KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Sulawesi Tenggara sepatutnya harus bangga pada sosok muda Dr. Maulana Saputra Sauala, SH. M.Kn, atau yang akrab disapa Maul.

Pasalnya, pria Kelahiran Kendari, 4 Oktober 1990 ini merupakan doktor termuda di Sultra pada bidang hukum, yang saat ini baru berusia 28 tahun.

Maul merupakan seorang yang dikenal pekerja keras, kritis, inovatif dan humanis bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

Berbicara soal passion, ia mengaku sangat menjunjung tinggi nilai-nilai pendidikan yang ditanamkan pada dirinya. Hal tersebut tak luput dari motivasi dan pengalaman yang ia dapatkan semasa remaja.

“Secara pribadi memang nilai-nilai pendidikan itu sangat penting bagi kita semua khususnya saya pribadi. Hingga saat ini pun saya juga masih terjun di dunia pendidikan sebagai seorang pengajar,” ujarnya pada Detiksultra.com, Selasa(30/7/2019).

Kini Maul menjabat sebagai dosen aktif di Universitas Nahdlatul Ulama Sulawesi Tenggara (UNUSRA), Notaris wilayah Sultra dan sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Kota Kendari.

Akan tetapi, hal tersebut nyatanya bukan hal yang mudah ia raih seperti membalikkan telapak tangan atau menjentikkan jari telunjuk.

Berbeda dengan sosok dirinya yang sekarang, semasa kecil Maul justru dikenal sebagai anak yang kurang memiliki minat dalam hal menempuh pendidikan.

Pada jenjang Sekolah Dasar (SD) Negeri 3 Wua-wua Kendari, ia menamatkan pendidikannya pada tahun 2002. Hingga ia menginjak Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Kendari, dirinya sempat dinyatakan tidak lulus ujian nasional.

Pasca ketidaklulusannya untuk melanjutkan pendidikan ke bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), dirinya mengaku sempat merasa kecewa dan malu atas kegagalannya.

“Jadi dulu itu saya memang sempat merasa malu sekali karena tidak lulus Ujian Nasional tingkat SMP. Untuk bertemu teman sekolah, keluarga dan tetangga, muka saya seakan tebal sekali,” ujarnya lagi.

Hingga akhirnya, ia pun memantapkan hati untuk mengikuti ujian persamaan dan dinyatakan lulus pada tahun 2005. Betapa tidak, hal tersebutpun menjadi kebanggan pribadi untuk dirinya karena dapat menyusul teman-temannya di bangku SMA.

Dr Maulana Saputra Sauala, SH. M.Kn saat promosi doktor di UNISSULA. Foto: Istimewa

Menginjak usia remaja, Maul tercatat lulus di SMA 5 Kendari pada tahun 2008, dan sempat tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang bangku kuliah terkendala ekonomi keluarga yang tidak stabil.

Baca Juga  Kekurangan Ratusan Ribu Surat Suara, KIPP Sultra Khawatir Telat Tiba di TPS

“Karena kondisi keuangan yang tidak stabil, dan terkendala ibu saya baru saja meninggal saat itu, maka sayapun mengambil keputusan tidak kuliah agar tidak membebankan keluarga,” ungkapnya.

Alhasil di usianya yang menginjak 18 tahun, demi memenuhi kebutuhan pribadi dan mengumpulkan uang kuliah, profesi tukang ojek dan sales pun mulai ia kerjakan sembari mengumpulkan dana.

[artikel number=3 tag=”doktor,sultra”]

“Pada saat itu saya akhirnya sadar sekali bahwa pendidikan itu memang penting. Untuk mencapai kesuksesan dan cita-cita, pendidikan adalah alat transportasinya,” katanya.

Kata sambutan Dr. Maulana Saputra Sauala, S.H., M.Kn pada kegiatan kelas inspirasi di Kediri

Hingga memasuki tahun 2010 berdasarkan dana yang ia kumpulkan dari hasil mengojek dan menjadi sales, ia pun mendaftarkan diri ke Fakultas Hukum Universitas Haluoleo dan memperoleh gelar sarjana pada tahun 2013.

