oleh

Kisah Polisi Kumpul Uang Demi Bangun Rumah Seorang Nenek

-Cerita, Konawe-111 views

KONAWE, DETIKSULTRA.COM – Seorang Polisi di Konawe rela menyisihkan gajinya, bahkan mau mengutang untuk membiayai hidup dan membenahi rumah Epong Nurhayati (70) dan anak laki-lakinya Kin (45) yang hidup terlunta-lunta di sebuah gubuk hampir rubuh di Jalan Kuliasa, Kelurahan Puosu, Kecamatan Tongauna.

Hingga di tahun 2018, Epong dikenalkan dengan seorang polisi yang enggan disebutkan namanya. Karena iba, sang polisi kemudian berinisiatif mengumpulkan dana, menabung bahkan berhutang untuk membuatkan rumah yang bagus bagi sang nenek, dan khirnya rumah baru untuk Epong terealisasi berdiri kokoh di awal tahun 2019.

Ditemui di Polres Konawe pada Selasa (5/3/2019), polisi berinisial M itu menceritakan tentang kehidupan nenek Epong Nurhayati.

Mak Epong sapaan akrab Epong Nurhayati, bersama keluarganya, merupakan warga transmigrasi dari Jawa tahun 1977. Pertama berdomisili di Moramo. Kemudian di tahun 1982, suaminya meninggal dunia. Dari hasil perkawinan itu, ia dikaruniai 3 orang anak, masing masing 2 anak laki laki dan satu anak perempuan.

Sejak suaminya meninggal dunia, mak Epong jadi tulang punggung keluarga. Ibu 3 anak itu bekerja sebagai buruh kasar cetak batu merah di Ranomeeto.

Pada tahun 1990, mak Epong bersama ketiga anaknya ke Konawe, ia kemudian kembali bekerja sebagai tukang kebun milik pak Saenal di Desa Ambepulu Kecamatan Tongauna.

Kemudian pada tahun 1994 hingga saat ini, ia pindah ke Kelurahan Puuosu. Ditengah kehidupan yang sangat sulit itu, satu persatu ia mulai ditinggalkan anaknya. Salah satu putranya diasuh oleh Hj. Pattah di Sulawesi Selatan. Saat ini diketahui bahwa anaknya bekerja sebagai pegawai honorer di kantor pengairan Sengkang.

Lalu anak perempuan mak Epong menikah dan pindah ke Kalimantan bersama suaminya yang saat ini diketahui bekerja sebagai buruh kasar di perkebunan kelapa sawit.

Hingga saat ini kedua anaknya yang berada di perantauan belum mampu memberikan kehidupan yang layak buat orang tuanya lantaran kehidupan mereka pun masih tak berkecukupan.

Mak Epong kemudian hidup dengan anak sulungnya bernama Kin yang menderita sakit diorgan kemaluan. Akibat penyakit tersebut, Kin tidak mampu bekerja. Mereka hidup dengan mengharapkan belas kasih dari para tetangga.

Suatu hari di awal bulan September 2018, M mendapat informasi bahwa ada seorang nenek bersama anaknya yang membutuhkan uluran tangan demi bertahan hidup.

Keesokan harinya M langsung menyambangi rumah mak Epong untuk memastikan informasi tersebut. Setibanya di rumah tersebut, diperhatikannya kondisi gubuk reot itu, atap dan dindingnya bocor di mana mana. Ia lalu bergegas ke dapur dan melihat mak Epong dan anaknya sedang makan sayur nangka rebus tanpa nasi.

M kembali berkunjung esoknya. Di dapur ia kembali melihat sayur nangka yang sama. M kemudian bertanya ke Mak Epong, selain nangka, apa yang dimakannya hari ini.

“Demi menutupi kekurangannya, saat itu mak Epong menjawab bahwa ia makan nasi dengan sayur nangka, namun nasinya sudah habis. Padahal saya sudah cek dengan teliti, mereka hanya makan nangka saja, tidak ada yang lain,” ujarnya.

Seketika itu M duduk membisu. Tanpa sadar air matanya menetes. M kemudian bergegas ke toko untuk membeli beras, mie instan, telur serta gula untuk mak Epong. Tak lupa juga diberikannya sejumlah uang untuk keperluan sehari hari.

Hari demi hari berlalu, M semakin sering berkunjung untuk memberikan sembako serta memastikan baiknya keadaan mak Epong.

Melihat kondisi tempat tinggal mak Epong, M bertekad untuk memberikan bantuan lebih. Dengan mata berkaca kaca, M bertanya di mana tempat berlindung jika hujan turun.

“Saat itu mak Epong menjawab, tetap di dalam rumah sambil menutupi lubang atap yang bocor di mana mana dengan menggunakan daun atau benda lain. Saya hanya membayangkan kalau hujan turun malam hari, Mak Epong dan anaknya pasti tidak tidur nyenyak,” terangnya.

M kembali meneteskan air mata, mengingat kedua orang tuanya yang sudah tiada. Sambil menangis, M berdoa agar diberikan kemudahan dalam membantu kehidupan mak Epong.

Kunjungan demi kunjungan, M bertekad untuk merehab rumah mak Epong. Awalnya, setiap menerima tunjangan operasional, tanpa sepengetahuan istri, diam diam ia ke toko untuk bayar titip seng atap rumah.

Selanjutnya, uang arisan bhayangkari milik istri dipakainya untuk bayar titip seng. Ketika ditanya oleh istrinya, ia berkelit bahwa ia tidak pernah mengambil uang arisan itu. Semua itu dilakukannya demi sebuah misi membangun rumah untuk mak Epong.

“Saya lalu pelan pelan mengambil uang remunerasi. Selalu saya cicil sedikit demi sedikit dengan alasan beli bensin dan keperluan lain. Istri saya tidak pernah curiga. Saya bahkan sering pinjam uang ke bendahara intel dengan alasan ada kebutuhan mendadak,” ucapnya.

Kemudian saat ayahnya meninggal dunia, ia mendapat bantuan uang duka dari rekan seangkatan di instansi kepolisian, senilai 3 juta rupiah.

Setelah semua dana terkumpul, M lalu membeli kayu, bahan bahan rangka rumah, paku dan lain lain.

Beberapa hari kemudian, karena belum cukup, M mengambil uang tabungan untuk beli tripleks, termasuk ongkos gaji tukang yang diakuinya dibayar dengan harga tidak mahal.

Dalam proses pembangunan rumah mak Epong, M selalu mengecek tahap demi tahap pembangunan. Hingga pada akhirnya rumah tersebut selesai pada awal tahun 2019.

Dari cerita panjang M tersebut, Detiksultra.com kemudian mengunjungi rumah mak Epong pada Rabu (6/3/2019). Rumah baru tersebut dibangun tepat di depan gubuk yang lama.

Saat ditanya tentang sosok M, mak Epong tak kuasa menahan air mata. Dijelaskannya bahwa M adalah orang yang sangat baik dan lembut.

“Kalau dia datang pasti tanya, mak udah makan, bagaimana keadaannya, mak sehat, dan lain lain. Dia itu sudah seperti anak saya sendiri,” tuturnya.

Mak Epong mengucapkan banyak terima kasih kepada M atas bantuan yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.

“Terima kasih tak terhingga kepada Allah, kepada anak saya yang polisi itu. Sudah sebulan ini, kami hidup beratap seng. Kami sudah bisa berteduh kalau hujan,” pungkasnya.

Reporter: Iwal Taniapa
Editor : Dahlan

Komentar

News Update