Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura, La Ode Muhammad Rusdin Jaya. Foto: Muh Ridwan Kadir/Detiksultra.com
KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Dinas Perkebunan dan Hortikultura Sulawesi Tenggara (Sultra) mencatat kakao hingga mete menjadi komoditas unggulan hilirisasi di wilayah Sultra. Melalui arahan Gubernur Sultra, komoditas tersebut di sektor perkebunan tidak lagi dijual gelondongan. Hal ini untuk mendorong hilirisasi agar meningkatnya nilai jual.
Kepala Dinas Perkebunan dan Hortikultura, La Ode Muhammad Rusdin Jaya mengatakan berdasarkan hasil rapat bersama Kementerian Pertanian, ditetapkan ada tiga komoditas yakni kakao, mete dan tebu.
“Tentu ini sejalan dengan visi misi bapak gubernur yaitu menjadikan Sulawesi Tenggara menjadi pusat hilirisasi di sektor perkebunan, khususnya kawasan Indonesia Timur,” kata Rusdin di ruangannya, Senin (14/7/2025).
Lebih lanjut, kakao di Sultra khususnya di Kabupaten Kolaka Utara dan Kolaka merupakan komoditi dengan produksi tertinggi secara nasional.
Selanjutnya, komoditi mete yang menjadi unggulan hilirisasi di Sultra, dan terakhir adalah tebu yang saat ini sedang didorong skema dan pengembangannya oleh Kementan.
Olehnya itu dalam mendorong hilirisasi tersebut, maka diperlukan perluasan kawasan lahan, untuk kakao mencapai 217.803 hektare pada 2025, rencana perluasan seluas 60.000 hektare lahan baru.
Kakao di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) tercatat mencapai 217.803 hektare pada 2025, dan angka ini masih akan bertambah seiring rencana penambahan 60.000 hektare lahan baru oleh pemerintah.
“Rencana pengembangannya ini ada di Kabupaten Kolaka, Kolaka Utara dan Bombana. Dan akan dibangun pabrik di Kolut,” terangnya.
Adapun untuk mete rencana perluasan lahan mencapai 40.000 hektare yang terdapat di beberapa titik lokasi diantaranya Muna, Muna Barat, Bombana, Buton, Buton Utara, Buton Tengah.
“Dalam pengembangannya untuk hilirisasi, akan dibangun pabrik yang berlokasi di Bombana,” ungkapnya.
Rusdin menyampaikan sesuai dengan roadmap dari kementerian, hilirisasi ini akan dimulai tahun 2026, dan diperkirakan akan selesai pembangunannya sekitar 2 tahun ke depan.
“Secara umum kita harapkan ada serapan tenaga kerja, kalau ini kita bisa bangun untuk tiga pabrik maka serapannya tentu signifikan,” tutupnya. (bds)
Reporter: Muh Ridwan Kadir
Editor: Wulan
This website uses cookies.