Wagub Sultra, Ir Hugua saat beri sambutan di acara Bulan Bahasa dan Sastra 2026. Foto: Septiana Syam/Detiksuktra.com
KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra), Ir. Hugua, mengingatkan pentingnya pelestarian bahasa daerah di tengah perkembangan zaman. Ia meminta para orang tua membiasakan anak-anak menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa ibu agar identitas budaya tidak hilang pada generasi mendatang.
Hal itu disampaikan Hugua usai menghadiri puncak peringatan Bulan Bahasa dan Sastra 2026 yang digelar Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara di salah satu pusat perbelanjaan di Kendari, Senin (26/10/2026) sore.
Hugua mengapresiasi kegiatan tersebut karena dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga bahasa Indonesia dan bahasa daerah sebagai identitas bangsa sekaligus memperkuat persatuan.
“Bahasa itu identitas jiwa bangsa, identitas daerah, dan jiwa daerah. Bahasa juga menjadi pemersatu bangsa serta arah peradaban,” ujar Hugua.
Menurutnya, bahasa tidak sekadar menjadi alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan nilai gotong royong, silaturahmi, kebersamaan, dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat.
Ia juga mengapresiasi upaya Balai Bahasa dalam melestarikan budaya lokal sekaligus meningkatkan minat baca masyarakat. Menurut Hugua, kebiasaan membaca menjadi salah satu kunci untuk mendorong kemajuan daerah.
Di sisi lain, Hugua menyoroti fenomena anak-anak yang memahami bahasa daerah, tetapi tidak mampu menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi perhatian bersama, terutama bagi keluarga yang tinggal di wilayah perkotaan.
“Anak-anak yang lahir di kota seharusnya tetap bisa berbahasa ibu. Saya berharap para orang tua mengajarkan bahasa daerah kepada anak-anaknya sejak dini karena itu adalah identitas mereka,” tegasnya.
Ia menilai pelestarian bahasa daerah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau lembaga pendidikan. Penggunaan bahasa daerah dalam lingkungan keluarga juga menjadi faktor penting agar bahasa tersebut tetap hidup dan diwariskan lintas generasi.
Hugua turut mendukung penguatan pembelajaran bahasa daerah melalui muatan lokal di sekolah. Ia berharap upaya tersebut dapat dikembangkan hingga perguruan tinggi, sehingga pelestarian bahasa daerah berjalan berkelanjutan.
“Kalau bahasa punah, budaya juga ikut punah. Karena itu, bahasa daerah harus terus dipertahankan dan dipraktikkan, baik di sekolah maupun di rumah,” katanya.
Sementara itu, Kepala Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Tenggara, Dewi Pridayanti, mengatakan peringatan Bulan Bahasa dan Sastra menjadi momentum untuk mengingat kembali semangat Sumpah Pemuda, khususnya ikrar menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Menurut Dewi, Balai Bahasa memiliki tugas membina, mengembangkan, dan melindungi bahasa Indonesia serta bahasa daerah di Sulawesi Tenggara. Berbagai kegiatan digelar sepanjang Bulan Bahasa, mulai dari festival bahasa ibu, lomba membaca nyaring bagi guru sekolah dasar, hingga lomba pidato bahasa Indonesia bagi mahasiswa internasional.
Puncak peringatan tersebut juga menjadi ajang apresiasi bagi warga negara asing yang berupaya mempelajari bahasa dan budaya Indonesia. Salah satunya karyawan perusahaan asing di Sulawesi Tenggara yang mendapat penghargaan karena memiliki kemauan belajar bahasa Indonesia.
Dewi menilai upaya tersebut menjadi pengingat bahwa bahasa Indonesia perlu dijaga martabatnya, termasuk di tengah maraknya penggunaan bahasa asing.
“Orang asing saja mau belajar bahasa Indonesia. Lalu, bagaimana dengan kita? Kita harus menjaga bahasa sendiri agar tetap berdaulat,” ujarnya.
Namun, upaya pelestarian bahasa daerah di Sulawesi Tenggara masih menghadapi tantangan, terutama keterbatasan tenaga pengajar yang memiliki latar belakang pendidikan khusus bahasa daerah.
Dewi menjelaskan, selama ini guru yang mengajarkan bahasa daerah umumnya dipilih karena mampu menuturkan bahasa tersebut, bukan karena memiliki kualifikasi akademik khusus di bidang bahasa daerah.
Karena itu, Balai Bahasa berharap pemerintah daerah dan perguruan tinggi dapat berkolaborasi untuk memperkuat sumber daya manusia, termasuk membuka peluang pendirian program studi bahasa daerah.
Selain itu, pihaknya mendorong dukungan regulasi dari pemerintah daerah agar pembelajaran bahasa daerah dapat diterapkan secara lebih kuat di lingkungan pendidikan.
Menurut Dewi, keberadaan program studi bahasa daerah akan membuka kesempatan bagi generasi muda untuk mendalami bahasa lokal sekaligus menjadi tenaga pengajar yang kompeten.
Dengan dukungan keluarga, sekolah, pemerintah, dan perguruan tinggi, pelestarian bahasa daerah di Sulawesi Tenggara diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi kebiasaan yang terus hidup dalam keseharian masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Balai Bahasa Sultra juga memberi apresiasi terhadap mitra kerjanya seperti BI Sultra, media hingga pihak swasta lainnya. (cds)
Reporter: Septiana Syam
Editor: Wulan
This website uses cookies.