Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Prof. Yassierli, S.T., M.T., Ph.D., saat menjadi narasumber Kuliah Umum di Aula Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK). Foto: Septiana Syam/Detiksultra.com
KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Menteri Ketenagakerjaan RI, Prof. Yassierli, mengingatkan perguruan tinggi untuk segera beradaptasi dengan perubahan dunia kerja yang dipicu kecerdasan buatan (AI) dan digitalisasi. Menurutnya, lulusan perguruan tinggi tidak lagi cukup mengandalkan ijazah, tetapi harus memiliki kompetensi yang dapat dibuktikan melalui keterampilan, sertifikasi, dan portofolio.
Pandangan tersebut disampaikan Prof. Yassierli saat memberikan kuliah umum bertema Peran Perguruan Tinggi dalam Menyiapkan Talenta Masa Depan di Aula Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK), Rabu (05/08/2026).
Menurutnya, perubahan yang terjadi saat ini tidak hanya dirasakan di pusat-pusat industri, tetapi juga telah menjangkau berbagai daerah, termasuk Sulawesi Tenggara. Karena itu, mahasiswa, dosen, dan perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat.
Prof. Yassierli menjelaskan, setidaknya terdapat tiga faktor utama yang akan menentukan arah dunia kerja pada masa mendatang, yakni kecerdasan buatan, digitalisasi, serta transisi menuju ekonomi hijau yang dibarengi perubahan struktur demografi.
“Tiga perubahan besar sedang membentuk dunia kerja saat ini, yaitu Artificial Intelligence, digitalisasi, serta green transition yang disertai perubahan demografi. Semua itu akan menentukan jenis pekerjaan dan kompetensi yang dibutuhkan di masa depan,” ujarnya.
Ia mengatakan, AI kini telah dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas, mulai dari menyusun dokumen, mengolah data, hingga mempercepat proses pekerjaan. Namun, teknologi tersebut seharusnya menjadi alat pendukung produktivitas, bukan menggantikan kemampuan berpikir kritis maupun kreativitas manusia.
“AI adalah alat bantu. Gunakan untuk meningkatkan produktivitas, tetapi jangan sampai menggantikan kemampuan berpikir, kreativitas, dan orisinalitas kita,” tegasnya.
Selain AI, digitalisasi juga telah mengubah cara industri beroperasi. Hampir seluruh sektor kini mengandalkan pengelolaan data sehingga penguasaan teknologi informasi menjadi kemampuan dasar yang harus dimiliki lulusan perguruan tinggi.
Di sisi lain, tren penggunaan energi ramah lingkungan juga menciptakan kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi baru. Menurut Yassierli, semakin banyak perusahaan yang menerapkan prinsip bisnis berkelanjutan dan memilih bermitra dengan pelaku usaha yang mendukung ekonomi hijau.
Perubahan demografi juga menghadirkan peluang baru di sektor kesehatan, layanan perawatan lanjut usia, hingga industri berbasis pelayanan (care economy). Sementara kemajuan teknologi memungkinkan generasi muda bekerja secara jarak jauh untuk perusahaan nasional maupun internasional tanpa harus meninggalkan daerah asal.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa memperluas kemampuan, mulai dari penguasaan bahasa asing, literasi digital, hingga kompetensi lintas disiplin agar mampu bersaing di pasar kerja global.
“Mimpi itu gratis, jadi bermimpilah setinggi mungkin. Kita bisa bersaing dengan siapa pun, termasuk talenta dari negara maju. Jangan hanya menguasai satu bidang, tetapi terus kembangkan berbagai kompetensi,” pesannya.
Prof. Yassierli juga menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam memastikan lulusan memiliki kompetensi yang dapat dibuktikan melalui sertifikasi, portofolio, dan micro-credential yang sesuai dengan kebutuhan industri. Menurutnya, kampus juga harus memperkuat pembelajaran yang mengembangkan kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, inovasi, growth mindset, serta budaya belajar sepanjang hayat.
Ia mendorong kolaborasi yang lebih erat antara perguruan tinggi dan dunia usaha melalui penyusunan kurikulum bersama, pembelajaran berbasis proyek, hingga pengakuan micro-credential oleh industri agar lulusan lebih siap memasuki dunia kerja.
Sementara itu, Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, Prof. Muhammad Nurdin menegaskan, UMK terus memperkuat kualitas lulusan agar mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi.
Menurutnya, selain penguasaan bidang akademik, mahasiswa juga didorong memiliki sertifikasi kompetensi, kemampuan AI, literasi teknologi informasi, serta soft skills seperti komunikasi dan kemampuan membangun jejaring.
“Selain itu, pengembangan soft skill, komunikasi, dan networking juga kita tekankan,” ujarnya.
Ia menambahkan, UMK akan memperkuat kerja sama dengan Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP) Sulawesi Tenggara agar program pelatihan yang diberikan kepada mahasiswa selaras dengan kebutuhan dunia industri.
Menurutnya, langkah tersebut juga memerlukan dukungan pemerintah pusat maupun Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara agar program peningkatan kompetensi dapat berjalan lebih optimal.
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Sulawesi Tenggara, Andi Sumangerukka, berharap kuliah umum itu menjadi ruang bertukar gagasan antara pemerintah, perguruan tinggi, dan mahasiswa dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan pembangunan daerah.
Ia mengajak mahasiswa memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerap wawasan dan pengalaman yang dibagikan Menteri Ketenagakerjaan sebagai bekal menghadapi persaingan dunia kerja yang terus berubah. (cds)
Reporter: Septiana Syam
Editor: Wulan
This website uses cookies.