Ekobis

Harga Ikan Turun, Sultra Alami Deflasi 0,31 Persen pada Agustus 2026

Dengarkan

KENDARI, DETIKSULTRA.COM — Harga sejumlah komoditas pangan yang mulai turun membuat Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami deflasi pada Agustus 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Sultra mencatat deflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,31 persen.

Meski demikian, secara tahunan Sultra masih mengalami inflasi sebesar 3,35 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 114,02. Sementara inflasi year-to-date (y-to-d) tercatat 4,02 persen.

Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto mengatakan, penurunan harga sejumlah komoditas, termasuk ikan, menjadi salah satu faktor yang membuat tekanan harga pada Agustus lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

“Harga ikan sekarang sudah mulai turun dibandingkan beberapa bulan kemarin, jadi sangat berpengaruh. Siklus-siklus itu biasa terjadi dalam ekonomi kita,” kata Hadi saat ditemui di Kantor BPS Sultra, Selasa (01/09/2026).

Menurutnya, BPS mencatat pergerakan harga tersebut melalui survei yang dilakukan secara rutin di pasar. Penurunan harga sejumlah komoditas yang sebelumnya mengalami kenaikan cukup tinggi turut mendorong terjadinya deflasi.

Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga di antaranya tomat dan ikan layang. Hadi menjelaskan, penurunan tersebut tidak selalu berarti harga komoditas berada pada level yang rendah.

“Bisa jadi karena harga di bulan Juli dari komoditas tersebut tinggi. Jadi ketika harganya kembali normal, itu tercatat sebagai penurunan harga,” jelasnya.

Hadi menyebut kondisi tersebut merupakan bagian dari siklus harga yang lazim terjadi. Menurut dia, deflasi justru dapat menjadi hal positif apabila penurunan harga merupakan proses normalisasi setelah sebelumnya mengalami kenaikan.

Namun, pemerintah tetap perlu mencermati kondisi tersebut agar penurunan harga tidak justru merugikan produsen, terutama petani dan nelayan.

“Harga kalau terlalu tinggi, konsumen kasihan. Tapi kalau harga terlalu rendah, produsennya yang kasihan,” ujarnya.

Ia menilai deflasi masih tergolong wajar apabila terjadi karena harga kembali ke tingkat normal. Sebaliknya, pemerintah perlu melakukan intervensi apabila harga turun karena produsen terpaksa menjual dengan harga rendah akibat minimnya permintaan atau pembeli.

“Kalau deflasi itu mengembalikan harga dari yang semula tinggi ke standar normalnya, itu tidak apa-apa. Tapi kalau petani atau produsen terpaksa menurunkan harga karena kurangnya demand atau pembeli, itu yang harus diperhatikan,” katanya.

Di tengah deflasi Sultra secara bulanan, pergerakan harga di seluruh wilayah yang menjadi cakupan pemantauan BPS tercatat mengalami penurunan.

Sultra sendiri memiliki empat kabupaten/kota yang rutin dipantau perkembangan harganya. Hadi mengatakan seluruh wilayah tersebut mengalami deflasi pada Agustus.

“Semuanya tercatat deflasi. Kompak semuanya deflasi,” ungkapnya.

Namun, secara tahunan, seluruh wilayah masih mencatat inflasi. Kota Kendari menjadi daerah dengan inflasi y-on-y tertinggi, yakni 3,66 persen dengan IHK 113,23. Sementara Kabupaten Konawe mencatat inflasi tahunan terendah sebesar 2,48 persen dengan IHK 113,90.

Secara tahunan, inflasi Sultra terjadi karena kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,01 persen, disusul transportasi 6,66 persen.

Kelompok lainnya yang mengalami kenaikan yakni perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 3,36 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,14 persen, pendidikan 3,08 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 2,63 persen, serta makanan, minuman dan tembakau 2,07 persen.

Sementara itu, informasi, komunikasi dan jasa keuangan naik 1,99 persen, rekreasi, olahraga dan budaya 1,09 persen, kesehatan 0,76 persen, serta pakaian dan alas kaki 0,27 persen.

Hadi mengatakan fenomena deflasi di Sultra pada Agustus merupakan bagian dari tren penurunan tekanan harga yang juga mulai terlihat secara nasional.

“Secara nasional masih terjadi inflasi, meskipun inflasinya relatif lebih rendah dibanding sebelumnya. Di Sulawesi Tenggara, penurunannya lebih dalam sehingga sampai tercatat deflasi,” pungkasnya. (cds)

Reporter: Septiana Syam
Editor: Wulan

Facebook Komentar
Redaksi

This website uses cookies.