oleh

HPSN 2020, Saat Bumi Menggugat Para Bajingan Nyampah

-Opini-86 views

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Sampah itu bukan merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses. Sampah juga bukan didefinisikan oleh manusia menurut derajat keterpakaiannya, lantas kita buang ke bantaran sungai, di jalan umum sampai ke bak penampungan sampah dekat rumah.

Namun, sampah itu adalah berbagai meterial tidak berguna yang kita masukkan ke dalam rumah hanya berdasarkan nafsu dan gaya hidup yang berlebihan.

Sampah mulai dari plastik, styrofoam, bekas makanan dan minuman, hingga berbagai kotoran yang kita dapatkan di pusat pusat perbelanjaan, lantas dikonsumsi secara egois tanpa pertimbangan keseimbangan, lalu semua itu dibawa masuk ke dalam rumah.

Jadi tak ada istilah “membuang” sampah pada tempatnya, karena sadar atau tidak manusia tidak pernah membuang sampah, namun “membawa” sampah, masuk ke dalam kehidupan sehari hari.

Bisakah istilah “membuang sampah” tergantikan dengan “meletakkan sampah”, karena terdengar lebih berbudaya sebagai bangsa yang bermoral?

Makna kata “membuang” adalah melepaskan, melemparkan, bahkan mengucilkan dan hanya sepadan dengan kalimat buang air (berak, kencing), buang air darah (disentri) atau buang sirih (menganggap seseorang bukan kerabat lagi).

Padahal didalam sampah yang kita letakkan terdapat ratusan ribu, mikroba, sel, bakteri yang dapat menjadi sumber makanan bagi kehidupan bumi. Didalam sampah terdapat organisme kehidupan dari rantai makanan untuk manusia sebagai mahluk ekologis.

Bau sampah di tempat penampungan dekat rumahku masih jauh lebih enak ketimbang bau orang sok bermoral padahal bajingan, yang setiap hari nyampah dimana mana.

Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjuk Labuan Bajo NTT sebagai lokasi Peringatan Peduli Sampah Nasional (HPSN) tiap 21 Februari.

Peduli sampah merefleksikan suatu momentum apakah semua orang hanya bisa menjadi bajingan atau sebagai mahluk ekologis yang menghormati alam dan bumi.

Redaksi

Komentar

News Update