Hasmira Said (Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Tenggara/ Dosen Universitas Muhammadiyah Kendari)
Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan: Refleksi 109 Tahun ‘Aisyiyah Membangun Perdamaian
Oleh : Hasmira Said (Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sulawesi Tenggara/ Dosen Universitas Muhammadiyah Kendari)
Satu abad lebih telah berlalu sejak Nyai Ahmad Dahlan (Siti Walidah) meletakkan batu pertama perjuangan perempuan berkemajuan di Indonesia. Kini, di usianya yang ke-109 tahun, ‘Aisyiyah tetap tegak berdiri sebagai pilar peradaban. Mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian”, milad tahun ini bukan sekadar perayaan angka, melainkan momentum reaktualisasi peran perempuan dalam menjawab tantangan global yang kian kompleks.
*Dakwah Kemanusiaan: Melampaui Sekat Agama dan Bangsa*
Bagi ‘Aisyiyah, dakwah tidak hanya terbatas di atas mimbar. Dakwah adalah kerja nyata yang menyentuh akar rumput. Dalam konteks Dakwah Kemanusiaan, ‘Aisyiyah memandang bahwa memuliakan manusia adalah bagian integral dari ibadah kepada Allah SWT.
Selama 109 tahun, gerakan ini telah membuktikan bahwa tangan-tangan perempuan mampu memberdayakan ekonomi melalui Bina Usaha Ekonomi Keluarga Aisyiyah (BUEKA), mencerdaskan bangsa melalui amal usaha ‘Aisyiyah dalam bidang pendidikan adalah wujud nyata gerakan dakwah persyarikatan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Fokus utamanya tersebar luas mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Dasar dan Menengah, hingga Perguruan Tinggi, menjaga kesehatan melalui jaringan rumah sakit yang inklusif dengan mengelola sarana seperti Rumah Sakit, Klinik, dan Rumah Bersalin Aisyiyah guna mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan dan kesehatan masyarakat.
Mengelola berbagai fasilitas kemanusiaan termasuk panti asuhan, panti difabel, dan pusat pemberdayaan lansia, memberdayakan usaha mikro perempuan dan memberikan pendampingan digitalisasi serta pembiayaan.
Di wilayah Sulawesi Tenggara, semangat dakwah kemanusiaan ini juga termanifestasi nyata melalui kehadiran amal usaha yang menyentuh pelosok pesisir dan daratan. Kader-kader ‘Aisyiyah di Bumi Haluoleo tidak hanya berfokus pada pengajian rutin, tetapi juga aktif dalam pendampingan kelompok marjinal. Salah satu fokus utama gerakan ‘Aisyiyah Sultra adalah penguatan pendidikan sebagai fondasi pembangunan peradaban damai. Melalui Majelis Pendidikan Anak Usia Dini Dasar dan Menengah, ‘Aisyiyah terus meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi perempuan dan anak.
Saat ini, amal usaha pendidikan ‘Aisyiyah di Sulawesi Tenggara terdiri atas 36 TK/PAUD, 1 SD Islam Terpadu, dan 1 perguruan tinggi, yaitu Institut Sains Teknologi dan Kesehatan ‘Aisyiyah Kendari (ISTEK-AK).
Kehadiran ISTEK-AK memiliki nilai strategis karena menjadi perguruan tinggi pertama di Indonesia Timur yang didirikan oleh perempuan.
*Menjadi Penjahit Perdamaian*
Dunia saat ini sedang mengalami “luka” akibat polarisasi, konflik, dan ketimpangan sosial. Di sinilah peran ‘Aisyiyah menjadi krusial. Perdamaian dalam perspektif ‘Aisyiyah bukan hanya berarti “absennya perang”, melainkan hadirnya keadilan dan kesejahteraan bagi semua tanpa memandang latar belakang. Perdamaian yang hakiki hanya bisa terwujud jika setiap individu memiliki akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan kehidupan yang layak, yang merupakan hak dasar setiap manusia.
