oleh

Cinta Buta atau Cinta Monyet

-Opini-127 views

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Seorang filsuf bernama Arthur Schopenhauer pernah berkata cinta hanya sebuah kehendak bereproduksi.

Layaknya pemikiran kalangan super pesimis kala itu, sosok yang mengagumi Plato dan Kant ini bahkan menyatakan bahwa cinta hanyalah tipu-tipu “kehendak” atau ‘will’ daya adikuasa yang menggerakkan segala sesuatu dialam semesta, agar terus berkembang biak dan spesies kita tetap lestari.

Pria yang paling pria akan mengidamkan perempuan yang paling perempuan, begitu juga sebaliknya, demi menciptakan keturunan.

Dengan kata lain, cinta hanya penipuan diri yang dipraktekkan oleh alam.

Apa yang dipikirkan oleh Schopenhauer? Mungkin pemikiran itu terdengar masuk akal di zaman pertengahan, tapi bagaimana dengan zaman sekarang?

Dalam kehidupannya, manusia tak pernah selesai dalam mencari makna cinta. Bagi beberapa orang jarak ratusan kilometer seperti jarak antara Konawe Kepulauan ke Kendari, bahkan belasan dan puluhan tahun hanya bertukar pesan tanpa pertemuan, demi seseorang yang berarti adalah suatu kemestian.

Bahkan sekali waktu cinta harus ditebus dengan ribuan kapal perang dan kota yang luluh lantak seperti perang Troya antara Paris dengan Raja Menelaus, hanya demi perempuan bernama Helen dalam kisah Hormer oleh Iliad.

Hingga sampai pada waktunya, ketika hari yang dijanjikan itu tiba, inilah saatnya bagi Gery untuk mengungkapkan perasaannya dan pujaan hatinya langsung kerusakan jin.

Bagaimana dengan kisah Utuy Tatang Sontani seorang sastrawan. Ketegangan politik pasca ’65 tidak memungkinkan dirinya yang saat itu kuliah di Moskow untuk pulang ke Indonesia.

Belasan tahun dilewati hanya dengan memandang selembar foto sang kekasih, sambil terus membuat sketsa wajah istrinya sampai ia meninggal dunia.

Ada perempuan bersuami difabel netra, ada penyintas tragedi ’65 yang disiksa kenangan.

Bagaimana cara kamu memaknai cinta akhir minggu ini?

Redaksi

Komentar

News Update