Konawe Utara

Petani Mowundo Panen 110 Kilogram Cabai Hasil Pendampingan PT Antam

KONAWE UTARA, DETIKSULTRA.COM – Berawal dari menanam sayuran di pekarangan rumah, Ibnu Hajar kini berhasil mengembangkan usaha pertanian cabai merah di lahan seluas 1.500 meter persegi di Desa Mowundo, Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara.

Melalui Program Mandiri Pangan PT Antam (Persero) Tbk UBPN Konawe Utara, Ibnu mendapat pendampingan budidaya sekaligus dukungan sarana pertanian berupa cultivator untuk membantu pengolahan lahan.

Hingga panen ke empat pada 20 Oktober 2026, kebun cabai yang dikelolanya telah menghasilkan sekitar 110 kilogram. Hasil tersebut menjadi perkembangan positif bagi Ibnu yang sebelumnya sempat mengalami kegagalan saat membudidayakan cabai di lahan yang lebih luas.

Sebelum mengembangkan kebun cabai, Ibnu memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam berbagai jenis sayuran. Hasilnya tidak hanya memenuhi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga dijual kepada masyarakat sekitar.

Penjualan sayuran bahkan menarik minat ibu rumah tangga hingga pengelola katering. Berbekal pengalaman tersebut, Ibnu kemudian memberanikan diri memperluas usaha pertaniannya.

Ia membuka lahan dengan kemiringan cukup curam, sekitar 45 derajat, untuk menanam cabai merah keriting varietas Laba F1 dan cabai merah besar. Sebanyak 1.700 lubang tanam disiapkan, meski sekitar 20 tanaman mati akibat cuaca panas dan kemarau.

Tantangan yang dihadapi tidak hanya soal kondisi lahan dan cuaca. Sebelum mengikuti Program Mandiri Pangan, Ibnu mengaku masih kesulitan menangani hama, penyakit, serta memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Kondisi tersebut membuat hasil budidayanya belum optimal.

Melalui pendampingan program, ia mulai memperbaiki teknik budidaya, menambah pengetahuan, dan bertukar pengalaman dengan petani lain. Kegagalan sebelumnya menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan hasil panen.

“Jangan langsung melihat dari hasil, jangan tanya hasil panennya, coba tanya prosesnya, mulai dari cabai yang gagal terkena hama dan lain-lain. Kebanyakan orang hanya melihat hasil akhirnya, padahal ada proses yang dilalui. Menurut saya, yang dibutuhkan itu ketekunan dan kesabaran,” ungkap Ibnu.

Selain pendampingan, keberadaan cultivator yang diberikan Antam kepada Ibnu bersama kelompok taninya turut membantu mempercepat pekerjaan di kebun.

Sebelumnya, pengolahan lahan berukuran 50×30 meter secara manual membutuhkan waktu sekitar tujuh hingga sepuluh hari. Setelah menggunakan cultivator, pekerjaan tersebut dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua hari, sebelum dilanjutkan dengan pembuatan bedengan.

“Kalau menggunakan tenaga manual, kami harus mencangkul dalam dan membutuhkan beberapa orang. Biayanya juga cukup besar karena harus membayar tenaga kerja harian. Setelah ada cultivator, pekerjaan menjadi lebih cepat dan tenaga yang dikeluarkan tidak sebanyak sebelumnya,” jelasnya.

Setelah pengolahan lahan, Ibnu melanjutkan proses budidaya dengan membuat bedengan dan saluran drainase, melakukan pemupukan awal, serta memasang mulsa. Keterbatasan air di bagian atas lahan juga diatasi dengan memanfaatkan air sungai di dekat kebun menggunakan selang.

Upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Dari empat kali panen, Ibnu mencatat produksi enam kilogram pada panen pertama, 25 kilogram pada panen kedua, 40 kilogram pada panen ketiga, dan 39 kilogram pada panen keempat.

Sejak pembukaan lahan hingga panen pertama, ia membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan.

Hasil panen itu pun telah memiliki pasar. Sebagian cabai dipesan oleh katering perusahaan di sekitar wilayah tersebut, sementara sisanya dijual kepada pedagang dan pembeli langsung.

Pemasarannya bahkan menjangkau pembeli dari luar Desa Mowundo, termasuk wilayah Asera dan Lasolo. Ibnu juga memanfaatkan WhatsApp untuk membagikan informasi hasil panen sehingga calon pembeli lebih mudah mengetahui ketersediaan cabai yang dijualnya.

Menurutnya, peluang usaha pertanian masih terbuka lebar karena kebutuhan cabai dan sayuran di masyarakat belum sepenuhnya terpenuhi oleh produksi petani lokal.

“Selama saya mengamati, kebutuhan konsumen masih lebih besar dibandingkan kemampuan produsen untuk memenuhinya. Saya optimistis, selama masyarakat mendapatkan edukasi pertanian dan mau belajar, peluang ini bisa dikembangkan,” tuturnya.

Ke depan, Ibnu berharap pendampingan Program Mandiri Pangan terus berlanjut agar semakin banyak masyarakat memiliki kesempatan mengembangkan usaha pertanian. Ia juga bercita-cita menjadikan Desa Mowundo sebagai salah satu sentra produksi pangan dan sayuran di Kecamatan Molawe.

Ia bahkan bersedia berbagi pengalaman dengan warga lain yang ingin belajar bertani, termasuk masyarakat yang belum tergabung dalam program tersebut.

Sementara itu, Southeast Sulawesi Region CSR ER Sub Division Head PT Antam Tbk, Muhammad Rusdan, mengapresiasi ketekunan Ibnu bersama kelompok taninya dalam mengembangkan usaha pertanian.

Menurutnya, keberhasilan pemberdayaan masyarakat tidak hanya bergantung pada bantuan sarana, tetapi juga pada kemauan masyarakat untuk belajar dan mengelola potensi lokal secara mandiri.

“Antam hadir sebagai pendukung melalui penyediaan sarana dan pendampingan, sementara masyarakat menjadi pelaku utama dalam mengembangkan usahanya. Kami berharap semangat Pak Ibnu dapat menginspirasi masyarakat lainnya untuk terus belajar, mengembangkan potensi pertanian, dan membangun kemandirian,” ujar Rusdan.

Ia menegaskan, Antam berkomitmen mendukung peningkatan kapasitas petani dan kelompok tani melalui pendampingan berkelanjutan. Upaya ini diharapkan dapat memperluas manfaat Program Mandiri Pangan sekaligus mendorong kemandirian pangan masyarakat.

Antam juga berharap Desa Mowundo dapat berkembang menjadi sentra pangan dan sayuran di Kecamatan Molawe, sehingga potensi pertanian lokal mampu memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat. (cds)

Reporter: Septiana Syam
Editor: Wulan

Facebook Komentar
DetikSultra

This website uses cookies.