oleh

Petani dan Nelayan Manfaatkan Pemberian Sertifikat Gratis dari Pemerintah

-Ekobis, Featured-319 views

SULTRA, DETIKSULTRA.COM – Salah satu program Pemerintah Pusat yakni terkait pemberian sertifikat gratis yang diperuntukkan bagi masyarakat dengan taraf ekonomi menengah ke bawah. Ternyata apa yang dilakukan pemerintah tersebut memberikan hasil yang saat ini sudah mulai dirasakan manfaatnya bagi masyarakat.
Hal tersebut diutarakan oleh beberapa petani di Kelurahan Lalombaa, Kecamatan Kolaka, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra). Ketua Gabungan Kelompok Tani Kakao Sejahtera Lalombaa, Alimuddin mengatakan bahwa dengan adanya program sertifikat gratis tersebut membantu meningkatkan taraf hidup bagi petani cokelat.
“Kami dibantu oleh Badan Pertanahan untuk sertifikat gratis kami, tahun 2017 kami diuruskan dan mendapatkan 300 kapling, tetapi ukurannya itu berbeda-beda, “ tuturnya.
Dikatakannya melalui sertifikat gratis yang diperoleh tersebut, para petani cokelat mendapatkan bantuan modal untuk meningkatkan produksi pertanian mereka.
“Jumlah petani kita untuk Lalombaa tercatat ada 350 orang yang masuk dalam 10 kelompok tani. Semua yang telah memiliki sertifikat juga telah memanfaatkannya, “ujarnya.
Akbal Toli, salah seorang Petani Cokelat dari Kelurahan Lalombaa mengatakan jika peningkatan penghasilan yang didapatkan dari sertifikat gratis yang diberikan pemerintah menambah produksi cokelat. Pasalnya, sertifikat tersebut dijadikannya sebagai agunan di bank untuk mendapatkan tambahan modal.

Petani cokelat menunjukkan buah cokelatnya yang sudah mulai membaik hasil produksinya. Foto: Ilmi/Detiksultra

“Terus terang, sebelum mendapatkan tambahan modal saya merasa cukup kesulitan karena kami terkendala untuk membeli pupuk. Setelah ada sertifikat, saya ajukan dan mendapat bantuan KUR senilai Rp20 juta. Saya juga tidak dipersulit karena pemerintah sangat membantu, “ katanya.
Selain untuk membeli pupuk, dikatakan Akbal jika sebagian dana pinjaman yang diperolehnya itu dibelikan sepeda motor bekas yang dipergunakannya sebagai transportasi dari rumah ke kebun cokelat miliknya. Hasil dari produksi cokelat tersebut diakuinya bisa memenuhi kebutuhan sekolah anak-anaknya, juga memenuhi kebutuhan sehari-hari rumah tangga.
Rasa syukur tentu saja tidak henti diucapkan oleh Akbal dan sejumlah petani cokelat di daerah Lalombaa. Karena, menurut Akbal petani sama sekali tidak memiliki jaminan apa-apa jika ingin menambah modal usahanya.
“Kalau PNS, mungkin ada gaji yang diharapkan dan bisa digadai di bank, tapi kalau kami petani ini pasti tidak memiliki apa-apa yang bisa dijaminkan. Tapi dengan adanya sertifikat ini maka pihak perbankan sudah mempercayai kami, “ tuturnya.
Dikatakannya, jika tidak ada program berupa sertifikat gratis dari pemerintah, maka ia tidak menjadi jika tanah yang dimilikinya saat ini sudah memiliki sertifikat. “Tidak diurus selama ini sertifikat saya karena terkendala di dana, saya tidak punya uang untuk mengurus sertifikat untung ada program dari pemerintah berupa pemberian sertifikat gratis, “ katanya.
Ia juga masih berharap kepada pemerintah agar terus melakukan pemberian sertifikat gratis bagi petani dan masyarakat yang membutuhkan agar bisa meningkatkan taraf hidupnya menjadi lebih sejahtera.
Nelayan Desa Mola memindahkan hasil tangkapannya untuk dijual kepada pengumpul ikan. Foto: Ilmi/Detiksultra

