Metro Kendari

Sekjen DPP REI Sebut Daya Beli Masyarakat Jadi Kendala di Sektor Properti

Dengarkan

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Sekretaris Jenderal DPP Real Estate Indonesia (REI), Raymond Ardan Arfandy mengungkapkan daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor kendala di sektor properti di Indonesia termasuk Sulawesi Tenggara (Sultra).

Hal tersebut ia sampaikan dalam Musyawarah Daerah (Musda) REI DPD REI Sultra, bertempat di salah satu hotel di Kendari, Kamis (10/7/2025), dengan tema “Sukseskan 3 Juta Rumah Menuju Indonesia Emas 2045”.

Raymond menyampaikan, permasalahan properti bukan terkait dengan supply atau jumlah rumah yang tersedia, tetapi faktor utamanya adalah demand atau daya beli masyarakat.

“Kalau kita di targetkan 3 juta unit sesuai program Asta Cita Presiden maka saya kira itu bisa terpenuhi, tetapi ini bukan persoalan supply-nya tetapi demand-nya,” katanya.

Lanjutnya, pasca pandemi covid beberapa tahun lalu, kondisi tersebut sangat berdampak pada daya beli masyarakat akan kepemilikan rumah khususnya unit subsidi.

“Ini merupakan tugas kita bersama baik REI, mitra terkait, hingga sinergi dengan pemerintah untuk menemukan skema yang cocok untuk mengatasi persoalan tersebut,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman mengatakan, berbagai persoalan terkait dengan properti, pemerintah selalu hadir untuk menemukan solusi bersama.

Olehnya itu, ia bersama beberapa OPD Pemkot Kendari telah melakukan rapat bersama untuk mengatasi berbagai masalah yang dihadapi oleh para developer perumahan.

“Dalam kesempatan rapat tersebut, saya meminta kepada seluruh OPD untuk tidak mempersulit para developer. Tetapi developer ini juga harus memenuhi persyaratan yang ada sesuai dengan mekanisme yang berlaku,” tutupnya.

Ketua DPD REI Sultra, Danang Sutarko mengatakan terkait dengan supply tentu para anggota REI bisa memenuhi target yang diminta, namun menjadi kendala adalah demand-nya.

“Para teman-teman pengembang juga sangat merasakan daya beli saat ini sangat menurun, kalau kita diminta berapapun kami siap, tetapi kembali ke demand atau daya beli,” katanya.

Lanjut Danang, persoalan lainnya yakni terkait dengan pengurusan dokumen kelengkapan di perbankan. Ada beberapa kasus riwayat kredit buruk dari pemohon.

“Jadi beberapa kasus calon pembeli terkendala di perbankan, karena mungkin namanya kurang bagus. Jadi disatu sisi ingin beli rumah namun sisi lain namanya kurang bagus,” tutupnya. (bds)

Reporter: Muh Ridwan Kadir
Editor: Wulan

Facebook Komentar

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button