Opini

Gubernur Sultra Harus Bisa Menjembatani Perbedaan Di Bumi Sumbu Anoa

Dengarkan

Di tengah keberagaman Sulawesi Tenggara (Sultra) sejatinya akan menimbulkan dialektika yang indah, guna menjaga keberagaman sebagai tantangan untuk menjaga kesatuan. Gubernur Andi Sumangerukka (ASR) setelah setahun memimpin harusnya sudah belajar memahami Sultra dengan baik di saat situasi yang rentan, dengan adanya potensi perpecahan etnik. Sengaja esai ini saya membahasnya dalam kacamata bagaimana pendekatan “cross cutting culture” sebagai strategi budaya yang memotong batas-batas kelompok sehingga menjadi jalan keluar dari polarisasi yang berbahaya, dengan fokus pada kepentingan bersama untuk Sultra yang lebih besar daripada identitas kesukuan.

Melawan Mitos “Putra Daerah”

Kemenangan ASR dalam Pilkada Sultra 2024 dapat kita artikan merupakan fenomena politik yang dapat “mematahkan mitos” lama yang di dipegang, bahwa jabatan gubernur hanya dapat diduduki oleh “putra daerah” dari suku-suku utama seperti Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene. Pada titik inilah seharusnya ASR dapat secara bijak tampil sebagai Top Leader  mengingat beliau sendiri berasal dari suku Bugis (Sulawesi Selatan), yang bersama kelompok pendatang lainnya, menjadi bagian signifikan dari populasi Sultra.

Menarik untuk diselami lebih dalam, justru adanya “isu putra daerah” merupakan fire back bagi sebagian lawan-lawan politiknya ASR selama kampanye pilgub kemarin berbalik menjadi pendorong kemenangannya. Hal ini mengkonsolidasi solidaritas dan meningkatkan dukungan dari kelompok-kelompok pendatang, sekaligus menarik simpati dari sebagian warga yang lebih mengutamakan isu kepemimpinan yang bersih dan berfokus pada pembangunan ekonomi. Kemenangan ini menunjukkan bahwa, meskipun identitas kesukuan kuat, ada ruang bagi narasi baru yang lebih inklusif.

Ancaman Polarisasi Yang Nyata Yagi Keberagaman

Menurut keyakinan saya, jalan ASR tidak mudah bahkan polarisasi ditengah masyarakat akan terus terhunus tajam abila keberagaman masyarakat Sultra tidak terjaga.  Keberhasilannya yang dicapai ASR dalam memecahkan mitos lama bisa memunculkan ketegangan baru apabila tidak ada konsolidasi ditenga masyarakat. Dalam kaitan dengan politik identitas, perasaan “kekalahan” suatu kelompok pribumi bisa dimanfaatkan untuk membangun sentimen dan polarisasi. Dalam beberapa Riset akademis menunjukkan bahwa dalam konteks lain di Sulawesi, elite politik terkadang mengobarkan sentimen etnis dan agama untuk mobilisasi dukungan dan mencapai kepentingan politik mereka.

Ditambah dengan isu persekusi terhadap mantan gubernur (yang diasosiasikan dengan “putra daerah”), situasi menjadi seperti bara dalam sekam. Jika tidak dikelola dengan bijak, hal ini berpotensi memicu keterbelahan masyarakat sultra berdasarkan sentimen kesukuan yang sempit, mengancam kerukunan dan stabilitas pembangunan yang menjadi tujuan utama.

“Cross Cutting Culture” dan Pembangunan Inklusif

Di sinilah konsep “cross cutting culture” menjadi relevan. Alih-alih memperkuat batas-batas kelompok (etnis), pendekatan ini membangun “jembatan” yang menghubungkan berbagai kelompok melalui kepentingan dan identitas bersama yang lebih luas.

ASR dapat menjadikan Program Pembangunannya sebagai Perekat antar masyarakat terutama melakukan rembuk antara suku-suku besar disultra dalam bingkai budaya dengan memanfaatkan perayaan keagamaan atau peristiwa budaya tertentu untuk merangkul kembali keperbedaan dalam bingkai keberagaman untuk kemajuan sultra. ASR tampaknya menyadari hal ini. Dalam 100 hari kerjanya dan perencanaan RPJMD 2025-2029, ia memaparkan program-program prioritas yang berfokus pada kebutuhan dasar semua warga, tanpa memandang asal-usul, hal ini akan menjadi amunisi baru bila dalam implementasinya benar benar dapat di laksanakan. Dalam teori game, selalu ada upaya mendorong potensi besar untuk menjadikan gerakan cerdas sultraku (semisal)

ASR bisa juga menjadikan pembangunan Infrastruktur (Program JAMA’AH) Pembangunan dan rehabilitasi jalan antarwilayah serta dermaga, yang manfaatnya dirasakan oleh semua masyarakat atnik untuk mobilitas pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

ASR dapat mengedepankan program Pendidikan (Program PENGGARIS): Pemberian beasiswa daerah dan perlengkapan gratis untuk siswa dari seluruh kabupaten/kota.

ASR dapat mengampanyekan aksesbiliti masyarakat untuk mendapatkan penanganan pelayanan Kesehatan (Sultra Health Service). Dengan melakukan perluasan akses layanan kesehatan, termasuk pembangunan rumah sakit di daerah-daerah seperti Buton Tengah dan Konawe Kepulauan.

ASR Juga dapat menjadikan pemberdayaan Ekonomi (Program MANTU & LARIS) seperti Pemberian modal usaha untuk ibu-ibu dan stabilisasi harga pangan, yang langsung menyentuh kebutuhan rumah tangga.

Program-program ini hanya sebagian saja dan mungkin berpotensi menjadi alat pemersatu yang efektif karena manfaatnya bersifat universal. Ketika seorang petani Tolaki dan nelayan Bugis sama-sama menikmati jalan yang baik dan harga pangan yang stabil, identitas bersama sebagai “warga Sultra yang sejahtera” akan menguat.

Dengan dikedepankan pendekatan berbasis program, simbol-simbol budaya juga penting. Upaya seperti menampilkan pakaian adat empat etnis besar Sultra (Tolaki, Buton, Muna, Moronene) dalam sebuah paduan suara dengan tema “Garbarata” (akselerasi pemerataan pembangunan) adalah contoh praktis dari cross cutting culture. Kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan, tetapi pesan simbolis bahwa kekayaan budaya adalah fondasi untuk pembangunan yang menyatukan.LAK

LAK|Amijaya Kamaluddin

 

Facebook Komentar

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button