Ekobis

Neraca Perdagangan Sultra Defisit, Impor Mesin Melonjak Tajam

Dengarkan

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Neraca perdagangan Sulawesi Tenggara pada Februari 2026 tercatat mengalami defisit. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan neraca perdagangan barang Sultra minus sebesar US$1,74 juta.

Defisit terjadi karena nilai impor lebih tinggi dibandingkan ekspor. Pada Februari 2026, nilai ekspor Sultra tercatat sebesar US$291,74 juta, sementara impor mencapai US$293,49 juta.

Meski neraca perdagangan defisit, kinerja ekspor Sultra sebenarnya mengalami peningkatan secara tahunan. Nilai ekspor Februari 2026 naik 4 persen dibandingkan Februari 2025 yang sebesar US$280,53 juta. Namun dari sisi volume, ekspor justru turun 3,10 persen dari 205,44 ribu ton menjadi 199,07 ribu ton.

Peningkatan ekspor terbesar masih ditopang komoditas besi dan baja. Nilainya meningkat sekitar US$29,67 juta atau naik 11,54 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Secara kumulatif Januari–Februari 2026, ekspor Sultra masih didominasi sektor industri pengolahan dengan nilai US$605,24 juta atau sekitar 99,82 persen dari total ekspor. Nilai tersebut juga mengalami kenaikan 3,08 persen dibanding periode yang sama tahun 2025
.
Negara tujuan ekspor terbesar Sulawesi Tenggara masih didominasi Tiongkok dengan nilai US$583,78 juta atau sekitar 96,28 persen dari total ekspor Sultra tahun 2026.

Sementara itu, dari sisi impor terjadi lonjakan yang cukup signifikan. Nilai impor Sultra Februari 2026 mencapai US$293,49 juta atau naik 167,02 persen dibanding Februari 2025. Volume impor juga naik 30,86 persen menjadi 362,17 ribu ton.

Kenaikan impor terbesar berasal dari golongan mesin dan pesawat mekanik yang meningkat hingga US$163,34 juta atau melonjak 2.491,81 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Selama Januari–Februari 2026, tiga negara pemasok barang impor terbesar ke Sultra adalah Tiongkok dengan nilai US$383,21 juta, Singapura US$77,12 juta, dan Malaysia US$30,02 juta.

Berdasarkan golongan penggunaan barang, peningkatan impor terbesar terjadi pada barang modal yang mencapai US$280,58 juta atau naik 2.014,05 persen. Selain itu, impor barang konsumsi naik 441,70 persen dan bahan baku/penolong meningkat 17,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lonjakan impor barang modal ini mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas investasi dan pembangunan industri di Sulawesi Tenggara, meski di sisi lain menyebabkan neraca perdagangan mengalami defisit pada Februari 2026. (cds)

Reporter: Septiana Syam
Editor: Wulan

Facebook Komentar

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button