Mahasiswa Ilmu Komunikasi gelar simulasi pertemuan internasional. Foto: Istimewa.
KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Halu Oleo (UHO) kembali menyelenggarakan praktikum tahunan berupa simulasi pertemuan puncak negara-negara dunia (Summit Meeting). Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran mata kuliah Komunikasi Internasional dan telah dilaksanakan secara rutin sejak tahun 2018.
Tahun ini, simulasi Summit Meeting memasuki penyelenggaraan yang ke-7 dengan mengangkat tema
“Kolaborasi Multilateral Mitigasi Disrupsi Informasi Global”.
Dalam pertemuan puncak kali ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi berperan sebagai delegasi dari 12 negara, yaitu Brunei Darussalam, Amerika Serikat, Arab Saudi, Singapura, Tiongkok, Malaysia, Prancis, Korea Selatan, Inggris, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Jepang. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya dilatih untuk memahami mekanisme penyelenggaraan pertemuan puncak internasional dan memposisikan diri sebagai delegasi negara, tetapi juga diasah kemampuan berpikir kritisnya dalam merespons dan merumuskan solusi terhadap isu global. Khususnya terkait disrupsi informasi yang berkembang seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi.
Dalam pelaksanaan simulasi pertemuan puncak ini, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai delegasi negara, tetapi juga dibimbing secara intensif untuk memahami dan mempraktikkan dinamika kerja sama antarnegara dalam merespons berbagai isu global yang berkembang. Mahasiswa diarahkan untuk merumuskan sikap, kepentingan, serta strategi negara yang mereka wakili, kemudian mengkomunikasikannya melalui forum pertemuan resmi.
Selain itu, mahasiswa dilatih untuk menyampaikan pidato di hadapan forum internasional secara formal, layaknya kepala negara atau perwakilan resmi dalam rapat tingkat tinggi.
Pelatihan ini mencakup penyusunan naskah pidato, penguasaan materi, serta teknik penyampaian yang mencerminkan karakter diplomasi dan komunikasi kenegaraan. Mahasiswa juga dibimbing untuk meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan berbicara di depan umum, serta penggunaan bahasa yang sesuai, termasuk pemanfaatan bahasa Inggris dalam konteks komunikasi internasional.
Tidak kalah penting, mahasiswa diberikan pemahaman mengenai etika dan tata krama dalam forum resmi berskala besar. Mereka dibimbing untuk bersikap profesional, disiplin, dan berwibawa selama berlangsungnya rapat, mulai dari cara berinteraksi antar delegasi, menyampaikan pendapat, hingga mengambil keputusan bersama.
Melalui rangkaian pembelajaran praktik ini, mahasiswa diharapkan mampu menginternalisasi nilai-nilai diplomasi, kerja sama multilateral, serta kompetensi komunikasi internasional yang aplikatif dan relevan dengan tantangan global saat ini.
Dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Internasional, Dr. Sumadi Dilla, S.Sos., M.Si, mengapresiasi pelaksanaan simulasi Pertemuan Puncak yang dinilai terus mengalami perkembangan dari tahun ke tahun.
“Kegiatan yang telah dilaksanakan, baik pada tahun ini maupun tahun-tahun sebelumnya, sangat positif dan berjalan dengan baik,” tuturnya.
Hal itu menunjukkan perkembangan yang signifikan. Setiap pelaksanaan selalu menghadirkan hal baru, baik dari segi kreativitas maupun inovasi, sehingga daya tarik kegiatan semakin meningkat.
“Kegiatan ini juga berpotensi dikembangkan menjadi konten edukatif apabila disalurkan melalui berbagai media, sehingga tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tetapi juga dapat dinikmati oleh khalayak yang lebih luas,” ujarnya.
Ia berharap mata kuliah ini etap berlanjut dan terus berkembang. Kegiatan praktikum seperti ini diharapkan dapat terus dilaksanakan dan diajarkan kepada mahasiswa sebagai media pembelajaran yang aplikatif di luar kelas.
“Dengan begitu mahasiswa didorong untuk mengaitkan teori dengan praktik komunikasi nyata, khususnya dalam bidang komunikasi internasional,” ujarnya.
Sementara itu, Muhammad Hamzah Altafariza Abunawas selaku Ketua Panitia menilai praktikum ini memberikan manfaat nyata bagi pengembangan kemampuan mahasiswa.
“Saya merasa sangat senang karena praktikum ini dapat menjadi wadah untuk mengasah mental dan kemampuan public speaking, sekaligus melatih mahasiswa agar terbiasa berbicara menggunakan bahasa Inggris,” katanya.
Berharap kedepannya kegiatan ini dapat berjalan lebih baik lagi dan mampu melahirkan mahasiswa yang nantinya siap menjadi delegasi dalam pertemuan puncak internasional yang resmi, bukan lagi sekadar simulasi. (cds)
Reporter: Septi Syam
Editor: Wulan
This website uses cookies.