Metro Kendari

Inflasi Sultra Juni 2026 Capai 4,68 Persen, Gejolak Global hingga Harga Ikan Jadi Pemicu

Dengarkan

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Tenggara mencatat inflasi tahunan (year on year) Sulawesi Tenggara pada Juni 2026 mencapai 4,68 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,60.

Dari dua daerah yang menjadi lokasi penghitungan IHK, Kota Baubau mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,60 persen dengan IHK 116,58. Sedangkan Kabupaten Konawe menjadi yang terendah dengan inflasi 2,12 persen dan IHK 113,78.

Kepala BPS Provinsi Sulawesi Tenggara, Hadi Susanto, mengatakan inflasi dipicu oleh kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat.

Seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan, mulai dari makanan, minuman dan tembakau sebesar 5,88 persen, pakaian dan alas kaki 0,08 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 3,81 persen, perlengkapan rumah tangga 2,37 persen, kesehatan 0,37 persen, transportasi 6,59 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,22 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 1,24 persen, pendidikan 3,81 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,66 persen, hingga perawatan pribadi dan jasa lainnya 8,55 persen.

“Selain inflasi tahunan, Sulawesi Tenggara juga mengalami inflasi month to month (m-to-m) sebesar 1,29 persen dan inflasi year to date (y-to-d) sebesar 4,55 persen,” ujarnya saat ditemui di kantornya, Rabu (01/07/2026).

Menurutnya, tingginya inflasi tidak lepas dari dampak ketegangan geopolitik global yang berlangsung sejak awal tahun. Kondisi tersebut mempengaruhi rantai pasok sejumlah komoditas sehingga harga barang yang dikonsumsi masyarakat ikut meningkat.

“Inflasi ini memang ada pengaruh geopolitik yang dimulai dari Januari, Februari dan terus berlanjut hingga hari ini. Ketegangan geopolitik masih terasa dan itu berpengaruh terhadap pasokan beberapa komoditas,” katanya.

Meski demikian, ia menegaskan tidak semua kenaikan harga dipicu oleh faktor global. Beberapa komoditas pangan, seperti cabai, mengalami kenaikan karena faktor musiman yang memang terjadi setiap tahun.

Sementara itu, harga ikan juga mengalami peningkatan akibat kondisi cuaca dan musim timur yang masih berlangsung. Nelayan kesulitan melaut sehingga hasil tangkapan berkurang dan berdampak pada kenaikan harga di pasaran.

“Harga ikan naik karena masih ada sisa musim timur. Nelayan agak sulit menangkap ikan sehingga pasokannya berkurang dan harga menjadi lebih tinggi,” jelasnya.

Untuk bulan berikutnya, BPS berharap tekanan inflasi mulai mereda seiring membaiknya pasokan ikan dan meredanya situasi geopolitik dunia.

“Mudah-mudahan tidak ada lagi faktor baru yang memicu kenaikan harga, sehingga tekanan inflasi ke depan bisa semakin menurun,” tutupnya. (cds)

 

Reporter: Septiana Syam
Editor: Wulan

Facebook Komentar

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button