Metro Kendari

Pengusaha Muslim di Sultra Ungkap Bahaya Proyek OBOR Cina

S P E A K

KENDARI, DETIKSULTRA.COM – Puluhan pengusaha muslim di Sultra bersepakat menolak proyek One Belt One Road (OBOR) Cina yang akan dijalankan di Indonesia. Penolakan tersebut disampaikan pada sharing bisnis yang dirangkaikan dengan buka puasa bersama di Hotel Zahra Kendari, Kamis (30/5/2019).

Kegiatan yang mengangkat tema tinjauan bisnis strategis dan hukum syara terhadap OBOR ini, menghadirkan berbagai pembicara lokal, diantaranya adalah Ketua Forum Pengusaha Muslim Sultra, Amrin Amrullah, Ketua Forum Usaha Kecil Menengah – Industri Kecil Menengah (FUKM-IKM) Sultra, Abdul Hakim, dan General Manager (GM) Mahmud Alhabsy.

Ketua Forum Pengusaha Muslim Sultra, Amrin Amrullah, untuk membangun proyek OBOR ini pemerintah Indonesia harus mengeluarkan biaya hingga triliunan rupiah, akibatnya pemerintah harus melakukan skema kebijakan yang mengancam eksistensi Negara, yaitu dengan menarik investasi asing dan melakukan utang luar negeri, khususnya kepada Cina.

“Investasi asing dan utang luar negeri merupakan skema penjajahan gaya baru untuk menguasai suatu negara yang baru berkembang yang memiliki potensi sumberdaya yang banyak, seperti Indonesia,” ucapnya.

Dimana, kata dia, investasi dan pinjaman utang dari Cina ini bukanlah bantuan yang diberikan begitu saja, tetapi ada persyaratan berupa jaminan dalam bentuk aset yang dimiliki oleh negara yang berutang.

Dari pinjaman tersebut, tambah dia, risiko terbesarnya adalah gagal bayar utang. Hal tersebut sudah banyak terjadi dibeberapa negara, seperti Zimbabwe yang gagal membayar utang kepada Cina, maka sejak 1 Januari 2016 lalu, mata uangnya harus diganti menjadi Yuan yang merupakan mata uang Cina.

Begitu juga Sri Lanka. Setelah tidak mampu membayar, akhirnya Pemerintah Sri Langka melepas Pelabuhan Hambatota kepada Cina. Tak ketinggalan Pakistan, pembangunan Gwadar Port bersama Cina dengan nilai investasi sebesar US $ 46 miliar harus rela dilepas.

Olehnya itu, Ia lanjutkan, utang luar negeri ini membuat negara pengutang tetap karena terus-menerus terjerat utang yang semakin menumpuk dari waktu ke waktu. Utang luar negeri pada dasarnya merupakan senjata politik negara-negara kafir terhadap negara-negara lain, yang lebih besar merupakan negeri-negeri Muslim, termasuk Indonesia.

“Walhasil, proyek OBOR wajib kita ditolak. Indonesia harus menjadi negara mandiri dengan harus berjuang menerapkan syariah Islam untuk semua aspek kehidupan masyarakat, khusus dalam pengelolaan ekonomi. Semua aspek kehidupan,” lanjutnya.

Senada dengan itu, GM Zahra Syariah Hotel Kendari, Mahmud Alhabsy mengungkapkan, apabila Cina menjalin kerjasama dengan menanamkan modal dan investasinya, maka dalam menjalankan proyek tersebut harus menggunakan tenaga kerja, bahan serta alat proyek dari Cina.

“Jadi inilah yang kita khawatirkan, karena bukan hanya modal dan investasnya yang masuk, tetapi juga sumberdaya mereka yang didatangkan Dan itu sudah terjadi belakangan ini,” ungkapnya.

Reporter: Fitrah Nugraha
Editor: Dahlan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button