Muna Barat

Penggunaan Alat Tangkap Pukat Harimau di Maginti Menurun Drastis

PLAY

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Nelayan di Kecamatan Maginti, Kabupaten Muna Barat (Mubar), mulai beralih menggunakan alat tangkap ramah lingkungan.

Staf Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Mubar Laode Farid menyebutkan, perubahan perilaku nelayan tak terlepas adanya program Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP).

Program PAAP dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) Rare Indonesia benar-benar membuat nelayan lebih selektif memilih alat tangkap ikan ramah lingkungan.

“Dengan adanya program PAAP ini, nelayan di sini teredukasi untuk tidak menggunakan alat tangkap ikan yang tidak ramah lingkungan,” ujar dia, Jumat (10/9/2021).

Tercatat, sejak 2017 lalu, sebanyak 40 kapal nelayan terdeteksi menggunakan alat tangkap tak ramah lingkungan, berupa trawl atau jaring pukat harimau.

Penggunaan pukat harimau membuat terumbu karang menjadi rusak. Selain itu, bibit-bibit ikan yang masih kecil juga ikut terbawa pukat harimau. Sehingga mengancam kelangsungan hidup ikan di perairan.

Namun saat ini, dengan adanya PAAP mayoritas nelayan sudah tidak menggunakan lagi. Meski masih ada beberapa nelayan.

Selain nelayan sudah teredukasi, sebagai solusi pihak DKP Mubar mengalokasikan anggaran untuk pengadaan alat tangkap ramah lingkungan, seperti bubu ikan, jaring lingkar, pukat pantai dan alat tangkap ramah lingkungan lainnya.

Nanti, motodenya lanjut Farid, pihaknya menyiasati dengan cara menukar alat tangkap nelayan yang tak ramah lingkungan dan menukar alat ramah lingkungan dari DKP.

“Sekarang laporannya itu masih ada enam kapal yang menggunakan, itu pun sudah di luar perairan PAAP-nya kita. Tapi kita akan pelan-pelan memberikan pemahaman ke nelayan kalau trawl ini sudah dilarang dan membahayakan biota laut jika masih digunakan,” katanya.

Lebih lanjut, Farid yang juga Pendamping Teknis Program PAAP Kecamatan Maginti mengatakan pihaknya juga mencatat masih ada nelayan yang pakai alat tangkap bom dan bius ikan.

Tetapi tidak sesiginifikan penggunaan alat tangkap pukat harimau. Namun penggunaan itu juga dapat diredam dengan cara mengedukasi nelayan melalui program PAAP ini.

“Penggunaan trawl lebih banyak ketimbang bom dan bius ikan. Jarang tapi nelayan sudah tidak lagi mau menggunakan. Makanya kita targetkan tahun depan sudah tidak yang memakai trawl atau alat tangkap yang tidak ramah lingkungan,” ujarnya.

 

Reporter: Sunarto
Editor: J. Saki

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button