Kaitan dengan kondisi sosiologis di Sulawesi Tenggara yang multietnis, ‘Aisyiyah hadir sebagai perekat sosial. Melalui program pemberdayaan perempuan lintas komunitas, ‘Aisyiyah Sultra berperan meredam potensi gesekan sosial dengan mengedepankan dialog dan aksi kolaboratif.
Ketika perempuan-perempuan dari berbagai latar belakang suku di Sultra duduk bersama dalam program pemberdayaan ekonomi, di sanalah benih perdamaian dirawat, membuktikan bahwa perbedaan bukanlah celah konflik melainkan kekuatan untuk saling melengkapi.
*Implementasi Nyata di Bumi Haluoleo*
Khusus di Sulawesi Tenggara, tantangan geografis yang terdiri dari kepulauan menuntut strategi dakwah yang tangguh. Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Sultra terus berupaya memperkuat layanan kesehatan, terutama dalam isu-isu krusial seperti penurunan angka stunting dan kesehatan reproduksi.
Upaya ini merupakan bentuk dakwah kemanusiaan yang paling mendasar, yakni menjamin keberlangsungan generasi yang sehat dan berkualitas untuk memimpin bangsa di masa depan.
Selain itu, pemberdayaan ekonomi perempuan melalui kelompok-kelompok usaha kecil di bawah naungan ‘Aisyiyah Sultra memberikan dampak signifikan pada ketahanan keluarga. Di tengah fluktuasi harga komoditas lokal seperti kakao, mete, atau hasil laut, kader ‘Aisyiyah hadir memberikan pelatihan manajemen dan akses pasar.
Kemandirian ekonomi yang dibangun oleh kaum perempuan di Sultra ini secara otomatis meningkatkan posisi tawar mereka dalam pengambilan keputusan di ranah domestik maupun publik, yang menjadi syarat mutlak bagi terciptanya perdamaian dalam lingkup terkecil.
*Tantangan di Abad Kedua*
Memasuki usia ke-109, tantangan yang dihadapi tentu berbeda dengan era awal pendiriannya. Kita menghadapi krisis iklim, disrupsi teknologi, dan perubahan pola sosial yang cepat. Oleh karena itu, dakwah kemanusiaan ‘Aisyiyah adaptif dengan memanfaatkan teknologi digital, kolaboratif dengan berbagai elemen bangsa, dan inklusif untuk memastikan tidak ada kelompok rentan yang tertinggal dalam proses pembangunan.
PWA Sulawesi Tenggara pun kini mulai melirik penguatan dakwah lingkungan hidup (Green ‘Aisyiyah) sebagai respons terhadap kerusakan alam yang mengancam mata pencaharian masyarakat lokal. Edukasi mengenai pengelolaan sampah dan pelestarian ekosistem pesisir mulai diintegrasikan dalam kurikulum dakwah. Hal ini menunjukkan bahwa dakwah kemanusiaan ‘Aisyiyah Sultra tidak hanya peduli pada manusia, tetapi juga pada lingkungan yang menjadi tempat hidup manusia, demi mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan.
*Penutup: Terus Melintas Zaman*
Milad ke-109 ini adalah panggilan bagi seluruh warga ‘Aisyiyah, khususnya di Sulawesi Tenggara, untuk kembali ke jati diri gerakan: ikhlas mengabdi dan cerdas beraksi.
Mari kita jadikan momentum ini untuk memperkuat niat, bahwa setiap langkah yang kita ambil adalah untuk kemanusiaan, dan setiap tetes keringat kita adalah untuk perdamaian dunia. Perjalanan masih panjang, namun dengan keyakinan yang kokoh, dakwah ‘Aisyiyah akan terus menjadi cahaya bagi semesta.
Selamat Milad ke-109 ‘Aisyiyah. Teruslah bersinar dari ufuk timur Sulawesi Tenggara, mencerahkan semesta, dan menjadi oase kedamaian bagi kemanusiaan. Kendari 19 Mei 1917 – 19 Mei 2026.
This website uses cookies.