Metro Kendari

Menelusuri Proses Pekerja Galangan Kapal, Pahlawan di Balik Melimpahnya Pasokan Ikan

Dengarkan

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Angin Muson Timur baru saja dimulai bulan ini. Bagi para pekerja servis bengkel kapal, angin timur adalah pertanda untuk segera merampungkan pekerjaan mereka. Cuaca tidak bersahabat akan menjadi kendala selama melakukan pengejaan kapal.

Tak jauh dari Pelabuhan Perikanan Samudra (PPS) Kendari. Nampak sebuah kapal motor nelayan berukuran 20×5 meter dengan berat hampir 30 ton telah dikerjakan sejak tiga bulan lalu di UPTD Balai Pelayanan Jasa Dock dan Perbengkelan Kapal.

Disinilah para pekerja servis kapal atau docking kapal berperan. Dari tangan-tangan mereka, kapal mampu kembali berlayar dengan baik untuk digunakan nelayan menangkap ikan.

Mansyur salah satunya. Laki-laku berusia 51 tahun ini tampak sedang menghaluskan bagian permukaan lantai kapal dengan mesin gurinda. Tinggal beberapa hari lagi, tahap akhir pengerjaan selesai. Faktor usia menyebabkan kapal mengalami kerusakan hampir ke seluruh bagiannya.

“Sudah dihaluskan, tinggal dicat ulang saja supaya lambung kapal bisa kuat dan tahan lama,” ujar bapak enam anak ini, Sabtu (25/11/2023).

Mansyur dibantu tujuh orang anak buahnya telah bekerja di bengkel ini sejak 2003 lalu. Mereka dipercaya mengerjakan setiap kerusakan kapal dengan sistem borongan.

Biaya servis sebuah kapal berjenis GT 30 yang sedang dikerjakan sejak Februari hingga saat ini, dipatok seharga Rp400 juta lebih. Mansyur dan anggotanya menerima upah 20 persen dari harga tersebut.

“Pemilik minta diganti semua kayunya, tambah ketebalan dinding lambungnya. Karena lantai kapal sudah banyak keropos, tinggi badan kapal juga ditambah, jadi biaya untuk beli bahannya banyak sekali” jelas Mansyur.

Ketebalan lambung kapal semakin menipis dan kayu dimakan kutu akibat terlalu lama terendam air laut kerap menyebabkan kebocoran. Kondisi itu menjadi permasalahan yang harus dihadapi para pemilik kapal. Saat itulah kapal butuh perawatan.

Pekerjaan Mansyur dan anak buahnya dimulai ketika kapal dibantu mesin penderek selesai dipindahkan ari permukaan air ke atas Pit atau landasan kapal yang telah dibuat dari tumpukan pasir atau kayu.

Setelah kapal selesai dinaikkan, dilanjutkan dengan membongkar dinding lambung kapal hingga menyisakan rangka. Seorang anak buah bernama Samsul sigap mempersiapkan bahan, seperti kayu, besi, lem khusus, dempul, plat baja dan semua peralatan yang dibutuhkan.

“Bagian paling sulit bagaimana menyusun dan menyatukan bagian-bagian kayu, melengkung membentuk lambung kapal, kita harus ekstra teliti di tahap itu,” ujarnya.

Selama proses pengerjaan, kendala lain yang harus dihadapi Mansyur dan anak buahnya adalah rasa gatal pada kulit akibat terkena percikan serat fiber yang dipasang. Serat fiber berbentuk halus terbuat dari bahan polyester, berguna sebagai media lapisan permukaan kayu.

“Jadi kalau malam pas mau tidur kita semua rasakan gatal d ibadan, padahal sudah mandi. Karena seratnya kecil da lengket karena sudah tercampur lem kimia,” ungkapnya.

Untuk mengatasinya, Mansyur menggunakan isolasi dengan cara menempelkannya di kulit yang gatal lalu dicabut. Dengan harapan serat halus itu bisa ikut saat isolasi dilepas.

Tahap akhir ialah pengecatan ulang lambung kapal. Mansyur membagi anak buahnya mengecat seluruh bagian lambung kapal. Selain agar kapal lebih cantik, cat khusus tahan air juga berfuqngsi melindungi badan kapal dari keropos dalam jangka waktu lama.

“Jadi kalau sudah dicat dengan cat khusus, kayu kapal bisa tahan sampai puluhan tahun, tergantung perawatan dan pemakaiannya,” ujarnya.

Peran pekerja servis kapal sangat penting bagi para nelayan. Semangat dan jerih payah mereka pun tak pernah sia-sia. Kapal nelayan bisa kembali berlayar mencari ikan hingga ke lautan lepas untuk memasok ikan di berbagai pelabuhan ikan tradisional yang beroperasi 24 jam di Teluk Kendari. (ads)

 

Reporter: Geraldy Rakasiwi
Editor: Wulan

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button