Opini

“CFD Ditambah Dua Hari” Memberikan Ruang Bernapas Baru Bagi Pekerja Korporat Dan Peluang Ekonomi Baru Kota

Dengarkan

CFD Ditambah Dua Hari” Memberikan Ruang Bernapas Baru
Bagi Pekerja Korporat Dan Peluang Ekonomi Baru Kota
(Sebuah Catatan untuk Gagasan Jumhur Hudayat Menteri KLH)

Oleh; Dr. Amijaya Kamaluddin

Barusan selepas berkegiatan di bilangan Sudirman, HI dan Thamrin, tetiba kami di suguhin pengalaman baru,  Kabar dari kerabat saya yang baru saja diwawancara salah satu stasiun TV Kompas, untuk dimintai pendapatnya soal wacana “Car Free Day (CFD) di Jakarta menjadi dua hari, Sabtu dan Minggu serta kemungkinan perpanjangan durasinya waktu hingga lewat jam 10 pagi”, sontak membuat saya ikut berpikir. Setau saya usulan yang awalnya datang dari Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat dan tengah dikaji oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung ini memang terasa “cukup rasional”(lihat Instagram jktinfo) . Namun, di balik rasionalitasnya, ada banyak lapisan manfaat dan tantangan yang perlu kita bedah bersama, terutama bagi kaum pekerja korporat yang setiap hari bergelut dengan ritme kota yang tak pernah tidur.

Sejatinya CFD ini bukanlah barang baru di Jakarta. Pertama kali digelar pada 23 Mei 2002 oleh koalisi LSM lingkungan, awalnya hanya sebulan sekali. Seiring waktu, kebijakan ini berkembang menjadi agenda mingguan setiap Minggu pagi di kawasan Sudirman, HI dan Thamrin, lalu diperluas ke Rasuna Said pada Juni 2026. Belakangan, pemerintah pusat melalui Kementerian Dalam Negeri bahkan menghimbau daerah-daerah untuk menambah hari, durasi, dan cakupan ruas jalan CFD. Surabaya merespons dengan menambah titik dan durasi, meski belum menambah hari. Bandung tetap menggelar CFD dua kali sebulan. Artinya, ekosistem kebijakan ini sudah yang mendukung untuk perluasannya. Bila kita jadikan Jakarta sebagai barometer nasional untuk mengadopsi CFD dua hari, bagi kota-kota lain punya rujukan kuat untuk mengikutinya.

Bagi pekerja alias budak korporat, terutama di Jakarta, rutinitas Senin sampai Jumat sering kali berarti duduk delapan jam di depan layar, terjebak macet, dan pulang dengan stres yang menumpuk. CFD dua hari, Sabtu dan Minggu akan memberi ruang bernapas yang lebih melegakan. Mengingat Sabtu pagi yang biasanya dipakai untuk urusan domestik atau sekadar rebahan kini bisa dimanfaatkan untuk berjalan kaki, bersepeda, atau sekadar menghirup udara yang lebih bersih di tengah kota. Adanya penelitian dan kampanye kesehatan menunjukkan bahwa CFD membuka ruang bagi masyarakat untuk beraktivitas fisik, menjaga kesehatan, memperkuat kebersamaan sosial dan sekaligus membangun kebahagiaan mental. Bagi pekerja yang rentan (burnout), ini bukan kemewahan, melainkan kebutuhan (need).

Lebih jauh dari itu, perpanjangan durasi hingga lewat jam 10 pagi memberi keleluasaan bagi mereka yang ingin berolahraga lebih lama atau berkumpul dengan komunitas. Selama ini, CFD di Sudirman-Thamrin berakhir pukul 10.00 WIB, sementara di Rasuna Said bahkan pukul 09.00 WIB karena alasan ibadah. Jika durasi ditambah, pekerja yang biasa bangun agak siang di akhir pekan tetap punya kesempatan menikmati fasilitas ini tanpa harus berdesakan di jam enam pagi.

