Opini

STQHN Kendari: Meneguhkan Spirit Qur’an dan Hadits

Dengarkan

STQHN Kendari: Meneguhkan Spirit Qur’an dan Hadits
Oleh: Luqman Hakim

Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits Nasional (STQHN) ke-28 yang digelar di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, pada 9–19 Oktober 2025, bukan sekadar lomba baca Al-Qur’an dan Hadits. Lebih dari itu, STQHN adalah ruang spiritual kebangsaan, tempat di mana ayat-ayat suci kembali dihidupkan di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan materialistik.

Kehadirannya menjadi penanda bahwa di tengah gempuran digitalisasi dan pragmatisme, nilai-nilai ilahiah masih memiliki tempat dalam hati bangsa. Dengan subtema “Meneguhkan Spirit Al-Qur’an sebagai Pilar Kerukunan dan Kepedulian terhadap Lingkungan,” STQHN 2025 berupaya mengingatkan kita bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dilantunkan, tetapi juga untuk dihayati dan diwujudkan dalam tindakan nyata.

Ribuan peserta dari berbagai provinsi datang ke Kendari dengan semangat belajar dan mengajarkan Al-Qur’an. Mereka bukan hanya tampil untuk memperoleh juara, tetapi juga berproses menjadi insan Qur’ani: ikhlas, berilmu, dan berakhlak. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Hadits ini bukan sekadar penghias lomba, tetapi menjadi napas dari seluruh kegiatan STQHN.

Kebaikan sejati tidak berhenti pada suara yang merdu, tetapi pada kemauan untuk menjadikan nilai-nilai Qur’an dan Sunnah sebagai etika hidup, di rumah, di kantor, di ruang sosial, dan bahkan di dunia digital. STQHN telah menjadi ruang pembinaan moral bangsa. Dari ajang ini tumbuh generasi muda yang tidak hanya pandai membaca ayat, tetapi juga mampu menafsirkan kehidupan dengan pandangan wahyu da sunnah Nabi.

Kendari bukan sekadar tuan rumah yang hangat, tetapi juga cermin harmoni sosial. Masyarakatnya hidup dengan falsafah “Sara Patanguna”, empat pilar kehidupan yang terdiri atas Sara (agama), Adati (adat), Syara’ (syariat), dan Pemerintah. Falsafah ini menegaskan keseimbangan antara spiritualitas dan budaya. Di Kendari, agama dan adat tidak saling meniadakan, tetapi saling menguatkan dalam bingkai moralitas dan kebersamaan. Inilah semangat yang juga diusung oleh STQHN: mempertemukan nilai ilahi dan realitas sosial dalam harmoni yang indah.

Di sela-sela kompetisi, para kafilah dari berbagai provinsi duduk berdampingan, berbagi kisah dan doa. Dari Kendari, kita belajar bahwa semangat Qur’ani tidak hanya dibaca di panggung, tetapi dihidupkan dalam sikap saling menghargai dan menebar kasih.

Dakwah Ekologis dari Panggung STQHN

Salah satu sisi menarik STQHN tahun ini adalah penegasan pada isu lingkungan. Di tengah krisis iklim global, tema kepedulian ekologis bukan sekadar simbol, tetapi cerminan dari panggilan iman. Al-Qur’an berulang kali mengingatkan agar manusia tidak membuat kerusakan di muka bumi. Menjaga alam adalah bagian dari menjaga amanah keimanan.

Ada gerakan penghijauan, pengelolaan sampah, dan kampanye penggunaan bahan ramah lingkungan. Di sinilah tampak bahwa spiritualitas Qur’ani harus turun ke bumi, menjadi tindakan yang melindungi ciptaan Allah. Ketika seorang qari melantunkan ayat tentang penciptaan langit dan bumi, nilai-nilai ekoteologi Islam menemukan bentuknya, bukan sekadar dalam kata, tetapi dalam aksi nyata.

Kendari juga memberi pelajaran penting tentang bagaimana Islam hidup berdampingan dengan tradisi lokal. Di kampung-kampung pesisir, masyarakat masih membaca Surah Yasin sebelum berangkat melaut atau berdoa bersama sebelum menanam padi. Inilah wajah Islam yang membumi, tidak menghapus adat, tetapi menyucikannya dengan nilai-nilai tauhid dan akhlak.

STQHN hadir menegaskan pesan yang sama: Islam tidak elitis, tidak eksklusif, dan tidak menjauh dari kehidupan rakyat. Menjadi Qur’ani berarti membawa kebaikan di mana pun berada, di masjid, di pasar, di ladang, di kantor, bahkan di ruang digital.

Di tengah polarisasi sosial, degradasi moral, dan kerusakan lingkungan, STQHN Kendari menjadi oase spiritual yang menyejukkan. Ia hadir mengingatkan bangsa bahwa cahaya Al-Qur’an tidak akan pernah padam, asalkan terus dijaga oleh generasi yang berakhlak dan berilmu.

Dari Kendari, kita berharap lahir generasi Qur’ani yang berakhlak Nabawi, mereka yang tidak hanya fasih melantunkan ayat, tetapi juga mampu menafsirkan kehidupan dengan kasih sayang, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama serta alam. Generasi inilah yang akan menjadi penerus bangsa: membawa cahaya Al-Qur’an, menjaga bumi, dan menebarkan rahmat bagi seluruh alam.

Luqman Hakim
Ketua Tim MTQ Kanwil Kemenag Jawa Timur

Biodata :

  1. Ketua Tim Seksi Pengembangan Seni Budaya Islam Dan MTQ Hadits Kanwil Kemenag Jatim
  2. Pengurus PWNU Jatim
  3. Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Jatim
  4. No HP: 085103060416
  5. Email : hakim.luk81@gmail.com
Facebook Komentar
Redaksi

This website uses cookies.