Ketua Tim Kerja Halakiemas, Mustakim. Foto: Istimew
KENDARI, DETIKSULTRA.COM – 17 Juli lalu penulis menonton acara Serambi Islam di TVRI Nasional salah satu pematerinya Asep Deni, menyebut kalimat bahwa “masalah itu (seharusnya disikapi) sebagai ilmu baru”.
Mungkin maksud kuat dari ungkapan Asep adalah masalah janganlah dianggap sebagai “masalah” yang selama ini disikapi banyak orang sebagai beban.
Jika dianggap sebagai “ilmu baru”, diharapkan seseorang mampu menghadapi masalahnya dengan penuh semangat seperti semangatnya para penuntut ilmu.
Penulis yakin sebagian besar pembaca artikel ini adalah orang-orang yang setidaknya pernah menuntut ilmu, apakah dalam pendidikan formal (SD, SLTP, SLTA, juga kuliah) atau pendidikan non formal seperti mondok di salah satu pondok pesantren untuk menggali ilmu dengan mengaji dan mengkaji ilmu-ilmu agama secara mendalam.
Ketika pertama kali masuk ke dalam kelas dengan status murid baru, biasanya semangat kita sangat besar untuk meraih ilmu-ilmu yang tentunya juga baru buat kita.
Sebenarnya ilmu baru itu adalah “masalah buat kita”, tapi kita menyikapinya bukan sebagai masalah karena kita menghadapinya dengan pikiran positif.
“Nah, inilah ilmu baru. Sesuatu yang baru” Tertanam seperti itu dalam hati kita. Ketika yang ternaman dalam hati seperti itu biasanya kondisi kita yakni siap menerimanya, siap menghadapinya dan siap menaklukkannya.
Pertama, siap menerima. Apapun bentuk ilmu baru bagi seorang pencari ilmu selayaknya ia menerimanya dengan ikhlas.
Keikhlasan menerima ilmu baru atau masalah dalam kehidupan adalah awal yang baik yang membuat langkah berikutnya menjadi lebih mudah.
Pun halnya masalah dalam keluarga. Keikhlasan menerima apapun masalah dalam keluarga juga menjadi kunci kemudahan dalam proses selanjutnya.
Contoh, sepasang suami istri baru yang awalnya belum mengenal lebih jauh tiba-tiba setelah menikah muncul semua sifat dan kelakuan aslinya. Apa sikap suami/istri setelah melihat hal itu (hal yg baru)?
Nasihat terbaik adalah “menerima pasangan kita apa adanya” dengan sikap menerima ini setidaknya sikap kita tidak emosional dalam langkah berikutnya.
Sikap non emosional adalah landasan agar sikap kita lebih bijaksana selanjutnya, pikiran pun menjadi lebih jernih dan bisa membuahkan langkah-langkah yang lebih baik dan cerah.
Kedua, menghadapinya. Setelah masalah kita terima, selanjutnya kita hadapi masalah tersebut dengan tenang.
Hal-hal yang terjadi di luar dugaan kita tentang diri pasangan kita, tentang persoalan ekonomi dalam keluarga, tentang perilaku anak-anak dalam keluarga tersebut, atau tentang apapun dalam sebuah keluarga.
Setiap masalah tentu harus dihadapi, sebagaimana penuntut ilmu menghadapi ilmu-ilmu baru yang dikenalnya.
Lari atau menghindari masalah tentu tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan sikap seperti ini adalah sikap pengecut.
Jika seorang penuntut ilmu lari dan menghindari ilmu baru, maka iapun tidak akan mendapatkan ilmu baru yang bisa berisiko pada kegagalan dalam pencarian ilmunya.
Sikapnya itu bisa saja nantinya membuat dirinya tidak akan lulus atau setidaknya nilainya jeblok karena ada ilmu yang tidak dia pahami karena dia hindari sebelumnya.
Ketiga, menaklukkannya. Tidaklah berlebihan jika penulis menyebutnya demikian. Masalah yang sudah ada di hadapan kita dan yang sedang kita hadapi tinggal kita taklukkan, dan kita optimis harus menang.
Seorang penuntut ilmu yang sudah berhadapan langsung dengan ilmu barunya selayaknya merasa penasaran untuk segera menaklukkan ilmu tersebut agar bisa dimilikinya.
Ketika ia telah menaklukkan ilmu hingga memiliki ilmu baru tersebut, maka dia hakikatnya sebagai pemenang.
Seorang anggota keluarga yang menghadapi masalah lalu berhasil menaklukkan masalah tersebut hingga “memilikinya”, maka iapun adalah pemenang.
Kenapa masalah harus berhasil kita miliki, mirip seperti ilmu? Apakah memang masalah benar-benar mirip ilmu hingga penulis anjurkan “menjadikan masalah dalam keluarga sebagai ilmu baru”.
Jawabannya justru masalah itu adalah ilmu yang sesungguhnya. Bukankah kita pernah mendengar pepatah “pengalaman adalah guru yang terbaik”.
Masalah itu adalah sesuatu yang kita alami. Sesuatu yang kita alami itulah yang disebut sebagai “pengalaman”.
Berarti masalah adalah “guru” buat kita, dan guru adalah sosok pemberi ilmu. Maka, semakin banyak masalah semakin banyak kita punya ilmu. Bahkan ilmunya bukan hanya sekadar teori tapi pengalaman. (kjs)
Penulis: Ketua Tim Kerja Halakiemas, Mustakim
This website uses cookies.