Metro Kendari

Inflasi Sultra 2,98 Persen, Transportasi Jadi ‘Biang Kerok’ di Balik Tekanan Harga

Dengarkan

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (year-on-year) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) pada April 2026 sebesar 2,98 persen. Angka ini menunjukkan harga barang dan jasa masih mengalami kenaikan, meski relatif lebih terkendali dibanding beberapa bulan sebelumnya.

Data BPS mengungkapkan, inflasi tersebut tercermin dari naiknya Indeks Harga Konsumen (IHK) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara sederhana, kondisi ini menggambarkan daya beli masyarakat yang tetap tertekan akibat kenaikan harga yang terjadi secara bertahap.

Menariknya, di balik tren yang mulai melandai, sektor transportasi justru menjadi pemicu utama tekanan inflasi kali ini.

Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, menyebut fenomena ini berbeda dari triwulan sebelumnya yang sempat dipengaruhi penyesuaian tarif listrik.

“Sekarang ini lebih didorong oleh transportasi, bukan lagi listrik seperti sebelumnya,” ujarnya saat ditemui di Kantor BPS Sultra, Senin (04/05/2026).

Hadi menjelaskan, kenaikan biaya transportasi tidak lepas dari dampak global. Ketegangan geopolitik menyebabkan pasokan minyak terganggu, sehingga harga minyak dunia melonjak hingga menembus 100 dolar AS per barel. Kondisi ini secara tidak langsung mendorong kenaikan biaya di berbagai sektor.

Meski sebagian bahan bakar di dalam negeri masih mendapat subsidi, efek kenaikan harga minyak tetap merembet. Mulai dari biaya distribusi hingga harga bahan baku turunan seperti plastik ikut terdampak.

“Tidak semua bahan bakar disubsidi, misalnya avtur yang mengikuti harga pasar. Ini juga berpengaruh ke tarif transportasi udara,” jelasnya.

Dari sisi wilayah, Kota Baubau tercatat sebagai daerah dengan inflasi tertinggi di Sultra, mencapai 4,08 persen. Sementara daerah lainnya mencatat angka yang lebih rendah.

Jika dibandingkan bulan sebelumnya, tren inflasi Sultra menunjukkan perbaikan. Pada Maret 2026, inflasi tahunan masih berada di level 3,37 persen, bahkan sempat lebih tinggi di awal tahun. Penurunan ini menandakan mulai adanya stabilisasi harga di sejumlah komoditas.

Namun demikian, tekanan inflasi belum sepenuhnya hilang. Faktor seperti harga bahan pangan, distribusi barang, hingga peningkatan permintaan masyarakat masih menjadi penyumbang naiknya harga.

Secara nasional, tren serupa juga terjadi. Inflasi Indonesia tercatat di kisaran 2,42 persen (YOY), menandakan kenaikan harga bukan hanya terjadi di Sultra, melainkan hampir merata di berbagai daerah.

BPS pun memastikan akan terus memantau pergerakan harga, terutama menjelang periode konsumsi tinggi yang berpotensi kembali mendorong lonjakan inflasi. (cds)

 

Reporter: Septiana Syam
Editor: Wulan

Facebook Komentar
Redaksi

This website uses cookies.