oleh

Pemilu 2019 Pepesan Kosong, antara Politik Uang dan Politik Identitas

KENDARI, DETIKSULTRA.COM- Pengamat hukum yang juga Dosen Fakultas Hukum UHO, LM. Taufik A, SH.MH dalam diskusi yang diselenggarakan Komunitas Rumah Hijau, mengatakan pemilu 2019 akan menjadi pepesan kosong apabila ada pihak-pihak yang menciderai demokrasi yang akan berlangsung tidak lama lagi.

“Kita masih sering melakukan model propaganda identitas, ini tidak jaman dalam model demokrasi. Kita ambil contoh, seperti di Amerika. Mereka bisa memilih presiden dari kulit hitam. Padahal mayoritas pemilih adalah kulit putih. Artinya, mereka mengesampingkan politik identitas, kita masih terjebak dalam politik identitas,” ucapnya.

Biasanya, orang yang mempolitisasi identitas adalah orang yang kekurangan identitas itu sendiri. Sehingga seseorang mempolitisasi ketika dirinya maju sebagai calon legislatif.

Taufik juga menjelaskan, praktek politik uang masih kawin mawin sporadis dalam konteks demokrasi saat ini.

“Ini sebenarnya penyakit lama yang sampai saat ini kita tidak bisa perbaiki. Saya sepakat dengan beberapa pihak yang berpendapat tentang penelitian yang mengurai tingkat money politics yang tinggi akan linear dengan potensi korupsi,” terangnya.

Dia juga menegaskan, logikanya sederhana, politik biaya mahal disebabkan salah satunya karena politik uang sehingga kandidat atau para legislator membutuhkan dana besar, tujuannya bom “serangan udara”.

Bahwa ketika sudah banyak yang dikeluarkan pada saat proses pencapaian kekuasaannya itu, maka yang muncul adalah paradigma ganti rugi.

“Intinya, karena pemilu itu satu sistem, maka elemen ini harus kita evaluasi secara seksama. Pertama, kita harus mendorong terbentuknya undang-undang yang jauh lebih objektif dan progresif sehingga penyelanggaraan pemilu kita tidak memunculkan persoalan di tengah-tengah pesta, kedua penyelenggara pemilu benar-benar memahami konteks tugas dan kewenangannya sehingga tidak memunculkan kegaduhan,” tutupnya.

Reporter : M15
Editor : Rani

Loading...

Komentar

News Update