Ekobis

Harga Beras di Kendari Melonjak, Capai Rp160 Ribu 10 Kilogram

Dengarkan

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Harga beras di sejumlah pasar tradisional di Kota Kendari, Provinsi Sultra terpantau melonjak naik hingga mencapai Rp160 ribu dari sebelumnya Rp140 ribu per 10 kilogramnya. Harga tersebut berdasarkan pantauan dari Detiksultra.com yang dilakukan di Pasar Anduonohu dan Pasar Korem pada Jumat (23/02/2024).

Salah seorang pedagang di Pasar Anduonohu bernama Kewa (40) mengatakan untuk harga beras ukuran 5 kilogram dibanderol Rp80 ribu dari sebelumnya Rp60-70 ribu atau naik sekitar Rp10-20 ribu.

“Ukuran 25 kilogram harga sebelumnya Rp360 ribu, sekarang tembus Rp400 ribu, sedangkan ukuran 50 kilogram saat ini Rp800 ribu dari Rp700 ribu,” katanya.

Untuk per liter beras sekarang dibanderol Rp14 ribu dari sebelumnya Rp11 ribu. Kewa mengaku lonjakan harga ini telah terjadi sejak sepekan terakhir.

Penyebab kenaikan harga ini berdasarkan informasi dari penggilingan di Konawe, lonjakan disebabkan karena kurangnya ketersediaan stok beras.

Selain itu, harga beras juga mengalami kenaikan cukup signifikan, sebab stok di Kendari kosong sehingga harus membelinya dari Kota Baubau.

“Sekarang naik harganya 50 kilogram 1 juta dari sebelumnya Rp450 ribu saja dari Baubau, untuk per liternya harganya 23 ribu dari harga sebelumnya Rp16 ribu,” terangnya.

Akibat dari lonjakan tersebut, ia mengaku sangat berpengaruh terhadap daya beli masyarakat akan beras.

“Tentu pembelian menurun karena mahal, rata-rata beli beras Bulog, tentu kita rugi karena kita harus tambah modal dan penjualan juga kurang lancar,” tutupnya.

Di tempat lain, salah seorang pedagang di Pasar Korem, Sulaeman (46) mengatakan hal senada terkait kenaikan harga beras.

“Tentu karena stoknya kurang, tetapi kita tidak rugi karena di penggilingan naik otomatis harga di pasar juga ikut naik, dan masyarakat tetap membeli,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Perindistrian dan Perdagangan (Disperindag) Sultra, Sitti Saleha mengatakan harga beras masih mengalami kenaikan disebabkan cuaca ekstrem el nino yang terjadi di Sultra.

“Sebelumnya itu terkendala karena kekeringan el nino, sekarang kan cuaca ekstrem jadi itu yang mempengaruhi petani dalam melakukan panen,” terangnya.

Olehnya itu, pihaknya terus melakukan koordinasi bersama TPID Sultra untuk memantau pasar guna melihat perkembangan harga bahan pokok. (ads)

 

Reporter: Muh Ridwan Kadir
Editor: Wulan

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button