Kepala Dinas Perkebunan Kolaka, Muh.Bachrun mengatakan jika beberapa tahun terakhir ini hasil produksi cokelat yang dihasilkan oleh petani cokelat setelah mendapatkan bantuan modal cukup meningkat. Namun, pihaknya tidak berhenti sampai di situ, ia juga menginginkan agar cokelat yang dihasilkan tersebut bisa diolah menjadi cokelat yang diperjual belikan di supermarket.
“Beberapa tahun terakhir ini memang ada peningkatkan produksi cokelat, katanya karena ada bantuan modal. Tapi kami juga membantu ibu-ibu disini untuk mengolah cokelatnya sendiri, tidak hanya dijemur lalu kering dan dijual tetapi bagaimana caranya menjadi cokelat yang dijual. Hanya saja kita masih terkendala pada alat untuk membuat cokelat yang kering tadi menjadi cokelat yang siap diikonsumsi, “ tuturnya.
Sementara itu, sejumlah nelayan di Desa Mola Selatan, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sultra, juga memuji program yang telah dilakukan pemerintah karena dinilai membantu masyarakat.
Masra, seorang nelayan di Desa Mola Nelayan Bakti menceritakan perbedaan yang ia rasakan bersama keluarganya. Hampir sama dengan petani cokelat yang ada di Kabupaten Kolaka, Masra juga dibantu pemerintah untuk mendapatkan sertifikat secara gratis dan setelah itu diagunkan di bank untuk mendapatkan tambahan modal.
“Sebelumnya saya jual beli gurita, tetapi setelah saya dapatkan modal saya coba untuk mencari ikan menjadi nelayan. Uang yang saya dapatkan dari pinjaman bank saya gunakan untuk membeli kapal seadanya yang saya gunakan untuk melaut, “ terangnya.
Pinjaman tersebut tidak hanya ia gunakan sebagai modal untuk kembali memulai usahanya sebagai nelayan, tetapi juga sebagai penopang kehidupan keluarganya saat itu.
“Alhamdulillah dengan adanya pinjaman tersebut saya kembali memulai usaha dan bisa menyekolahkan anak saya, “ujarnya.
Cerita tentang sertifikat yang diagunkan di bank juga datang dari Asdin yang sehari-hari berprofesi sebagai pengumpul ikan atau usaha jual beli ikan. Dituturkan Asdin, jika setelah mendapatkan bantuan modalnya, usahanya semakin meningkat.
“Sekarang ini pendapatan saya sehari bisa mencapai satu juta rupiah, sebelum mendapatkan bantuan modal sangat kurang dari nominal itu karena saya juga terbatas modal untuk membeli ikan karang dari nelayan, “ujarnya.
Biasanya, kata Asdin, harga ikan yang ia beli langsung dari nelayan seharga Rp25 ribu lalu ia kembali menjual dengan harga Rp40 ribu. Modal yang ia dapatkan dari pinjaman KUR di bank berkat adanya sertifikat tersebut yakni sebesar Rp50 juta, sehingga saat nelayan membawa hasil tangkapannya ia bisa membeli dengan jumlah yang lebih besar.
Sekretaris Desa Mola Selatan, Derdi mengatakan jika warga setempat mendapatkan sertifikat gratis dan langsung memanfaatkan untuk kebutuhan hidup serta mengembangkan usaha yang dimiliki.
“Pasti sangat membantu, biasanya kalau tidak memiliki agunan maka pinjaman yang diberikan sekitar lima juta tetapi dengan adanya sertifikat maka besarnya pinjaman bisa lebih besar mencapai hingga Rp50 juta karena bank juga sudah percaya ada pegangan berupa sertifikat tanah, “ katanya.
Ia pun berharap agar program pemberian sertifikat gratis bisa terus berlanjut dan diberikan kepada masyarakat tepat sasaran. “Mudah-mudahan program sertifikat gratis ini bisa terus berjalan karena sangat dirasakan betul manfaatnya bagi masyarakat menengah ke bawah. Masih banyak juga warga kami di Desa Mola ini yang berharap bisa mendapatkan sertifikat gratis lagi, “harapnya.
Reporter: Ilmi
Editor: Ann

Komentar

News Update