CFD Berdampak Bagi Lingkungan, UMKM Dan Roda Ekonomi Kota

Tentang CFD bukan hanya soal kesehatan, ia adalah mesin ekonomi kerakyatan kota. Di situasi ketika CFD Rasuna Said perdana, pedagang minuman sari tebu mengaku kewalahan melayani lonjakan pembeli yang mendekati hampir 200 gelas ludes dalam waktu sesingkat, begitu juga dengan Pedagang tahu gejrot dan kue leker pun diserbu pengunjung sejak pagi. Jika CFD digelar dua hari maka para pelaku UMKM ini mendapat dua kali lipat kesempatan meraup rezeki. Didaalam peristiwa ini, ada perputaran uang di CFD yang terjadi memang tidak main-main, beberapa laporan menyebut angka ratusan juta rupiah berpindah tangan dalam setiap gelaran yang signifikan dengan durasi  5 jam hal in untuk memasarkan produk secara langsung.

Namun dari sisi tantangannya tetap saja ada, dari sejumlah pedagang ada juga yang mengeluh  omzet turun karena ketika dilakukan relokasi pedagang dipindah. Karena itu, penambahan hari CFD juga harus dibarengi dengan penataan zona UMKM yang lebih baik, agar manfaat ekonomi kota tidak hanya dinikmati segelintir pihak.

Jakarta punya masalah polusi udara yang serius, olehnya itu salah satu strategi yang berdampak adalah dengan mendukung kebijakan ini agar dua hari  setiap akhir pekan dilakukan CFD agar membantu percepatan menurunkan kadar polutan dan kebisingan. Jika CFD digelar dua hari, artinya ada dua hari dalam sepekan di mana kawasan strategis ibu kota bebas dari asap knalpot bagi pekerja budak korporat yang tinggal di sekitar Sudirman-Thamrin atau Rasuna Said, ini juga dapat di artikan akhir pekan yang lebih sehat bagi kota, inilah langkah kecil tapi cerdas menuju perbaikan kualitas udara yang lebih luas.

Tentu pula gagasan ini harus di cermati secara seksama dengan mitigasi risiko yang holistik            guna perluasan CFD yang bukan tanpa risiko. Kemacetan di ruas jalan alternatif bisa meningkat, terutama pada Sabtu pagi yang masih merupakan hari kerja bagi sebagian sector, biaya operasional, pengaturan lalu lintas, kebersihan, keamanan dan juga biaya anggaran yang bisa jadi over atau membengkak. Sebagai contoh kota Bandung pernah sempat menghentikan CFD karena temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait potensi kerugian daerah. Karena itu, kajian mendalam yang tengah dilakukan Pemprov Jakarta harus benar-benar matang, melibatkan semua pemangku kepentingan, dan memastikan bahwa penambahan hari tidak sekadar simbolis.

Pada akhirnya wacana “CFD dua hari”, adalah cerminan dari pertanyaan yang lebih besar lagi adalah,  kota seperti apa yang ingin kita bangun kedepan, jika kita percaya bahwa kota yang baik adalah kota yang memberi ruang bagi warganya untuk sehat, berinteraksi, dan mencari rezeki, maka “CFD dua hari” adalah langkah strategis kearah perbaikan. Bagi pekerja korporat, hal ini merupakan kesempatan untuk tidak sekadar menjadi roda penggerak ekonomi kota semata, tetapi juga manusia yang punya waktu untuk bernapas dengan udara bersih. Dan bagi kota-kota lain di Indonesia, Jakarta bisa menjadi contoh bahwa pembangunan tidak selalu soal beton dan jalan toll tetapi terkadang, yang dibutuhkan hanyalah jalan yang bebas dari kendaraan, agar warga bisa berjalan kaki dengan tenang.LAK

Facebook Komentar
Redaksi

This website uses cookies.