Saat duduk di bangku universitas, ia merupakan sosok yang tak terlalu aktif dalam kegiatan-kegiatan kampus, karena ia mengaku pada kondisi tersebut dirinya sangat sibuk untuk bekerja sambil kuliah.

“Setelah sarjana, saya pun akhirnya berpikir tentang profesi yang dapat saya lakoni dan kemudian bermanfaat juga bagi orang lain. Akhirnya terpikirkanlah mengapa saya tidak buka lapangan kerja berdasarkan bidang profesi saya? dan disitulah awal mula gagasan saya menjadi seorang notaris,” ungkapnya.

Demi mengejar cita-citanya menjadi seorang notaris, memasuki tahun 2013 dikarenakan kondisi keuangan keluargannya mulai stabil, Maul pun memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi pada Program Magister Kenotariatan Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang.

Dr. Maulana Saputra Sauala, S.H., M.Kn sebagai peserta penguatan kapasitas kepemimpinan di era revolusi 0.4

Pada Tahun 2015 dirinya pun dinobatkan sebagai Magister Kenotariatan dan akhirnya dengan gelar dan tujuan mulia untuk memberikan sumbangsih pada tanah kelahirannya, dirinya pun mencalonkan diri sebagai dosen, salah satunya di Universitas Sulawesi Tenggara (UNSULTRA), kemudian berlanjut hingga saat ini di UNUSRA.

Maul pun mengaku bahwa pasca memperoleh gelar Magister Kenotariatan, sudah menjadi kewajiban bagi lulusan untuk melakukan magang selama 2 tahun tanpa upah. Akan tetapi, hal inilah yang membuatnya menjadi semakin termotivasi untuk terus mengejar cita-citanya dengan cara menjual jam tangan untuk memenuhi kebutuhannya.

Baca Juga  Menakar Peluang Alumnus Pilgub Sultra Masuk Senayan

Selang setahun menjadi seorang dosen, gairahnya akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi masih menggebu-gebu, hingga akhirnya ia pun kembali mendaftarkan diri untuk memperoleh gelar doktor di UNISSULA dan lulus tahun 2019.

“Saat ini fokus saya itu ingin memberikan sumbangsih yang lebih untuk kemajuan daerah karena saya memang putra asli Sultra dan sudah menjadi tanggung jawab moril untuk saya mentransfer ilmu yang selama ini saya dapatkan,” ujarnya.

Mengenai pendidikan di Sultra saat ini, dia menganggap perlu adanya peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam hal ini tenaga pengajar dalam rangka menjemput revolusi industri 4.0.

“Saat ini sistem pendidikan menurut saya sudah sangat baik, tinggal SDM nya saja yang perlu ditingkatkan untuk menciptakan kader-kader muda yang berkualitas,” jelasnya lagi.

Dr. Maulana Saputra Sauala, S.H., M.Kn sebelumnya pernah mengikuti pelatihan seminar Penguatan Kapasitas Kepemimpinan Revolusi Industri 4.0. Kemudian sempat menjadi peserta pelatihan kepemimpinan Taplai BKS Lemhanas RI.

Di sisi lain sosok Maul juga merupakan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ia juga pernah menjadi pengajar pada kegiatan kelas inspirasi yang digagas oleh Almuni Indonesia Mengajar di seluruh Indonesia.

Hingga saat ini terhitung aktif dalam organisasi beladiri, sebagai wakil sekretaris provinsi pengurus Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (PERKEMI) dan pemegang sabuk kyu II, mantan atlit asal Sulawesi Tenggara.

Sebagai Duta Wisata Anandonia Kota Kendari tahun 2012 dan juara 3 pada ajang Putra-putri Bahteramas 2013 dalam kegiatan HUT Sultra.

Ia juga memaparkan terkait progres 5 tahun ke depan, dirinya akan membuat konsep rumah asuh untuk anak-anak yang memiliki potensi dalan bidang pendidikan.

Karena menurutnya, Sultra sebenarnya memiliki kader-kader muda yang berpotensi untuk bersaing di tingkat internasional, tinggal kita memberi mereka fasilitas dan jalan untuk mencapai hal tersebut.

Reporter: Gery
Editor: Rani

Beri Tanggapan Anda !

SANGANT MENARIK
0
MENARIK
0
TIDAK MENARIK
0

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in:Profil Tokoh