oleh

Pesona Pelangi di Langit Kampung Topa

BAU-BAU. DETIKSULTRA.COM – Dibalik keindahan sejarah kesultanan, kota Bau bau juga meyimpan potensi wisata lainnya yang tak kalah menarik. Adalah kampung tenun warna warni Topa. Terletak di kampung Topa kelurahan Sulaa Kecamatan Betoambari kota Bau bau. Kampung ini dihuni sekitar 478 KK yang berbatasan langsung dengan Kelurahan Lipu, dan desa Lawela kabupaten Buton selatan.

Dulunya kampung ini lebih dikenal sebagai kampung para nelayan, karena letaknya disekitar kawasan selat Kadatua yang menyimpan potensi bahari yang menarik. Namun seiring dengan perjalanan waktu, di kampung ini juga dihuni oleh para pengrajin kian tenun yang keahliannya diwarisi secara turun temurun dari beberapa generasi. Jadilah kampung Topa sebagai kampung tenun.

Kerajinan tenun khas budaya Wolio merupakan aset budaya luar biasa. Selain terkenal dengan beragam motifnya proses pembuatannya yang tak sembarangan. Kain tenun Wolio dibuat dengan jiwa dan semangat tersendiri. Keahlian yang dimiliki para penenun di kampung Topa merupakan sebuah proses dedikasi yang panjang dan luar biasa dimulai sejak turun temurun. Keindahan warna warni hasil kain tenunan seakan-akan selaras dengan pesona warna warni dalam kampung itu sendiri.

Disini kita dapat menemukan aktivitas menenun para ibu yang rata-rata berusia lanjut dengan mata yang terlihat focus saat memainkan alat tenun, seakan-akan mengajarkan kepada kita tentang arti kesabaran dan menikmati proses.

Penenun Kampung Topa Bau-bau. Foto: Qs/Detiksultra.com

Waode Zamra adalah salah satu penenun generasi lawas yang masih ada dari sekian banyak penenun lainnya. Menenun itu sudah seperti “candu” rasanya. Seperti kebiasaan yang harus dilakukan setiap saat. Terlebih lagi dimasa-masa sebelumnya, tenunan di Topa ini banyak dicari cari oleh pengunjung. Mulai dari pengunjung di sekitaran Bau-bau, Kota Kendari bahkan hingga sampai ke manca Negara.

Di era 1990-an, kegiatan menenun masih terlihat di mana-mana, terutama saat para wanita pergi-pulang dari pasar. Meskipun saat ini sudah tidak seperti dulu lagi, namun kegiatan menenun masih terus berlangsung, tak bisa hilang sebagai bagian dari warisan turun-temurun warga lokal.

Tenun merupakan teknik dalam pembuatan kain yang dibuat dengan menggabungkan benang secara memanjang dan melintang sehingga membentuk motif tertentu. Kain tenun biasanya terbuat dari serat kayu, kapas, sutra, dan lainnya. Kerajinan tenun dari Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara biasanya menggambarkan objek tertentu yang kaya akan warna-warna. Inilah yang menjadi kekhasan kerajinan tenun tersebut. Oleh masyarakat Buton kerajinan tenun ini dianggap mampu menjadi perekat sosial antar sesame dimana-pun mereka berada.

Seandainya tenunan ini sebuah negara pemerintahan, yang harus dirajut, disatukan dengan keahlian dan keterampilan “sang maeastro”, meskipun ditengah perbedaan warna dan karakter yang menjadikannya sebuah karya seni yang bernilai. Dengan kesabaran, ketekunan, dan displin yang luar biasa, tentu semuanya bisa dilakukan dengan hal-hal yang sederhana. Harus diakui tidak semua orang bisa seperti itu.

Warna-warni kanvas Mural di perkampungan Topa. Foto: Qs/Detiksultra.com

Setelah puas melihat proses menenun di Kampung Topa, mataku dimanjakan dengan berbagai coretan Mural diberbagai dinding warga kampung Topa. Sebuah karya seni yang otentik dengan kepribadian warga kampung Topa yang terkenal berseni dan pekerja keras. Sebagai bentuk ekpresi dan eksistensi atau bahkan bisa menjadi renungan bagi siapapun yang melihatnya.

Mulai dari Mural bercorak ikan bersimbol akan identitas para nelayan dikampung ini, perempuan dengan tenunan khas Buton yang menandakan kecantikan warga Topa, dan berbagai macam bentuk simbolik yang tercoret seakan-akan membawa sebuah pesan kebebasan dan kebersamaan warga Topa.

Warna-warna yang digunakan bercorak khas tenunan Buton, maka jadilah Kampung Topa tampak lebih unik, berkarakter dan berciri khas Buton. Sebagai salah satu dari kampung tertua di Baubau, Kampung Topa kini telah berubah dari yang dulunya hanya sebagai kampung nelayan, kini menjadi kampung seni warna warni yang menarik minat para pendatang.

Waktu terus berlalu seiring dengan lambaian matahari yang perlahan mulai meninggi menjelang siang yang terik. Sebuah perjalanan yang terasa singkat, menggambarkankan kekayaan budaya dan seni masyarakat sekitar yang terus melestarikan warisan para leluhur. Meskipun raga ini sudah kembali ke Kota Kendari, namun hatiku akan selalu mengingat pesona warna pelangi di Kampung Topa.

Reporter: Qs
Editor: Haikal

Komentar

News Update