Metro Kendari

Ekspedisi Wallacea Ungkap Kekayaan Hayati dan Arkeologi Sultra, Diusulkan Jadi Kawasan Konservasi Seluas 6.000 Kilometer Persegi

Dengarkan

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Serangkaian riset ilmiah bertajuk Wallacea Expeditions mengungkap kekayaan alam dan sejarah tersembunyi Sulawesi. Ekspedisi hasil kolaborasi Universitas Halu Oleo (UHO) bersama LSM internasional Naturevolution, dengan dukungan berbagai institusi nasional dan global, berhasil mengidentifikasi potensi keanekaragaman hayati dan arkeologi bernilai tinggi di sejumlah kawasan terpencil Sulawesi Tenggara (Sultra).

Ekspedisi ini melibatkan Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), International Cooperative Biodiversity Group (ICBG), serta University of California Davis (UC Davis).

Hasil riset tersebut dipaparkan dalam konferensi pers yang dihadiri Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Ir. Hugua, serta Wakil Rektor I Bidang Akademik UHO, Prof. Dr. La Ode Santiaji Bande, di salah satu hotel di Kendari, Senin (05/01/2026).

CO-Founder sekaligus Direktur Naturevolution, Evrard Wendenbaum, menjelaskan bahwa rangkaian ekspedisi telah dilakukan sejak 2012 dan tahap terbarunya rampung sekitar sepuluh hari lalu, menjelang Natal 2025. Fokus penelitian diarahkan pada wilayah-wilayah terpencil yang menyimpan nilai penting keanekaragaman hayati, arkeologi, dan sumber daya air.

“Awalnya kami melakukan eksplorasi di Madagaskar, namun sejak menemukan potensi luar biasa di Pegunungan Matarombeo pada 2012, Sulawesi menjadi fokus utama. Kawasan ini terbukti sebagai salah satu bentang hutan primer terbesar yang masih tersisa di Pulau Sulawesi,” ujar Evrard.

Untuk menjangkau area-area ekstrem, tim ekspedisi harus menempuh medan berat menggunakan perahu karet, menyusuri gua, berenang, hingga memanjat tebing. Upaya tersebut membuahkan temuan menakjubkan, mulai dari labirin alami, jembatan batu, gua raksasa, hingga artefak arkeologi berupa keramik, lukisan gua, dan sisa-sisa manusia purba. Berbagai spesies satwa endemik juga berhasil diidentifikasi.

Seri ekspedisi yang dimulai pada Maret 2023 ini menutup rangkaiannya dengan kunjungan ke Pegunungan Tangkelemboke, Karst Matarombeo, Gunung Mekongga, dan kawasan Sambori yang berada di wilayah Kabupaten Konawe Utara, Kolaka, dan Kolaka Utara. Pegunungan dengan ketinggian hingga 2.400 meter tersebut dikenal sebagai kawasan karst strategis yang berperan penting sebagai pemasok air bagi wilayah Sulawesi.

Dalam proses riset, Naturevolution menggandeng perguruan tinggi untuk melibatkan ilmuwan dan mahasiswa Indonesia. Sebanyak sembilan ekspedisi telah digelar di berbagai lokasi guna menghimpun data komprehensif, mencakup keanekaragaman hayati, arkeologi, hingga sistem hidrologi kawasan karst.

“Kami ingin hasil penelitian ini tidak hanya menjadi dokumentasi ilmiah, tetapi juga dasar kuat bagi perlindungan kawasan bernilai tinggi yang kini mulai terancam degradasi lingkungan,” tambah Evrard.

Berdasarkan temuan tersebut, tim ekspedisi mengusulkan pembentukan lanskap konservasi baru seluas sekitar 6.000 kilometer persegi yang diarahkan menjadi Taman Nasional dan UNESCO Global Geopark di Sulawesi Tenggara.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sultra Ir. Hugua menyatakan dukungan penuh terhadap percepatan penetapan kawasan Gunung Tangkelemboke dan Karst Matarombeo sebagai kawasan konservasi nasional.

Ia menilai langkah ini mendesak untuk melindungi bentang alam Wallacea dari ancaman ekspansi pertambangan nikel dan perkebunan skala besar.

Hugua mengapresiasi dedikasi tim peneliti yang melakukan riset lapangan hampir 50 hari di medan ekstrem. Menurutnya, data ilmiah yang dihasilkan menjadi modal penting untuk mengusulkan kawasan tersebut sebagai Taman Nasional sekaligus UNESCO Global Geopark.

“Kawasan ini sangat layak dilindungi. Peluangnya masih terbuka karena hingga saat ini belum ada Izin Usaha Pertambangan yang beroperasi di wilayah tersebut,” tegas Hugua.

Ia menambahkan, perlindungan kawasan ini berkaitan langsung dengan keberlangsungan hidup masyarakat. Pegunungan Tangkelemboke dan Karst Matarombeo merupakan hulu sungai-sungai besar seperti Sungai Lasolo, Lalindu, dan Konaweha yang menopang kehidupan warga di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, hingga Sulawesi Selatan.

“Meski kewenangan penetapan status kawasan berada di pemerintah pusat, Pemprov Sultra akan menjadikan hasil ekspedisi ini sebagai dasar advokasi ke kementerian terkait,” pungkasnya. (bds)

Reporter: Septiana Syam
Editor: Wulan

Facebook Komentar
Redaksi

This website uses cookies.