasil panen.
Berdasarkan data Dinas Komunikasi dan Informatika Sultra, pembangunan jalan usaha tani meliputi Kabupaten Konawe sepanjang 1.500 meter, Konawe Selatan 650 meter, Bombana 600 meter, dan Buton 600 meter.
Sementara peningkatan jalan usaha tani mencakup Kota Baubau sepanjang 1.690 meter, Kabupaten Konawe Selatan 560 meter, serta Kabupaten Konawe sekitar 435 meter berdasarkan rekapitulasi yang dipublikasikan. Secara keseluruhan, pembangunan dan peningkatan jalan usaha tani tersebut mencapai sekitar 6.035 meter.
Komitmen penguatan sektor pertanian juga ditegaskan Gubernur ASR saat menghadiri sekaligus membuka Panen Raya Padi Sawah di Desa Iwoikondo, Kecamatan Loea, Kabupaten Kolaka Timur, Sabtu (31/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan rasa syukur karena kegiatan panen masih dapat berlangsung meskipun wilayah Sulawesi Tenggara menghadapi kekeringan berkepanjangan.
“Kita patut bersyukur, di tengah kondisi kekeringan yang berkepanjangan, sore ini kita masih bisa melaksanakan panen padi,” ungkapnya.
Dia menyebutkan, Kabupaten Kolaka Timur memiliki kontribusi sekitar 16 persen terhadap produksi padi di Sulawesi Tenggara. Besarnya kontribusi tersebut, menurutnya, harus diimbangi dengan pembangunan infrastruktur pertanian yang memadai.
“Infrastruktur jalan yang menjadi tanggung jawab provinsi akan kita tuntaskan, dan infrastruktur jalan yang menjadi tanggung jawab kabupaten tolong juga diselesaikan,” tegasnya.
Tidak hanya infrastruktur, ASR juga mendorong perubahan pola pikir petani agar lebih profesional dalam mengelola usaha pertanian dengan memanfaatkan teknologi modern.
“Ke depan, bertani bukan hanya pekerjaan biasa tetapi harus menjadi profesi,” ujarnya.
Menurut ASR, sektor pertanian memiliki peluang ekonomi yang besar apabila dikelola secara optimal. Ia memberikan gambaran, produktivitas sembilan ton gabah per hektar dengan harga Rp7.200 per kilogram berpotensi menghasilkan pendapatan kotor sekitar Rp64,8 juta dalam satu kali panen, sebelum dikurangi biaya produksi.
Dengan dukungan teknologi, ketersediaan air, dan jaringan irigasi yang memadai, Gubernur berharap frekuensi panen yang sebelumnya dua kali dalam setahun dapat ditingkatkan menjadi empat kali.
Selain pembangunan jalan usaha tani, Pemprov Sultra terus memperkuat dukungan melalui penyediaan jaringan irigasi tersier, sumur bor, bantuan benih padi, pupuk, kapur pertanian, serta alsintan.
Bantuan tersebut diarahkan untuk meningkatkan efektivitas kegiatan pertanian, mengurangi beban kerja petani, dan memperkuat hasil produksi.
Dukungan juga menyasar sektor peternakan melalui penyediaan bibit ayam petelur beserta pakan. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketersediaan sumber protein sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan masyarakat.
Khusus di Kabupaten Kolaka Timur, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Peternakan Sultra, Muhammad Taufik, memaparkan sejumlah dukungan pemerintah sepanjang 2025.
Di antaranya bantuan benih padi untuk lahan seluas 5.999 hektare, benih jagung hibrida 1.378 hektare, pupuk padi 3.640 hektare, dan pupuk jagung 2.550 hektare.
Pemerintah juga menyalurkan 202 unit hand sprayer, sekitar 12 unit traktor roda dua dan roda empat, pupuk NPK sebanyak 42,8 ton, serta 1.040 ekor ayam petelur beserta pakannya.
Sementara pada 2026, dukungan kembali dialokasikan berupa sekitar 13 unit traktor tangan, satu unit mesin panen atau combine harvester, enam unit traktor roda empat, serta pembangunan jaringan irigasi tersier sepanjang 160 meter.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur ASR juga mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi perubahan kondisi cuaca.
Menurutnya, kekeringan yang terjadi saat ini harus menjadi pelajaran bagi pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mempersiapkan langkah antisipasi terhadap potensi cuaca ekstrem.
“Berdasarkan data dari BMKG, tahun ini kita mengalami kekeringan, namun tahun depan diprediksi akan ada curah hujan tinggi yang berpotensi banjir. Oleh karena itu, mulai saat ini perlu dipersiapkan segala sesuatunya, termasuk penampungan air, sehingga nantinya dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya pengelolaan sumber daya air dalam pembangunan pertanian. Infrastruktur irigasi, sumur bor, dan penampungan air menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan di tengah perubahan iklim.
Dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian mendapat apresiasi dari masyarakat, khususnya kelompok tani yang merasakan langsung manfaat bantuan.
Camat Loea, Ahmad Darwis, mengapresiasi kehadiran Gubernur ASR dalam kegiatan panen raya di Desa Woikondo, Kecamatan Loea, sekaligus penyaluran bantuan alsintan kepada kelompok tani.
Apresiasi serupa disampaikan Ketua Kelompok Tani di Woikondo, Amiruddin. Ia menyampaikan terima kasih atas bantuan alat pertanian yang diberikan pemerintah provinsi.
Namun, dalam sesi temu wicara, Amiruddin juga menyampaikan aspirasi agar pemerintah memberikan perhatian terhadap pembangunan jaringan irigasi dan jalan usaha tani di wilayahnya.
Menurutnya, kedua infrastruktur tersebut sangat dibutuhkan untuk mendukung aktivitas pertanian, memperlancar pengangkutan hasil panen, dan meningkatkan produktivitas lahan.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Kada Situru di Desa Sabiano, Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Kasri, sebelumnya juga menyampaikan kebutuhan petani terhadap tambahan alsintan, khususnya traktor roda empat.
Ia turut menyoroti perlunya pembenahan sistem distribusi air ke sawah agar pengairan dapat berlangsung lebih merata.
Berbagai aspirasi tersebut menjadi masukan penting bagi pemerintah untuk memastikan program pembangunan pertanian benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat di lapangan.
Penguatan pertanian yang dilakukan Pemprov Sultra menunjukkan bahwa pembangunan ketahanan pangan membutuhkan dukungan menyeluruh, mulai dari infrastruktur, sarana produksi, teknologi, hingga peningkatan kapasitas petani.
Bagi Sulawesi Tenggara, sektor pertanian juga menjadi bagian penting dari pembangunan berbasis agromaritim yang mengoptimalkan potensi sumber daya darat dan laut untuk memenuhi kebutuhan pangan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Melalui berbagai program tersebut, Gubernur Sultra, Andi Sumangerukka mendorong agar petani tidak hanya mampu mempertahankan produksi, tetapi juga menjadikan sektor pertanian sebagai usaha yang produktif dan memiliki prospek ekonomi menjanjikan.
Sebab, di balik setiap pembangunan jalan usaha tani, jaringan irigasi, dan bantuan alsintan, terdapat harapan besar untuk memperkuat kemandirian pangan daerah.
Petani berdaya, produksi meningkat, pangan terjaga. Inilah semangat pembangunan pertanian Sulawesi Tenggara menuju daerah yang lebih mandiri dan sejahtera. (Adv)







