Metro Kendari

Penguatan Kewirausahaan dan Manajemen Usaha Berbasis Potensi Lokal pada Komunitas Nelayan Desa Bokori

Dengarkan

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Program Pascasarjana Universitas Halu Oleo (UHO) melaksanakan pengabdian kepada masyarakat melalui Program Kemitraan Masyarakat Internal (PKMI).

Dalam program tersebut, Pascasarjana UHO memberikan penguatan kewirausahaan dan manajemen usaha berbasis potensi lokal pada komunitas nelayan Desa Bokori, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), Minggu (5/10/2025).

Prof. Sudirman Zaid selaku Ketua Tim Kegiatan atau pengusul dalam program tersebut, dengan anggota Prof. Samdin, Dr. Juharsah, Dr. Hayat Yusuf, Dr. Wahyuniati Hamid, La Harjoprawiro, Conny, dan Harmiaty Bahar. Jumlah peserta sebanyak 30 orang.

Secara umum, program ini bertujuan untuk memberdayakan komunitas nelayan Desa Bokori melalui penguatan kewirausahaan dan manajemen usaha berbasis potensi lokal, guna meningkatkan nilai tambah ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

Ketua Tim, Prof. Dr. Sudirman Zaid mengatakan, Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar. Kendati demikian, potensi yang besar ini seringkali tidak diimbangi dengan kesejahteraan yang memadai bagi para pelaku utamanya, yaitu komunitas nelayan.

Banyak nelayan masih menghadapi tantangan klasik, seperti keterbatasan akses modal, rendahnya nilai jual hasil tangkapan, ketergantungan pada tengkulak, dan minimnya diversifikasi produk olahan.

“Kondisi ini memperpanjang rantai kemiskinan dan mengancam keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir. Desa Bokori di Kecamatan Soropia, merupakan potret nyata dari komunitas pesisir yang menghadapi paradoks tersebut, ” katanya.

Secara geografis, desa ini dikaruniai potensi alam yang luar biasa, dengan hamparan perairan yang kaya akan hasil laut dan didukung oleh keindahan Pulau Bokori yang mulai dikenal sebagai destinasi wisata unggulan dengan julukan “Maldives-nya Indonesia Timur”.

Namun, di balik potensi yang begitu besar, komunitas nelayan Desa Bokori masih menghadapi sejumlah masalah mendasar.
Hasil tangkapan ikan umumnya masih dijual dalam bentuk mentah dan segar dengan harga yang fluktuatif dan sangat dipengaruhi oleh musim serta perantara.

Nelayan seringkali tidak memiliki daya tawar yang kuat, sehingga margin keuntungan yang mereka peroleh sangat tipis. Selain itu, minimnya pengetahuan tentang teknologi pengolahan hasil perikanan menyebabkan tidak adanya nilai tambah (added value) yang diciptakan dari komoditas yang mereka miliki.

“Ikan yang melimpah pada musim tertentu hanya berakhir dengan harga yang murah atau bahkan terbuang karena tidak dapat ditangani dengan baik,” ucapnya.

Prof. Sudirman mengungkapkan, tujuan program ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan komunitas nelayan dalam teknik pengolahan hasil perikanan menjadi produk bernilai jual tinggi (seperti abon, kerupuk, ikan asin premium).

Selanjutnya, untuk meningkatkan kapasitas kewirausahaan dan manajemen usaha dalam mengelola jasa wisata (penyewaan perahu, homestay) dan usaha produk olahan. Tujuan lainnya adalah untuk melatih komunitas nelayan dalam memanfaatkan teknologi digital untuk pemasaran produk dan jasa wisata.

“Selain itu untuk mendampingi terbentuknya dan terlatihnya Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang berfungsi efektif untuk mengelola usaha secara kolektif,” ungkapnya.

“Para nelayan juga bisa mendapatkan manfaat dari program ini yakni, meningkatkan pendapatan keluarga, memperkuat kemandirian ekonomi, serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan praktis,” tambahnya.

Melalui kegiatan pelatihan dan pendampingan, masyarakat diharapkan mulai berpikir kreatif dan berorientasi pada nilai ekonomi jangka panjang, bukan hanya menjual hasil tangkapan secara mentah.

Kelompok nelayan diharapkan memiliki pengetahuan dan keterampilan kewirausahaan yang lebih baik, mampu mengelola usaha kecil dengan manajemen yang terstruktur, dapat mengolah hasil laut menjadi produk bernilai tambah.

Selain itu juga, diharapkan kelompok ini mampu memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pemasaran produk;
Meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga melalui kegiatan usaha yang berkelanjutan.

“Dengan demikian, kegiatan ini bukan hanya berorientasi pada pelatihan sesaat, tetapi juga diarahkan pada pembentukan ekosistem ekonomi pesisir yang mandiri dan berdaya saing,” pungkasnya. (bds)

Reporter: Muh Ridwan Kadir
Editor: Wulan

Facebook Komentar

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button